Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kickoff CKG Sekolah: Dari Keder Jarum hingga Lapor Makan Kertas, Selain Rapor Akademik, Diharapkan Ada Rapor Kesehatan

Novitri Selvia • Selasa, 5 Agustus 2025 | 12:00 WIB

PANTAU KONDISI: Wamenkes Dante Saksono Harbuwono (tengah) memantau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis Sekolah di SD Prestasi Global, Depok, kemarin (4/8).(SALMAN TOYIBI/JPG)
PANTAU KONDISI: Wamenkes Dante Saksono Harbuwono (tengah) memantau pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis Sekolah di SD Prestasi Global, Depok, kemarin (4/8).(SALMAN TOYIBI/JPG)

PADEK.JAWAPOS.COM-Ada belasan jenis pemeriksaan untuk para siswa SMA dalam Cek Kesehatan Gratis dan di SMAN 6 Tangerang Selatan yang menonjol adalah masalah gigi. Untuk anak kelas 1 SD dilihat riwayat imunisasi, adapun siswi kelas IX SMP akan ditanya mengenai imunisasi HPV.

BARADATU Aulia Akbar memang sudah duduk di kelas X SMAN 6 Tangerang Selatan. Badannya juga besar. Tapi, urusan dengan jarum selalu membuatnya keder.

Berawal dari petunjuk “pemeriksaan darah” yang dia baca di meja petugas Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolahnya kemarin (4/8). Dia tahu, di benda mirip pulpen atau kerap disebut pen lancet itu ada jarum kecil untuk menusuk telunjuk atau jari tengah.

Tapi, setelah memberanikan diri, ternyata seperti digigit semut saja. “Minggu lalu orang tua dapat informasi lewat WA (WhatsApp) kalau ada pemeriksaan kesehatan,” kata Bara, sapaan akrabnya.

Sekolah Bara memang satu dari 12 sekolah di berbagai daerah yang menjadi tempat kickoff CKG yang menyasar para siswa SD sampai SMA kemarin. Target pemerintah, ada 53,8 juta pelajar yang bisa mendapatkan manfaat program tersebut.

Seperti yang diceritakan Bara, prosedur CKG mewajibkan siswa, orang tua, atau wali murid untuk menyetujui apakah anak mereka boleh mengikuti tes kesehatan atau tidak. Dalam program tersebut, terdapat 13 sampai 15 komponen pemeriksaan, tergantung jenjang pendidikan.

Karena sudah SMA, Bara kemarin mendapatkan 14 jenis pemeriksaan kesehatan. Mulai dari status gizi, merokok, tingkat aktivitas fisik, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, dan talasemia.

Dia juga menjalani pemeriksaan anemia, kesehatan telinga, mata, gigi, kejiwaan, hati, dan reproduksi. Dari pemeriksaan ini, catatan untuk Bara adalah menjaga makanan. Dia tidak boleh makan fast food dan makanan berlemak. Sebab, dia mengalami obesitas dengan berat badan 93 kg dan tinggi 167 cm.

Celsi Ramadani, pelajar lainnya, seperti Bara, juga sempat dibuat ciut oleh pen lancet yang membuatnya takut. “Tapi, tidak sakit. Saya dapat catatan soal gigi, harus jaga kebersihan,” katanya.

Dalam CKG sekolah juga ada pemeriksaan kesehatan jiwa melalui kuisioner. Adapun tes kebugaran dilakukan melalui aktivitas fisik dan akan dibantu oleh guru pendidikan jasmani di setiap sekolah.

Untuk kelas 1 SD akan dilihat riwayat imunisasi dan siswi kelas IX SMP akan ditanya mengenai imunisasi HPV. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi yang meninjau SMAN 6 Tangerang Selatan mengungkapkan, banyak siswa yang mengalami masalah gigi.

“Ada juga dua anak yang saya lihat langsung, tekanan darahnya tinggi, di atas 140 malah,” katanya.

Hasan menegaskan bahwa CKG berfungsi untuk deteksi dini. Ketika ada penyakit yang membutuhkan perawatan lebih lanjut, dapat ditangani lebih cepat.

Senada, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Asnawi Abdullah menyatakan, CKG adalah pintu masuk untuk budaya hidup sehat. Selain itu, juga menjadi tempat screening kesehatan.

Selama ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hanya memiliki data dari orang-orang yang sakit. Jika CKG sukses, bisa menjadi potret kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. “Indonesia mengalami tren berat badan naik, obesitas. Terutama di kota-kota,” ucap Asnawi.

Dia menyebutkan bahwa di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, ada laporan kondisi kesehatan siswa. “Sekolah ada rapor akademik, juga memiliki rapor kesehatan,” imbuhnya.

Diawali Senam Pagi

Di SDN Cideng 02, Jakarta Pusat, CKG diawali dengan kegiatan senam pagi bersama. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bahkan sempat bernyanyi bersama para murid di sana.

Setelahnya, ia mulai memantau satu per satu lokasi pengecekan kesehatan untuk para pelajar kelas 1–6 tersebut. Setidaknya ada 305 murid yang masing-masing menjalani 8 tes kesehatan di hari itu.

Mu’ti pun beberapa kali berinteraksi dengan para murid. Ia bertanya, apakah mereka takut? Kemudian, ia juga sempat membuat tanya jawab soal makanan sehat dan tidak sehat.

Ada salah seorang siswa yang kemudian mendatanginya dan nyeletuk bahwa dirinya pernah memakan kertas. Mu’ti tergelak. “Makan kertas? Waduh, hahaha, makan kertas?”

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu tidak serta merta menyalahkan sang siswa atas celetukannya. Dia justru menenangkan para guru yang panik bahwa keaktifan siswa tersebut tidak menjadi masalah.

Dari Takut jadi Seru

Jarum suntik lagi-lagi jadi pemicu deg-degan para murid SD 02 Cideng, Jakarta Pusat. “Awalnya takut. Takut disuntik,” ujar Naila, siswi kelas 6 SD 02 Cideng itu sambil tertawa.

Tapi, rasa takut itu kemudian perlahan hilang ketika ia melewati satu per satu pos pemeriksaan. Dia justru merasa itu seru. “Seru, disuruh lebih banyak makan sayur. Habis itu disuruh jaga kesehatan,” ungkapnya.

Senada, Aliza, juga siswi kelas 6, awalnya juga takut disuntik. “Iya, hehe. Takutnya disuntik, tahunya nggak disuntik,” jelasnya.

Aliza mengaku diperiksa kurang lebih 20 menit. Ia menjalani pemeriksaan telinga, mata, gigi, tinggi badan, berat badan, hingga tensi. “Tadi sarannya kuping disuruh dibersihin lagi, terus disuruh ke dokter gigi buat bersihin karang gigi,” ungkapnya. (*/bry/wan/ttg/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#imunisasi HPV #SMAN 6 Tangerang #hasan nasbi #CKG Sekolah