PADEK.JAWAPOS.COM-Sejak masih berumur 5 tahun Adelio Azire sudah berkeinginan untuk menghafal Al Quran. Kini dia sudah berusia 14 tahun dan hafal 6 juz ayat suci.
KARENA keinginan yang timbul dari diri sendiri itu, tidak ada penghalang bagi Adelio untuk terus belajar menghafal Al Quran. Kapan dan dimanapun walau hanya secara otodidak, baik di rumah maupun ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Berkat ketekunan itu, siswa kelas 8 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Pesisir Selatan itu, sudah hafiz Al Quran sebanyak 6 juz. Keinginannya untuk menjadi penghafal Al Quran itu karena pernah melihat anak yang buta di televisi. Tapi bisa menghafal Al Quran sampai 30 juz.
“Walau hanya belajar secara otodidak dengan bimbingan bunda di rumah setiap ada kesempatan. Ketika itu saya masih sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK),” kata anak dari Dezi Ari Habdi dan Retno Suci Wulandari ini.
Untuk bisa sampai pada hafalan 6 juz saat ini, memang butuh ketekunan dan juga kedisiplinan. Ini ditanamka kedua orang tuanya. Setiap hari dia selalu berupaya memiliki hafalan baru untuk disetorkan kepada bunda setelah Magrib atau Isya.
“Sebab saya punya target hafalan hingga 30 juz. Pola atau tahapan yang dilakukan berawal dari menghafal juz 30, lalu juz 29, 1, 2, 3, dan juz 4. Itu dilakukan baik di rumah maupun di sekolah. Sebab di sekolah memang ada program hafiz Quran,” jelas warga Komplek Bungo Pasang Asri Blok 10, Nagari Bungo Pasang, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) tersebut.
Sama dengan penghafal Al Quran lainnya, keinginan untuk menjadi hafidz itu memang ingin memasangkan mahkota dan menyelamatkan kedua orang tua dari siksa api neraka.
“Hafiz Quran memiliki satu kemuliaan yang diberikan oleh Allah SWT di hari kiamat nanti, yakni bisa menyelamatkan kedua orang tua dari siksa api neraka. Karena itu saya akan terus belajar secara tekun, dan siap menjalankan segala kedisiplinan yang diterapkan guru, serta kedua orang tua saat berada di rumah,” ungkap penyuka ayam goreng ini.
Ditambahkan Adelio, bila berada di rumah biasanya, kalau tidak mengulangi hafalan lama dan menambah hafalan baru, di isi dengan membaca buku-buku sejarah yang disediakan bunda.
“Sebab dengan membaca buku-buku sejarah itu, kita akan memiliki banyak pengetahuan, serta menghargai apa yang sudah kita nikmati saat ini. Sebab tidak mudah memang untuk bisa menjadi saat ini, tanpa perjuangan yang dilakukan oleh para pendahulu kita di masa lalu,” ungkapnya.
Berbagai ilmu dan pengetahuan yang dia dapatkan, selalu disampaikan dan diceritakan kepada kedua orang tuanya. “Sebab saya memang suka bercerita dengan kedua orang tua. Setiap mendapatkan pengalaman baru, baik yang didapat di sekolah, teman, maupun dari berbagai buku yang saya baca,” ujarnya.
Hal itu diakui Retno Suci Wulandari. Kepada Padang Ekspres Senin (17/3) lalu dia bercerita, Adelio Azire, mulai menghafal Al Quran sejak berumur 5 tahun secara otodidak.
“Jadi belajar menghafal Al Quran ini bukan melalui Rumah Tahfidz sebagaimana kebanyakkan teman-temanya. Namun secara otodidak dengan didukung audio speaker murottal Quran setiap hari menjelang tidur,” katanya.
Karena keinginan yang tinggi sebagai hafidz itu, Adelio memiliki kesepakatan dengannya agar setiap hari melakukan setoran ayat-ayat yang sudah hafal. Setoran hafalan itu disesuaikan dengan kondisi di rumah.
Kadang tiap hari. Kadang juga ada satu kali dalam dua hari. “Sebab di sekolah anak saya ini memang ikut program tahfiz juga,” jelasnya.
Sejak kecil, sambung dia, Adelio memang bisa dikatakan anak yang tergolong memiliki keingintahuan yang sangat tinggi. Sebab setiap melihat hal-hal yang baru, dia akan gigih bertanya sampai yang dijelaskan itu bisa dimengerti.
Makanya sejak masih SD hingga saat ini dia selalu menjadi juara di kelasnya. Seiring bertambahnya usia, Adelio menjadi anak yang suka membaca dan juga dekat dengan Al Quran, dengan menerapkan mengaji dua kali dalam sehari.
“Khusus Ramadhan ini, membaca Al Qurannya wajib 1 juz dalam sehari. Kemudian melakukan hafalan setelah Shalat Subuh hingga waktu Dhuha. Lalu dilanjutkan dengan mengerjakan tugas dari sekolah pada siang hingga sore,” terang Retno.
Setiap hari dia juga melibatkan anaknya dengan kegiatan ibadah. Karena ibadah itu kewajiban dan kebutuhan setiap individu serta mengajarkan anak tentang baik dan buruknya lingkungan luar.
“Sekarang Adelio menjadi anak yang memiliki akhlak yang baik dalam keseharian. Bahkan dengan memiliki banyak pengetahuan dan hafidz Quran ini, dia memberikan banyak masukan kepada saya sebagai orang tuanya,” tukas Retno. (YONI SYAFRIZAL—Pesisir)
Editor : Novitri Selvia