Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

”Salam Hormat” dari Dikha, Bocah Tukang Tari Perahu yang Menggoyang Dunia

Novitri Selvia • Senin, 7 Juli 2025 | 11:45 WIB

SEDOT PERHATIAN: Rayyan Arkhan Dikha setelah tampil dalam pacu jalur rayon II di Hulu Kuantan, Kuansing (22/6).(PENGURUS JALUR TUAH KORI DUBALANG RAJO)
SEDOT PERHATIAN: Rayyan Arkhan Dikha setelah tampil dalam pacu jalur rayon II di Hulu Kuantan, Kuansing (22/6).(PENGURUS JALUR TUAH KORI DUBALANG RAJO)

PADEK.JAWAPOS.COM-Rayyan Arkhan Dikha berhasil “mengajak” Neymar dan Travis Kelce menari berkat gemblengan latihan 3–4 kali sepekan di atas perahu melaju. Tak pernah keder meski beberapa kali tercebur sungai saat beraksi.

AYAHNYA memang atlet pacu jalur di posisi kemudi. Abangnya juga pernah jadi tukang onjai yang bertugas memberikan aba-aba agar jalur atau perahu tidak melenceng.

Namun, Rayyan Arkhan Dikha mempelajari secara otodidak semua gerakan tari di atas perahu yang melaju di arena pacu jalur yang belakangan melambungkan namanya. Mulai dari memutar-mutar dan mengipas-ngipaskan tangan, salam hormat, hingga gaya menodongkan pistol.

“Ndak pernah dilatih, cuma belajar sendiri dengan melihat-lihat TikTok, Instagram, YouTube, Facebook dan lainnya, lalu diperagakan saat latihan hingga perpacuan jalur di berbagai arena,” ujar tukang tari Jalur Tuah Kori Dubalang Rajo itu.

Dari Sungai Batang Kuantan, Kuantan Singingi (Kuansing), kabupaten yang berjarak sekitar 168 kilometer dari Pekanbaru, ibu kota Riau, aneka platform tempatnya belajar itu pula yang mengantarkan dengan cepat aksi Dikha dan para tukang tari atau coki lainnya ke penjuru dunia.

Neymar dan Bradley Bacola dari sepak bola, serta Travis Kelce dari American Football, dan segudang pembuat konten mereplikanya dalam beragam momen.

Per Kamis (3/7) malam pukul 21.00, akun TikTok klub juara Liga Champions Paris Saint-Germain (PSG) yang mengompilasi aksi para pemain dan eks pemain mereka berselebrasi plus coki yang menjadi inspirasi sudah ditonton 4,7 juta kali dengan 14,8 ribu komentar menyertai.

“Sudah saya lihat kemarin videonya di akun TikTok PSG. Rasanya senang sekali, bangga, dan tidak menyangka,” ujar buyung 10 tahun itu kepada Riau Pos (grup Padang Ekspres), didampingi sang ibu Rani Ridawati, di kediaman mereka di Desa Pintu Gobang Kari, Kuantan Tengah, Kuansing, pada Rabu (3/7).

Tahun ini pacu jalur, lomba perahu tradisional khas Kuansing, genap berusia 122 tahun sejak dikenal khalayak ramai pada 1903. Tiap perahu bisa diisi 53–57 orang, dengan tiga orang dalam posisi berdiri.

Ketiga orang yang berdiri itu adalah tukang tari, timbo ruang, dan tukang onjai (lihat grafis). Untuk edisi pacu jalur tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Kuantan Singingi membaginya dalam empat rayon. Puncaknya akan dilangsungkan di arena perpacuan Tepian Narosa, Teluk Kuantan, pada 20-24 Agustus mendatang.

Bagi warga kabupaten yang beribu kota di Teluk Kuantan itu, pacu jalur bukan sekadar acara adu pacu perahu belaka, tetapi juga simbol marwah desa karena perahu yang ikut lomba milik desa. Serta perlambang kekompakan, sportivitas, dan wadah silaturahmi.

Berminat Sedari Kecil Dikha sudah sedari kecil berminat menjadi coki. Dan, buyung yang baru naik kelas V SDN 013 Pintu Gobang Kori itu akhirnya bergabung dengan Jalur Tuah Kori Dubalang Rajo sejak dua tahun lalu.

Jadi, kalau melihat video Neymar melakukan aura farming—istilah generasi kiwari untuk menyebut tindakan seseorang yang dinilai keren atau karakter yang memiliki pesona keren—masih dengan kostum PSG, bisa jadi itu dilakukannya di tahun terakhirnya bersama klub Prancis tersebut. Yang selaras dengan tahun perdana Dikha menjadi tukang tari.

Meliuk-liukkan badan di atas perahu yang melaju jelas tak mudah. Risiko terjelasnya: tercebur sungai. Dan Dikha ternyata sudah mengalaminya beberapa kali. “Nggak cemas. Kalau jatuh ke sungai itu memang tergelincir dan hilang keseimbangan,” kata Dikha.

Coki biasanya diperankan anak-anak dengan maksud mengurangi berat beban di bagian depan jalur. Berbeda dengan tukang timbo ruang dan tukang onjai yang biasanya dilakoni orang dewasa. Meskipun belakangan kedua posisi tersebut juga diisi anak-anak yang masih duduk di SD sampai SMP.

Di musim pacu seperti sekarang ini, Dikha dan Dilla berlatih tiga–empat kali dalam sepekan. Dan di hari perlombaan, coki biasa mengenakan baju khas Melayu sesuai selera masing-masing.
Berkah Keterkenalan

Rani Ridawati, ibunda Dikha, mengaku senang dengan melambungnya nama sang anak. Dampaknya pun sudah mulai terasa.

Rani menyebut seorang donatur dari Bali mendonasikan Rp 5 juta untuk Dikha yang dikirimkan lewat seorang pembuat konten asal Kuansing pada Rabu (2/7) pekan lalu. “Mudah-mudahan ini membawa berkah pada Dikha dan jalur desa kami,” ungkapnya.

Pj Kepala Desa Pintu Gobang Kari Dadang Muttaqin juga menyebutkan, ramainya sorotan terhadap tarian Dikha di atas perahu juga mendorong Boat Dance Kita Group Jakarta menjadi sponsor perahu mereka. Nilainya sebesar Rp 20 juta.

“Viralnya Dikha juga jadi penyemangat anak-anak tukang tari lain,” kata Dadang. (*/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#sungai batang kuantan #Bocah Tukang Tari Perahu #kuantan singingi #Rayyan Arkhan Dikha