PADEK.JAWAPOS.COM-Selain sebagai tempat ibadah, Masjid yang satu ini juga menyimpan segudang cerita/sejarah. Rumah ibadah ini bernama Masjid Jami’, terletak di Jorong Kapalokoto, Nagari Padangsibusuk, Kecamatan Kupitan, Kabupaten Sijunjung.
Di bagian kubah terdapat tempat kumandang Adzan, dan jalan utamanya dilengkapi anak tangga sebanyak Asmaul Husna, 99.
Subhanallah. Kita bisa menyebut Asmaul Husna saat menapaki anak tangga menuju Masjid Jami’, karena berjumlah 99.
Saraya dituntut berpandai-pandai mengatur nafas agar tak sesak, sebelum akhirnya sampai di depan masjid tertua kebanggaan masyarakat Padangsibusuk tersebut. Masyarakat setempat juga menamainya dengan sebutan Masjid Saratuih Janjang, di sisi kanan tangga dilengkapi besi penyangga tempat pegangan.
Sepintas, tingkat kemiringannya memang terlihat relatif curam, hingga setiap orang yang melewatinya perlu ekstra berhati-hati.
Gedung masjid Jami’ terasa punya aura tersendiri, bahkan tak jarang masyarakat setempat menganggapnya sakral, berhawa sejuk.
Uniknya, di bawah masjid terdapat mata air yang tak pernah kering. Untuk kenyamanan para jamaah, bangunan masjid selalu diperbaiki setiap tahun hingga kian tampak gagah, indah. Bagian lantai telah berkeramik, dan lingkungannya tampak bersih.
Muhammad Haskil, 51, selaku pengurus Masjid Jami’, mengungkapkan, Masjid Jami’ adalah masjid lama, konon awalnya dibangun di atas sebuah mata air (jernih). Sekitar tahun 1930-an sudah mengalami proses renovasi total, dari sebelumnya berupa bangunan kayu beratap ijuk menjadi bangunan beton dua lantai.
Begitu seterusnya, terus disempurnakan. “Bangunan asli Masjid Jami’ kini hanya tinggal tonggak bagian bawah (penyangga) sekitar sepuluh buah. Selebihnya sudah mengalami renovasi,” ujarnya.
Dikisahkannya, dulu ada tangga melingkar pada bagian tiang utama menuju ruang dalam kubah, berfungsi sebagai tempat kumandang Adzan. Namun sejak ada mic dan toa (alat pengeras suara) ruang itu tidak difungsikan lagi. Seiring waktu kemudian dihilangkan hingga tinggal atap dan kubah saja.
Jamaah Masjid Jami’ terdiri dari berbagai aliran, seperti Tarbiyah Islamiyah, NU, Muhammadiyah, serta Tarekat. Nama masjid ini tersohor lantaran memiliki seorang ulama besar, bernama H. Jainudin sekitar tahun 1960-an, sekakigus beliau bertindak sebagai Imam masjid.
Selanjutnya kaderisasi Imam masjid berlangsung sesuai kemufakatan warga. Ruang dalam berukuran 22 x 22 meter. Tonggak-tonggak di lantai bawah diukir kaligrafi nama empat khalifah Rasulullah, Syaidina Ali Bin Abi Thalib, Umar Bin Khatab, Utsman Bin Afan, Abu Bakar As Siddiq, serta empat mazhab.
Selama bertahun-tahun Masjid Jami’ Padangsibusuk tak semata-mata difungsikan sebagai tempat ibadah. Namun juga sebagai ruang sosio-kultural masyarakat.
Bahkan, menurut manuskrip Perjuangan Anak Nagari Padang Sibusuk dalam merintis dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang disusun oleh N. Sutan Makmur, disebutkan, bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diumumkan di Masjid Jami’ dalam sebuah ceramah pada Kamis malam, 23 Agustus 1945.
Kemudian dikibarkan bendera merah putih oleh masyarakat di pasar Padang Sibusuk pada Sabtu pagi, 25 Agustus 1945. Mereka melakukan itu tanpa takut, meski diawasi oleh tentara Jepang yang telah kalah dalam Perang Dunia II.
Padangsibusuk merupakan salah satu nagari pelopor perlawanan Serikat Islam Merah 1926/1927 terhadap kolonial Belanda di Sawahlunto. Mereka yang terlibat dalam perlawanan itu diangkat sebagai Perintis Kemerdekaan Indonesia oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960.
Dalam buku dari pemberontakan ke Integrasi, Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 karya Audrey Kahin (YOI, 2005), disebutkan bahwa perlawanan Serikat Islam Merah 1926/1927 menewaskan Letnan Simon (Belanda) di perlintasan rel kereta api di Padang Sibusuk.
Sutan Makmur dalam manuskripnya mencatat, komandan kompi tentara Belanda Letnan Simon itu tewas dalam pertempuran antara pasukan Belanda dari Van der Capellen (Batusangkar) dengan pasukan Front Timur (Padang Sibusuk dan Tanjung Ampalu) dibawah pimpinan M. Zein di Sililie, Padang Sibusuk, 1 Januari 1927.
Manuskrip itu ditulis oleh N. Sutan Makmur berdasarkan wawancara dengan para pelaku sejarah tersebut. Lazimnya masjid dan surau di Minangkabau adalah satu satu tempat musyawarah menyangkut hajat orang banyak. Dulu, juga merupakan bagian perlawanan terhadap kolonial.
Tentu Masjid Jami’ sebagai ruang publik, baik untuk beribadah maupun aktivitas sosio-kultural, memiliki peran pula dalam gerakan merintis kemerdekaan Indonesia itu.
Sebab perang melawan penjajahan diyakini umat Islam sebagai jihad. Kini, Masjid Jami’ Padang Sibusuk masih berdiri kokoh di atas mata air nan yang tak pernah kering ditimba dari zaman ke zaman.
Berhawa Sejuk
Tokoh masyarakat, Aska, 60, ketika berada di dalam “Rumah Allah” yang satu ini mengatakan, hawa sejuk begitu terasa. Tak heran selama Ramadhan di tiap tahunnya Masjid Jami’ menjadi pilihan segenap warga menunaikan salat tarawih berjamaah, maupun salat lima waktu. (YULICEF ANTHONY— Sijunjung)
Editor : Novitri Selvia