PADEK.JAWAPOS.COM-Gerakan ayah mengantarkan anak sekolah disambut antusias oleh sejumlah orang tua, terutama para ayah. Mereka datang bukan sekadar mengantar, tetapi juga memberi semangat, pelukan, dan rasa aman di awal mereka masuk sekolah.
PAGI kemarin (15/7), suasana di sejumlah sekolah di Kota Padang tampak berbeda dari biasanya. Gerbang-gerbang sekolah yang biasanya ramai oleh ibu-ibu, kali ini turut diwarnai kehadiran para ayah.
Satu diantara mereka Idra Folta, 38, yang sedang mendampingi putrinya yang baru masuk kelas 1 di MIN 3 Padang. Sesekali ia terlihat memeluk erat putrinya sebelum melepas langkah kecil sang buah hati ke ruang kelas.
“Ini momen spesial bagi saya. Anak saya, Brigit Hamima, baru masuk kelas 1. Saya ingin dia merasa ayahnya selalu hadir, setidaknya di awal perjalanan pendidikannya,” ujar Idra, sembari tersenyum.
Menurutnya, momen mengantar anak ke sekolah adalah simbol kehadiran dan keterlibatan ayah dalam pendidikan anak. Bukan sekadar simbolis, tapi juga pesan moral pendidikan adalah tanggung jawab bersama ayah dan ibu.
“Biasanya istri saya yang antar. Tapi hari ini, saya juga ikut mengantar. Saya ingin Brigit punya kenangan, bahwa saya ada di sana. Semoga kehadiran saya bisa menumbuhkan rasa percaya dirinya,” tutur Idra, yang berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah madrasah di Padang.
Idra tidak sendiri. Di sudut lain, seorang ayah terlihat sedang membenahi tas ransel putra kecilnya, Antariksa, 6. Dengan sabar, ia memastikan semua perlengkapan sekolah sudah lengkap sambil memberikan semangat kepada anaknya yang tampak gugup.
“Ini anak ketiga saya. Saya ingin hari ini menjadi momen spesial baginya,” katanya sambil tersenyum bangga.
Pemandangan serupa juga terlihat di MTsN 6 Padang. Eko Syaf, 40, seorang ayah tampak memeluk anaknya sebelum melepasnya masuk ke halaman sekolah. Ia mengaku ingin terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan anaknya.
“Biasanya istri yang urus semua. Tapi kali ini saya ingin hadir langsung,” ucap pria yang berprofesi sebagai driver online ini.
Sang anak Nadifa, 12, baru saja menamatkan pendidikan dasar, kini melangkah ke jenjang MTsN 6 Padang. Sebuah babak baru, di sekolah baru, lingkungan baru, dan tentu saja tantangan baru.
Ia mengaku sengaja mengambil waktu untuk mengantar sang anak ke sekolah. Baginya, ini sebagai bentuk dukungan moral di tengah peralihan sekolah yang dialami sang anak.
“Dulu saya antar dia ke MIN, sekarang saya temani lagi masuk MTsN. Lingkungan baru ini pasti butuh penyesuaian, jadi saya ingin dia tahu kalua dia tidak sendiri,” ungkap Eko, ketika melepas anaknya memasuki gerbang sekolah.
“Awalnya dia agak gugup. Lalu saya bilang, jangan takut, kamu harus semangat,” ucapnya sambil melambaikan tangan kepada putrinya.
Wako Ikut Antar Anak
Tak hanya masyarakat, Wali Kota Padang Fadly Amran juga turut mengantarkan putranya, Ashraf ke sekolah di hari pertama masuk, Senin (14/7).
Kehadiran Fadly Amran di SD Al Azhar, tempat anaknya menimba ilmu, menjadi simbol dukungan terhadap Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah yang digagas Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (Kemendukbangga/BKKBN).
Mengenakan pakaian dinas, Fadly tiba di kawasan Jalan Khatib Sulaiman bersama anaknya. Ia menyempatkan waktu mengantar Ashraf hingga ke dalam kelas dan menyapa para siswa dengan hangat.
“Setelah libur panjang, saya mengantar Ashraf ke sekolah. Biasanya ini lebih banyak dilakukan oleh ibu-ibu, tapi hari ini kenapa tidak, kita ikut terlibat langsung,” ujar Fadly.
Ashraf kini duduk di kelas III SD. Di depan ruang kelas, Fadly Amran mengucapkan salam dan menanyakan kabar seluruh siswa. “Apa kabar? Senang di hari pertama sekolah?” tanyanya. Anak-anak menjawab serempak dengan wajah ceria.
Fadly menyebut kehadiran orang tua, khususnya ayah, di hari pertama sekolah sangat penting sebagai bentuk dukungan moral kepada anak. “Ini pelajaran yang berharga bagi saya sebagai orang tua. Sesibuk apapun, peran ayah tak bisa digantikan,” ungkapnya.
Kepala SD Al Azhar Melia Mardi menyambut positif kehadiran wali kota dan mendukung penuh gerakan ini. Menurutnya, kehadiran orang tua, terutama di hari pertama sekolah, sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan semangat belajar anak.
“Pendidikan tidak akan berhasil hanya oleh sekolah saja. Peran ayah dan ibu tidak bisa tergantikan. Keterlibatan orang tua, terutama di awal masuk sekolah, sangat penting. Ini membangun kedekatan emosional anak dengan lingkungan barunya,” ujar Melia.
Menurutnya, sesibuk apapun, orang tua perlu meluangkan waktu untuk hadir, berkomunikasi dengan guru, dan memantau perkembangan anak secara langsung.
“Esensinya adalah melihat langsung kondisi anak di sekolah, lalu memahami apa yang harus dilakukan di rumah untuk mendukungnya,” ujar Melia.
Bangun Emosi Anak dan Ayah
Sementara itu, pengamat pendidikan UNP Dr Fitri Arsih mengungkapkan, gerakan ayah mengantar anak ke sekolah sebenarnya hal yang sangat positif sekali, terutama untuk membangun emosional anak dengan ayah.
“Mengantar anak ke sekolah memang terlihat sederhana tapi tidak semua ayah mampu melaksanakan itu karena kesibukan ayah mencari nafkah. Namun di saat ayah mau dam menyediakan sedikit waktunya untuk mengantar anak ke sekolah, ini akan membuat anak menjadi penuh semangat, merasa aman dan nyaman bersekolah,” ungkapnya.
Hal ini juga menunjukkan dukungan ayah dalam pendidikan akan membangun sosial emosional anak dan ini juga akan mempengaruhi prestasi anak. (ERI MARDINAL—Padang)
Editor : Novitri Selvia