Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Uni Mida, dari Rumah Menjangkau Dunia dan Kisah Cinta Masakan Minang:  Tak hanya soal Takaran, Sisipkan Kenangan serta Filosofi

Silvina Fadhilah • Kamis, 24 April 2025 | 12:30 WIB

KONTEN KULINER: Ratu Deslim akrab disapa Ni Mida, saat membuat konten untuk sejumlah akun media sosialnya beberapa waktu lalu.(DOKUMENTASI PRIBADI)
KONTEN KULINER: Ratu Deslim akrab disapa Ni Mida, saat membuat konten untuk sejumlah akun media sosialnya beberapa waktu lalu.(DOKUMENTASI PRIBADI)

PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah maraknya kreator digital dengan beragam konten, hadir sosok Ratu Deslim atau yang akrab disapa Ni Mida di sosial media. Seorang perempuan Minang yang memilih jalur berbeda dalam dunia maya.

LEWAT akun media sosialnya, Uni Mida tak hanya menyuguhkan ragam masakan khas Minangkabau. Tapi juga menghadirkan narasi tentang kehidupan perempuan dalam balutan adat dan budaya.

Bukan sekadar konten kuliner, melainkan kisah cinta pada akar budaya yang kini pelan-pelan mulai terlupakan. Silakan kunjungi Youtube Chanel-nya RatuDeslima89, Ratudesli (Instagram) dan TikTok RatuDeslima89.

Dia awalnya iseng-iseng saja. Waktu itu bulan puasa  duduk di ruang tamunya yang sederhana, dikelilingi piring-piring saji dan alat masak khas rumah Minang.

Biasanya konten yang dia buat cuma dialog lucu-lucu, pakai logat Korea segala. Terus tiba-tiba bikin video masak kue arai pinang dan ternyata mendapat respons luar biasa.

Konten Ni Mida bukan sekadar menunjukkan resep. Tetapi juga proses yang membawa kenangan banyak orang pada masa kecil. Pada suasana rumah gadang, dan pada ibu atau nenek yang dahulu rajin membuat kue serupa.

Yang membuat konten itu Istimewa adalah pemilihan nama dan bahan. Kue arai pinang, yang memang dicetak menggunakan lempengan dari batang pinang.

“Awak kiro itu cuman namo doang. Ternyata memang pakai arai pinang yang asli. Itu yang bikin orang Minang senang dan merasa dekat,” ujar Uni Mida kepada Padang Ekspres baru-baru ini.

Sejak saat itu, Uni Mida mulai konsisten membuat konten memasak masakan Minang. Ia memilih jalan yang membumi: dapur. Dan dari dapur inilah ia memperkenalkan kembali identitas budaya Minang yang kental lewat aroma rempah, cita rasa gurih, serta proses yang sarat makna.

Setiap video yang dibuat Uni Mida bukan hanya soal takaran dan bahan. Ia menyisipkan cerita, kenangan, serta filosofi di balik masakan tersebut. Dari rendang yang membutuhkan waktu berjam-jam, hingga kue basah yang hanya dibuat saat hajatan besar. Semua punya nilai lebih dari sekadar rasa.

“Sambutan netizen luar biasa. Terutama dari perantauan. Banyak yang bilang, mereka sudah lupa bagaimana bikin masakan tertentu. Lupa bahan, lupa bumbu. Konten ini jadi semacam pengingat,” jelas dia.

Bagi banyak perantau Minang, konten Uni Mida menjadi pelipur rindu. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan mereka kembali pada rumah dan kampung halaman. Bahkan banyak dari mereka yang kemudian mencoba kembali resep-resep tersebut, agar bisa diteruskan pada anak-anak mereka.

“Kalau tidak diperkenalkan lagi, nanti masakan Sumbar bisa hilang. Anak cucu kita tidak tahu bagaimana membuatnya. Ini bukan hanya tentang makanan, tapi tentang warisan,” tegas Uni Mida.

Dalam setiap narasinya, Uni Mida selalu menekankan bahwa masak bukan sekadar pekerjaan rumah tangga. Lebih dari itu, ia adalah bentuk cinta, bentuk pelestarian, dan bentuk tanggung jawab kultural. Dan di situlah, menurutnya, perempuan Minang punya peran istimewa.

“Perempuan Minang itu punya kedudukan tinggi. Kita ini pakai sistem matrilineal. Jadi perempuanlah yang menjaga harta, menjaga nama baik, menjaga keluarga,” jelasnya.

Maka dari itu, menurut Uni Mida, sudah seharusnya perempuan Minang pandai memasak. Bukan karena harus mengurus dapur semata, tapi karena dari dapur itulah budaya diwariskan. “Masakan itu identitas. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” jelasnya.

Ia juga menyebut, meskipun seseorang bisa makan di restoran atau membeli makanan siap saji, masakan dari tangan sendiri punya rasa dan makna yang berbeda. “Kalau masakan awak surang, rasanya itu lain. Beda. Lebih berasa sayangnya,” ungkap dia.

Uni Mida tidak pernah menyangka bahwa konten masaknya akan membawa dampak sedalam itu. Kini, ia bahkan diundang ke berbagai kegiatan UMKM dan budaya, menjadi narasumber tentang kuliner Minang dan peran perempuan.

Namun di balik semua itu, ia tetap menjunjung filosofi, berkarya tanpa meninggalkan akar. “Harapan Uni, perempuan Minang bisa jadi seperti Kartini. Punya kekuatan, tidak berpangku tangan, tapi tetap tahu marwah dan adat. Tetap tahu bahwa kita ini punya dasar, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” tuturnya.

Ia menolak anggapan bahwa perempuan yang kuat harus melawan tradisi. Justru menurutnya, perempuan Minang bisa menjadi kuat karena berdiri di atas adat yang menghargainya.

“Perempuan Minang itu bisa. Bisa berkarya, bisa menjaga keluarga, bisa menjaga budaya. Dan yang paling penting, bisa menerangi, seperti Kartini bilang: habis gelap terbitlah terang,” kata Uni Mida

Yang menarik, Uni Mida memproduksi semua kontennya dari rumah. Ia tidak memiliki tim produksi besar, tidak juga memakai studio mahal. Dapur di rumahnya adalah panggung utama, dan tangannya sendiri yang memegang kamera serta mengedit video.

Ia percaya bahwa kreativitas tidak harus menunggu fasilitas. “Yang penting niat dan konsisten. Orang akan lihat ketulusan. Dan masakan yang dimasak dengan hati, pasti sampai juga ke hati orang,” ucapnya.

Uni Mida juga selalu melibatkan anggota keluarganya dalam proses syuting. Kadang suami yang memegang kamera, atau anak yang mencicipi makanan.

Itu semua membuat kontennya terasa hangat dan nyata, bukan sekadar tontonan tetapi pengalaman. “Dari rumah, kita bisa menjangkau dunia. Itu yang Uni rasakan sekarang,” ujarnya.

Ia katakan bahwa juga terbuka untuk mengangkat masakan-masakan yang mulai jarang dikenal. “Untuk masakan Minang kalau bisa telah kita lestarikan masakan-masakan khas Minang, supaya anak cucu kita tidak lupa. Jadi bisa mewariskan masakan-masakan sumbar hingga ke anak cucu,” kata dia.

Ia mengatakan bahwa perempuan muda Minang harus pandai memasak. Familiar dengan bahan-bahan masakan dan resep-resepnya.

“Jadi memperkenalkan keluar, tidak hanya yang tua-tua gini, besok yang ketika  anak cucu kita bisa meneruskan masakan-masakan sumbar tersebut. Di wilayah sumbar maupun di luar sumbar,” jelasnya.

Ia juga ingin agar dapur Minang bisa masuk ke sekolah-sekolah. “Kita punya warisan hebat. Jangan sampai kalah sama budaya luar yang masuk lewat makanan. Jadilah Kartini Minang. Yang tahu adat, tahu nilai, tapi tetap semangat untuk berkarya. Jangan berpangku tangan, jangan lemah, dan jangan pernah malu jadi perempuan Minang. Kita bisa. Kita hebat,” tuturnya.

Ia menambahkan, perempuan Minang itu harus jaga marwah, kuat, tangguh, terus berkreativitas. “Karena kalau bukan kita yang angkat budaya kita, siapa lagi?” terang dia. (SILVINA FADHILAH
—Padang)

Editor : Novitri Selvia
#Kisah Cinta Masakan Minang #Uni Mida #Ratu Deslim #konten kreator