Dari Ekspedisi ke Gunung Sago 2.271 Mdpl: Kawah Tingga dan "Negeri di Atas Awan" (Ketiga)
Hendra Efison• Rabu, 30 Juli 2025 | 07:00 WIB
Ekspedisi ke Gunung Sago ungkap pesona Kawah Tingga, jalur pendakian menantang, dan panorama Gunung Sago adalah sebuah gunung stratovolcano dengan ketinggian 2.271 mdpl atau 7.451 kaki. Secara gugusan, Gunung Sago merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan yang membelah Pulau Sumatra.
Laporan: Two Efly & Azib Fattah MP, Limapuluh Kota
Dalam catatan sejarah, gunung berjenis stratovolcano ini pernah meletus. Dikutip dari Wikipedia, Gunung Sago meletus pada tahun 1600 Masehi dan setelah itu "tertidur pulas" hingga kini.
Jejak letusan tersebut masih terlihat berupa Kawah Tingga. Kaldera nonaktif ini terbilang cukup luas dibandingkan dengan kawah gunung-gunung aktif lain di Sumatra Barat.
Luas Kawah Tingga mencapai 10 km² dan mengarah ke Kecamatan Lintau Buo Utara, tepatnya ke Nagari Tanjung Bonai dan Nagari Batu Bulek. Kaldera ini menjadi hulu Sungai Batang Tompo yang mengalir jauh ke bawah dan bertemu dengan Batang Selo dan Batang Pangian, hingga bermuara ke Kabupaten Sijunjung.
Apakah ini berkaitan atau tidak, namun ada petunjuk alam yang dapat dijadikan rujukan awal. Kawasan lereng Gunung Sago yang mengarah ke Lintau Buo Utara merupakan kawasan pertanian. Tanahnya sangat subur dan iklimnya sejuk. Daerah kaki Gunung Sago menjadi sentra produksi hortikultura di Kabupaten Tanahdatar. Selain memenuhi kebutuhan lokal (Lintau X Koto), sebagian hasil pertanian juga dipasarkan ke provinsi tetangga.
Letak Kawah Tingga juga cukup unik. Jika sebagian besar kawah gunung api berada di puncak, maka Kawah Tingga justru terletak di pinggang Gunung Sago, tepatnya di bawah Puncak Rabuang, dalam sebuah cekungan yang dalam dan terjal. Cekungan ini kini telah dipenuhi pepohonan besar dan lebat.
Konon, menurut cerita turun-temurun, Kawah Tingga merupakan pangkal puncak gunung yang terlempar akibat letusan. Jika benar, maka diyakini ketinggian Gunung Sago di masa lampau melebihi 3.000 mdpl.
Cerita ini memang belum didukung data tertulis, namun cukup masuk akal. Gunung Sago memiliki bentang yang sangat luas. Kaki gunungnya menyebar ke dua kabupaten dan mencakup sejumlah kecamatan, mulai dari Lintau Buo Utara (Tanahdatar), Lareh Sago Halaban, hingga Situjuah Gadang (Limapuluh Kota).
Jalur Tradisional hingga Jalur Populer
Sama seperti gunung lainnya, puncak Gunung Sago bisa diakses melalui banyak jalur, baik jalur tradisional (lama) maupun jalur populer yang biasa digunakan para pendaki.
Jalur Sikabu Kabu via Kayu Kolek adalah jalur paling populer. Trek relatif nyaman dan jaraknya tak terlalu jauh dari puncak. Pendaki profesional hanya memerlukan 6,5 jam perjalanan dari Panorama Kayu Kolek menuju puncak.
Jalur ini bisa diakses melalui Nagari Sikabu Kabu, Padangpanjang, dan Tanjung Haro. Para pendaki akan bertemu Pos Pendakian Gunung Sago, tepatnya di Panorama Kayu Kolek. Pos ini masih bisa dijangkau kendaraan dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Kota Payakumbuh.
Jalur kedua adalah dari Situjuah Gadang. Dikenal sebagai jalur tradisional, titik awal pendakian berada di Nagari Situjuah Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota. Pendaki akan menanjak hingga Puncak Batu, salah satu dari tiga puncak tertinggi Gunung Sago. Rute ini cukup panjang dan minim sumber air, membuatnya kurang diminati.
Jalur lainnya adalah Sibaladuang. Rute ini lebih berat, meskipun lebih pendek dari Kayu Kolek. Kelebihannya adalah banyak ditemukan sumber air. Secara kemiringan, rute ini cukup terjal. Jalur ini bertemu dengan jalur Kayu Kolek menjelang Puncak Rabuang.
Rute ini pula yang penulis pilih dalam ekspedisi kali ini. Pilihan ini diambil untuk merasakan tantangan baru karena jalur Kayu Kolek dan Situjuah telah penulis lalui pada era 90-an.
Dari Lintau Buo Utara juga tersedia dua jalur pendakian menuju puncak. Pertama dari Jorong Alua Tangah (Tarahan Sipanjang), Nagari Batu Bulek. Jalur ini kurang diminati karena trek panjang dan kemiringan yang tinggi.
Kedua adalah dari Jorong Bukik. Pendakian dimulai dari Kayu Merantiang, terus ke Jorong Parik Sungayang, dan bertemu Jorong Bukik. Dari sinilah titik pendakian dimulai.
"Jalur dari Lintau Buo Utara ini memang belum populer. Selain masih padat tumbuhan, sumber air pun belum ditemukan. Namun dari beberapa ekspedisi anak nagari Tanjung Bonai, jalur ini relatif landai dan ringan dibanding Kayu Kolek. Saat ini kami masih terus berusaha mencari sumber air di sepanjang jalur," ujar Yudha, penggiat alam di Tanjung Bonai, Lintau Buo Utara.
Secara kemiringan, jalur ini cocok untuk pendaki pemula. Titik awal pendakian berada di ketinggian 1.000 mdpl menuju puncak 2.070 mdpl. Jarak tempuh sekitar 3,5 km.
Kawah Tingga
Jejak sejarah letusan Gunung Sago masih bisa terlihat dari Puncak Rabuang. Dari sini, tampak jelas cekungan besar yang diyakini sebagai kaldera aktif pada masa lalu.
Secara ukuran dan luasan, Kawah Tingga ini terbilang luas. Dikutip dari Wikipedia, luasan Kawah Tingga ini mencapai 10 Km2. Karena sudah terpaut jauh dari saat meletus (1.600 Masehi) maka cekungan terjal dan dalam ini sudah berubah menjadi hutan. Dalam, pinggir, lereng dan dasar cekungan sudah tak terlihat lagi dari puncak karena sudah tertutup rapat oleh pepohonan besar dan sedang.
Ada tiga puncak yang popular saat ini di Gunung Sago. Puncak Sago Malintang. Puncak ini dapat diakses melalui Tanjung Bonai Lintau Buo Utara. Dari Lintau cekungan (kawah tingga) ini seperti menjadi penghubung dua badan Gunung Sago yang terbelah akibat letusan besar tahun 1.600 Masehi.
Kedua Puncak Batu. Puncak ini dapat diakses melalui jalur Situjuah Gadang. Kenapa disebut Puncak Batu karena di posisi puncaknya terdapat batu besar yang juga kerap dijadikan Camp Area oleh para pendaki.
Sedangkan puncak ketiga adalah Puncak Rabuang. Puncak Rabuang merupakan puncak tertinggi yang saat ini menjadi spot terpopuler oleh pendaki. Untuk mencapai puncak ini dapat diakses melalui rute Kayu Kolek dan Sibaladuang.
Sama dengan survivor (pendaki) lainnya kami juga menjadikan Puncak Rabuang ini sebagai spot tujuan. Kami menginjak kaki di Puncak Rabuang ini pukul 22.30 WIB. Di sini kami nge-camp dan mendirikan tenda untuk rehat dan menikmati view alam yang indah.
Dari puncak ini kami melihat kokoh berdirinya Gunung Bungsu. Dari puncak ini pula kami benar-benar merasakan bak negeri di atas awan. Nun jauh di bawah membentang gumpalan-gumpalan awan. Gumpalan putih itu bak gundukan salju lembut dan dingin. Bisa jadi inilah keunikan Gunung Sago. Kalau nasib lagi mujur kita dapat view negeri di atas awan, kalau tidak lagi mujur kita hanya disuguhi keindahan alamnya.
Setelah nge-camp semalam, tepatnya pukul 10.30 WIB kami mulai berkemas-kemas. Tenda tempat kami berlindung kami lipat. Atribut pendakian satu persatu kami susun rapi dan masukan ke dalam carier.
Tak butuh waktu lama untuk mengemas itu semua. Setelah packing barang selesai kami rehat sejenak minum kopi dan makan mie instan. Asupan kalori ini kami gunakan untuk menghimpun tenaga untuk menuruni puncak.
Kalau untuk mencapai puncak kami membutuhkan 10 jam perjalanan (pintu Rimba menuju puncak). Sebaliknya dari puncak Rabuang menuju pintu Rimba di Sibaladuang, kami hanya membutuhkan 6 jam perjalanan.
Memasuki galanggang hantu hujan mulai turun deras. Mantel hujan yang tersimpan rapi kami buka dan pasangkan untuk melindungi tubuh. Tepat pukul 17.15 kami sampai di Kubu Jawi dan berteduh di salah satu warung milik warga.
Sambil menunggu hujan reda kami kembali minum kopi dan bercerita dengan beberapa warga tentang kepedulian menjaga hutan. Tak terasa hari sudah gelap dan hujan pun reda.
Dari Kubu Jawi kami bertolak ke Padang. Untuk memgatasi rasa lapar kami mampir dulu ke RM Pergaulan, Kota Payakumbuh. Satu menu wajib saya yakni tomat top langsung dipesan untuk memulihkan tenaga. Setelah "kampung tengah" tenang kami bertolak ke Padang sampai di rumah pukul 01.00 WIB.
"Gunung Sago memang beda ya Mby. Setiap pendakian memiliki tantangan tersendiri. Setiap Gunung menyuguhkan keunikan yang berbeda. Tuntas sudah etape 2 ke Gunung Sago. Untuk etape ke 3 kita rencanakan lagi pendakian di bulan Agustus. Kemana target "Seven Summit" Ke - 3? Tunggu saja reportasenya. Terima kasih Dani (guide) dan terima kasih Gunung Sago dengan keindahannya. Next time kami akan datang lagi," ujar Azib Fattah Mandala Putra. (tamat)