Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perempuan Tangguh Peduli Pariwisata Ranah Minang, Rina Pengeran: Kelola Tiga Pangeran, Lanjutkan Cita-cita Ayah

Mhd Nazir Fahmi • Sabtu, 19 Juli 2025 | 19:47 WIB

Rina Pangeran bawa Hotel Pangeran jadi ikon lokal Sumbar-Riau.(Foto: Mhd Nazir Fahmi)
Rina Pangeran bawa Hotel Pangeran jadi ikon lokal Sumbar-Riau.(Foto: Mhd Nazir Fahmi)
PADEK..JAWAPOS.COM-Syafaruddin Datuak Pangeran, telah mengubah wajah pariwisata Ranah Minang. Dulu, alam yang indah, belum didukung fasilitas pendukung yang memadai. Karena rasa cinta dengan Sumatera Barat, Datuak Pangeran mendirikan tiga hotel bernama Pangeran. Dua di Padang dan satu di Kota Pekanbaru. Kini, semuanya berkembang pesat.

Laporan MHD NAZIR FAHMI-Padang

RINA Pangeran, inilah perempuan tangguh pelanjut cita-cita sang ayah tercinta. Tiga Pangeran, dikelolanya dengan sangat baik. Mempekerjakan ratusan orang, dan mengubah wajah pariwisata di Kota Padang ke arah kemajuan.

Ya, tiga Pangeran; Pangeran City di Jalan Dobi, Pangeran Beach di Jalan Ir H Juanda dan Pangeran di Jalan Sudirman Pekanbaru. Ketiganya hotel berbintang dengan ratusan kamar.

“Ya ya, kita hanya ada di dua lokasi. Untuk Sumatera Barat yang ada di Kota Padang. Ada Hotel Pangeran Beach dengan 180 kamar bintang empat. Kemudian Pangeran City, bintang tiga dan tersedia 100 kamar. Satu lagi ada di Pekanbaru Riau bintang empat juga dengan 250 kamar,” kata Rina, anak ke dua Syafaruddin Datuak Pangeran.

Rina bercerita awal mula sang papa (ayah, red) membangun hotel di Kota Padang. Pertama sekali dibangun Pangeran City tahun 1979. Mulai beroperasi tahun 1980.

Pada 10 tahun kemudian lahirlah Pangeran Beach. Dalam 10 tahun mengelola Pangeran City, menjadi pembelajaran sehingga bisa membangun Pangeran Beach.

“Tadinya berharap 10 tahun setelah itu bisa berdiri Pangeran Pekanbaru. Tapi karena kondisi resesi ekonomi saat itu, Hotel Pangeran Pekanbaru mundur mulai operasional di tahun 2000 an,” ungkap Rina.

Sebagai merek lokal dan tidak ada kerja sama dengan pihak lain, jelas Rina, Pangeran Grup berupaya terus menjadi yang terbaik dalam melayani tamu.

Berupaya terus menjaga imej orang luar terhadap Sumatera Barat. Hotel-hotel di sini, sangat tergantung kepada kegiatan-kegiatan pemerintah berupa rapat dinas kota kabupaten hingga kementerian.

“Banyak even-even nasional yang digelar dan mereka itulah yang sering mengisi hotel kita. Biasanya di akhir acara, para peserta rapat jalan-jalan mengunjungi berbagai destinasi wisata yang terdekat dari Kota Padang. Mereka belanja oleh-oleh untuk dibawa ke daerah asal dan semua memberikan pemasukan buat pemerintah daerah,” jelas Ketua PHRI Sumbar ini.

Namun kalau di Pekanbaru, ungkap Rina, berbeda jauh dengan hotel di Padang. Pekanbaru yang lebih kondusif ternyata sering oversupply tingkat hunian hotel.

Kegiatan pemerintahan juga ada, tapi yang banyak acara yang digelar oleh perusahaan-perusahaan swasta BUMN atau swasta murni. “Jadi tingkat hunian hotelnya cukup bagus,” terangnya.

Sebelum Covid 19, ungkapnya, tingkat hunian di Pekanbaru jauh lebih rendah daripada di Kota Padang. Karena saat itu ada isu habisnya cadangan minyak dan segala macam isu lainnya.

Sementara di sana sudah terlanjur banyak hotel. Saat itu sempat turun drastis hunian hotel. Tapi sekarang kondisinya terbalik dari Kota Padang.

Sebenarnya setelah Covid 19 itu, kondisi sangat baik, ungkap Rina, tapi karena kondisi di awal tahun 2025 ada kebijakan yang pengetatan anggaran, industri perhotelan se Indonesia kondisinya lagi kurang baik saat ini.

“Tapi terakhir itu Pak Tito Karnavian bulan lalu sudah mengumumkan kalau akan dilonggarkan kembali. Itu kan baru diucapkan dan belum terlihat ada realisasi,” ungkap Komisaris Pangeran Hotel Grup ini.

Rina yang juga punya usaha katering untuk industri di Jakarta ini berharap secepatnya ada realisasi pelonggaran kegiatan di hotel oleh pemerintah. Berharap kembali normal kegiatannya.

Pengusaha perhotelan tentu kerja keras lagi untuk mengejar ketertinggalan sejak awal tahun. Belum lagi harus kuat mempertahankan pelayanan kepada pelanggan di tengah menurunnya tingkat hunian.

Kalau Pangeran Hotel Grup, kata Rina, punya keunggulan dalam makanan. Pangeran menghadirkan masakan khas daerah dan selalunya tamu-tamu yang datang menginginkan itu. Selain itu juga pembenahan tampilan dan fasilitas hotel.

“Waktu gempa 2009, kita yang masih tetap eksis walaupun ada kerusakan. Jadi dalam waktu dua bulanan, kita berbenah. Saat itu memang sangat dibutuhkan hotel. Karena tukang tidak ada, akhirnya karyawan bersedia jadi tukang. Bangun sendiri, supaya kita mulai beroperasi lagi,” kenangnya.

Ke depannya, ujar Rina lagi, berharap adanya pembangunan destinasi-destinasi wisata di Sumatera Barat.

Di luar itu, orang sudah paham kalau Sumatera Barat punya daerah yang sangat cantik, orisinil dan lengkap bentang alamnya.

Hanya saja destinasi itu belum dikelola secara baik, makanya berharap kepada pemerintah untuk pengelolaan destinasi tersebut.

“Kita sudah mengobrol dengan Wali Kota Padang terkait semua itu. Alhamdulillah dapat sambutan baik dari Pak Fadly Amran. Mudah-mudahan adanya pembenahan di bidang destinasi wisata akan menarik tamu datang. Ada wisata andalan seperti Pantai Padang dan itu perlu pembenahan,” ungkap Ketua Apindo Sumbar ini.

Impian Rina nantinya di Pantai Padang, ada pedestrian dan tempat berjalan kaki lebar serta nyaman.

Adanya pohon yang rindang. Adanya tempat duduk-duduk. Warung-warung yang kurang nyaman itu dibenahi. Dibuatkan desain yang instagramable. Lalu ada gedung parkir. Jadi tidak ada lagi parkiran di pinggir jalan yang akan menyebabkan pungutan liar.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#Pariwisata Ranah Minang #Rina Pangeran #Hotel Pangeran Beach #Industri hotel Sumbar #Datuak Pangeran #hotel pangeran #Hotel Pangeran City #hotel pangeran pekanbaru #pariwisata padang #kisah pengusaha sukses