Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Warga Binaan Lapas Tanjung Pati Ikuti Ujian Kesetaraan: Bangkit Lewat Pendidikan, Harapan Baru Dibalik Jeruji

Syamsu Ridwan • Selasa, 22 April 2025 | 21:00 WIB

PUNYA IMPIAN: Enam warga binaan Lapas Kelas II B Tanjung Pati serius mengikuti Ujian Kesetaraan Paket C yang setara dengan SMA. (SY RIDWAN/PADEK)
PUNYA IMPIAN: Enam warga binaan Lapas Kelas II B Tanjung Pati serius mengikuti Ujian Kesetaraan Paket C yang setara dengan SMA. (SY RIDWAN/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Di balik rutinitas yang kaku dan dinding tinggi Lapas Kelas II B Tanjung Pati, Payakumbuh, terselip secercah harapan. Siang itu, suasana berbeda tampak di ruang belajar sementara yang disulap menjadi ruang ujian.

Enam warga binaan tengah serius mengerjakan soal-soal Ujian Kesetaraan Paket C, yang setara dengan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

SENIN (21/4), sekitar pukul 14.00, Padang Ekspres tiba di Lapas Kelas II B Tanjung Pati. Kami disambut petugas lapas dan diminta mengenakan kartu identitas tamu sebelum masuk lebih dalam ke area inti.

Prosedur ketat pengamanan dilalui. Beberapa petugas berjaga di pintu-pintu utama, mengarahkan kami menuju lokasi ujian yang tidak jauh dari gerbang masuk.

Di ruangan tersebut, sejumlah warga binaan tampak tekun mengisi lembar jawaban. Dua orang guru bertugas mengawasi jalannya ujian. Menariknya, para peserta mengenakan seragam sekolah, seolah membawa kembali suasana kelas formal ke dalam tembok penjara yang sunyi.

Kepala Lapas Kelas II B Tanjung Pati, Julius Barus, melalui Kepala Seksi Pembinaan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik), Taufiqurrahman, menjelaskan bahwa ujian kesetaraan ini merupakan bagian dari program rutin tahunan. Tahun ini, enam warga binaan tercatat sebagai peserta Paket C.

“Adapun peserta ujian Paket C tahun ini di Lapas Kelas II Tanjung Pati di Payakumbuh berjumlah sebanyak enam orang,” jelas Taufiq kepada Padang Ekspres.

Namun pendidikan tak berhenti di tingkat SMA. Lapas Tanjung Pati juga akan memfasilitasi ujian kesetaraan untuk jenjang Sekolah Dasar (Paket A) dan Sekolah Menengah Pertama (Paket B).

“Ujian bagi delapan peserta Paket A dan Paket B ini diperkirakan akan dilaksanakan pada bulan Mei mendatang,” lanjutnya.

Program ini sejatinya bukan hal baru di Lapas Tanjung Pati. Setiap tahun, sejumlah warga binaan berhasil menuntaskan pendidikan mereka, mulai dari Paket A hingga C.

Data tahun 2025 menunjukkan, enam warga binaan telah dinyatakan lulus ujian Paket C. Jumlah ini melengkapi capaian tahun sebelumnya, di mana delapan orang lulus dari Paket C serta lima lainnya lulus dari Paket A dan B.

Taufiq menekankan bahwa pendidikan menjadi salah satu program utama pembinaan warga binaan. Di balik dinding-dinding lapas, semangat untuk masa depan yang lebih baik tetap menyala.

“Harapan terbesar mereka adalah bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, ada beberapa yang mengajukan keinginan untuk kuliah,” ungkapnya.

Ijazah yang didapat dari program ini menjadi bekal penting untuk kehidupan pasca-penahanan. Para warga binaan berharap, dengan pendidikan yang dimiliki, mereka dapat memperoleh pekerjaan yang layak saat kembali ke masyarakat.

“Sehingga apabila keluar nanti, mereka punya bekal yang bisa digunakan untuk bersaing secara positif di luar sana,” tambah Taufiq, menyampaikan aspirasi para narapidana.

Namun pelaksanaan pendidikan di Lapas bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan ruang belajar.
Proses belajar mengajar kerap dilakukan di aula atau mushala karena tidak adanya ruang kelas permanen.

“Meski dengan segala keterbatasan fisik, program pendidikan kesetaraan ini tetap berjalan berkat dukungan penuh dari berbagai pihak,” ujar Taufiq.

Untuk menunjang proses belajar, Lapas Tanjung Pati bekerja sama dengan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Payakumbuh. Para pengajar dari SKB datang secara rutin, didukung pula oleh Dinas Pendidikan setempat.

“Untuk saat ini, kegiatan belajar paket bisa terlaksana dengan baik karena kami dibantu juga oleh Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh,” tambahnya.

Program pendidikan kesetaraan di Lapas Tanjung Pati adalah cermin bahwa sistem pemasyarakatan tidak hanya bertugas membatasi kebebasan, tetapi juga memberikan kesempatan kedua.

Pendidikan menjadi medium pembinaan mental dan intelektual, serta bagian dari proses rehabilitasi yang utuh. “Ini adalah investasi jangka panjang untuk mengurangi residivisme dan membangun kembali harapan bagi mereka yang pernah tersandung,” tutup Taufiq.

Dari balik jeruji, langkah-langkah kecil penuh harapan terus diayunkan. Pendidikan membuka jalan baru bagi warga binaan untuk bangkit, memperbaiki diri, dan menyongsong masa depan dengan kepala tegak. (SY RIDWAN— Payakumbuh)

Editor : Novitri Selvia
#Lapas Tanjung Pati #ujian kesetaraan #warga binaan