PADEK.JAWAPOS.COM-Umumnya, seni tradisi hidup dalam waktu yang panjang di tengah masyarakatnya. Bahkan penciptanya pun terkadang tidak diketahui.
Tapi bagi koreografer dunia dan pimpinan Nan Jombang Dance Company Ery Mefri, cukup sebuah karya menjadi tradisi ketika lahir dari akar dan hidup di tengah-tengah masyarakatnya.
TARI Tanun yang mulai ia garap sejak tahun 2004 dan Tari Layuak Batoboh sepuluh tahun kemudian, posisinya di tengah-tengah masyarakat Kota Sawahlunto terus diperkuat.
Sebagai tari tradisi yang berangkat dari sistem pertanian masyarakat Kolok di Kecamatan Barangin dan tradisi tanun masyarakat Lunto di Kecamatan Lembahsegar.
Padang Ekspres untuk pertama kalinya menyaksikan dua tari tersebut di Taman Budaya Sumbar pada Sabtu (12/4) malam. Dibawakan Sanggar Canang Badantiang, Kota Sawahlunto, pada gelaran Kaba Festival X 2025 Nan Balega yang diselenggarakan Nan Jombang Dance Company.
Khusus Tari Tanun, setelah penyerahan resmi dari Ery Mefri ke Pemko Sawahlunto, pemerintah setempat membuat rekaman audio musiknya pada tahun 2010.
Lalu dibagikan kepada peserta pelatihan yang diikuti para pelatih sanggar dan guru kesenian sekolah SLTP dan SLTA. Kemudian dilaksanakan lomba atau festival Tari Tanun.
Tahun 2017 pelatihan kembali dilaksanakan. Muaranya, penampilan Tari Tanun massal pada pembukaan Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival (SISSCa).
Penarinya siswi sekolah dasar. Tahun 2024 kembali dilakukan pelatihan tari tersebut untuk siswi SLTP se-Sawahlunto yang kemudian ditampilkan pada saat Galanggang Arang di Kota Sawahlunto.
“Hal yang sama juga dilakukan pada Tari Layuak Batoboh. Saya lupa detail tahunnya, tapi tak semasif Tari Tanun,” sebut Kepala Bidang Kesenian, Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan Sawahlunto Syukri kepada Padang Ekspres, Sabtu (26/4).
Kondisi saat ini, sambungnya, memang belum memasyarakat. Sekolah-sekolah dan sanggar cenderung menampilkan karya-karya baru karena mungkin dipersiapkan untuk lomba FLS2N.
Penyebab lainnya, kebutuhan panggung apresiasi. Dari evaluasi setelah pelatihan, jelas dia, lebih banyak Tari Tanun. Misalnya promosi daerah, lebih kuat narasi tanun dan songket dibanding layuak batoboh.
Di antaranya, event SISSCa yang rutin setiap tahun, secara tak langsung menyediakan wadah apresiasi untuk karya-karya yang berangkat dari tanun dan songket.
Untuk Tari Layuak Batoboh pernah dilaksanakan pelatihan massal untuk siswi SLTP dan SLTA di Kolok. Kemudian ditampilkan pada acara pembukaan MTQ tingkat kecamatan.
“Kalau tidak salah tahun 2018. Dengan harapan setelah kegiatan tersebut, siswi-siswi bisa melanjutkan pelestarian Tari Layuak Batoboh,” tutur alumni ISI Padangpanjang tersebut.
Saat ini, kedua tari itu telah tercatat sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) di Dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Dan ke depan, kata Syukri, telah ada langkah yang diancang-ancang untuk memperkuat keberadaan tari-tari ini di tengah-tengah masyarakat.
Salah satunya berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan setempat agar bisa mengakses program Gerakan Seniman Masuk Sekolah. Senimannya dari para penari telah menguasai dua tari itu. “Tapi koordinasi lebih lanjut belum ada dengan Dinas Pendidikan. Mungkin di waktu yang akan datang,” sebutnya.
Seniman-seniman yang telah menguasai tari tersebut ada di sejumlah sanggar di Kota Sawahlunto. Selain Sanggar Canang Badantiang, ada juga Sanggar Galang Maimbau, Sanggar Parmato Hitam dan Sanggar Malakutan Bunian.
Sanggar Parmato Hitam merupakan pewaris pertama yang membawakan Tari Tanun. Mereka pernah tampil di Parade Tari Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dan dapat kategori Penyaji Terbaik.
Yuliarni salah satu seniman yang terlibat sejak awal dalam penggarapan Tari Tanun dan Tari Layuak Batoboh. Kini ia aktif di Sanggar Canang Badantiang sebagai koordinator Divisi Tari sekaligus pelatih tari.
Dia menilai, perkembangan tari tradisi itu cukup bagus di Sawahlunto. Bahkan Pemerintah Kota Sawahlunto bersama masyarakat, terutama sanggar-sanggar kesenian, berupaya untuk menjaga dan melestarikan kedua tari ini.
Di antaranya mengadakan pelatihan dengan sasarannya sekolah-sekolah mulai tingkat SD hingga SLTA, dan sanggar atau komunitas seni.
“Sanggar-sanggar seni dan sekolah-sekolah wajib tahu dan mengenal, serta dapat menarikan kedua tarian Kota Sawahlunto ini,” katanya, Minggu (27/4).
Sanggar Canang Badantiang menggelar latihan dua kali sepekan. Rentang usia anggotanya, lima tahun sampai mahasiswa. Bahkan ada yang sudah bekerja.
Dari beberapa tari yang rutin dilatih, Tari Tanun dan Tari Layuak Batoboh merupakan tarian wajib diketahui dan dipelajari anggota mereka. Intensitas latihan akan lebih dari biasanya dalam beberapa hari jelang jadwal pertunjukan.
“Dengan tari-tari itu kami pernah tampil di Kantor Pusat UNESCO di Paris. Utusan dari Pemko Sawahlunto. Kami juga tampil pada event keluar provinsi. Selain itu kami terkadang juga mengisi permintaan pemerintah kota yang kedatangan tamu-tamu penting,” ucapnya.
Sebagai seniman tari dan juga putra daerah, dia sangat berharap, kedua tari ini selalu hidup dan berkembang salamanya. Khususnya di masyarakat Sawahlunto. Karena ini tidak hanya bagian dari aset pemerintah daerah akan tetap juga milik masyarakat. (GANDA CIPTA—Padang)
Editor : Novitri Selvia