PADEK.JAWAPOS.COM-Dava Adila Syuaib tak punya strategi belajar khusus, yang terpenting fokus dan disiplin. Aktif berorganisasi, pernah menyampaikan aspirasi langsung di hadapan Komisi IX DPR.
DALAM usia 19 tahun, kebanyakan mereka yang berkuliah masih sibuk beradaptasi dengan kehidupan kampus. Masih suka pamer jaket almamater, kalau kebetulan kuliahnya di kampus top. Atau mungkin berkutat dengan vlog bertema “a day in my life.”
Tapi, Dava Adila Syuaib sudah jauh melampaui semua itu. Dalam usia 19 tahun, dia telah lulus sarjana kedokteran dari salah satu kampus terkemuka di tanah air, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.
Dia menjadi wisudawan termuda Unpad dalam wisuda gelombang IV tahun akademik 2024–2025. Hebatnya lagi, itu diraih tanpa harus kehilangan kehidupan sosial. Dava tetap aktif berorganisasi, bahkan menduduki jabatan mentereng.
“Rasanya senang dan bersyukur. Saya tidak menyangka bisa menjadi lulusan termuda, tapi yang terpenting ada hasil yang bisa saya berikan untuk keluarga,” ujar Dava saat dihubungi Radar Bandung (grup Padang Ekspres) pada Kamis (14/8) pekan lalu.
Dukungan penuh para dosen di Fakultas Kedokteran Unpad disebut membuatnya bisa fokus menyelesaikan kuliah. Tak kalah penting dukungan keluarga yang kian mendorong semangatnya.
Filosofi hidup yang diajarkan orang tuanya sejak kecil menjadi landasan kuat dalam setiap langkahnya. “Teori hidup yang diajarkan sulit dijalankan jika saya jauh dari keluarga. Mereka adalah sumber semangat terbesar saya,” ungkapnya.
Dava mengaku tidak memiliki strategi belajar khusus. Ia hanya membiasakan diri melatih fokus dan menghindari distraksi.
Menurutnya, banyak orang keliru soal strategi belajar.
“Saya memang suka teknik manajemen waktu yang dirancang untuk meningkatkan fokus dan produktivitas. Tapi, kuncinya bukan di metode, melainkan dari diri sendiri. Kalau tidak disiplin, metode apa pun tidak akan berhasil,” jelasnya.
Karena itu, aktif berorganisasi tidak dianggapnya sebagai gangguan. Justru sebaliknya: sarana untuk menambah pengalaman dan jaringan, sesuatu yang mungkin tidak akan dia dapat kalau hanya sibuk belajar di dalam kelas.
Dava tercatat pernah menjabat di Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia dan BEM Fakultas Kedokteran Unpad. Di luar bangku kuliah, Dava pernah mendapat kesempatan menyampaikan aspirasi mahasiswa langsung kepada anggota Komisi IX DPR yang membawahkan sektor kesehatan, ketenagakerjaan, dan jaminan sosial.
Meski aktif, setiap ada benturan jadwal waktu, dia tetap akan lebih memprioritaskan akademik. “Sebab, itu tugas utama saya,” katanya. Bidang neuro menjadi mata kuliah favorit Dava.
Menurutnya, materi tentang cara kerja otak dalam membentuk pola pikir dan perilaku manusia membuat dirinya semakin tertantang untuk berpikir kritis. “Ilmu ini membuka wawasan saya tentang bagaimana manusia bersikap,” ujarnya.
Ilmu kedokteran yang dikenal njlimet bagi Dava adalah tantangan terbesarnya selama kuliah. Para mahasiswa dituntut untuk benar-benar berkonsentrasi dalam belajar.
Tapi, memelototi buku dan jurnal tiap hari tentu juga mengundang rasa bosan. “Kalau rasa malas datang, saya memulai dari hal kecil seperti merapikan kamar atau meja belajar. Suasana yang nyaman bisa memicu semangat untuk mengerjakan hal yang lebih besar,” katanya.
Ke depan, Dava berharap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 atau S-3 melalui beasiswa sekaligus menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi tinggi.
Soal spesialisasi, ia memilih menunggu hingga masa koas untuk menemukan bidang klinis yang paling sesuai dengan minatnya. Yang jelas, di matanya, calon dokter di era sekarang harus melek digital tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.
“Pasien sering datang dengan informasi yang mereka cari di internet atau AI (akal ilmiah). Itu bisa membantu, tapi tidak bisa menggantikan pemeriksaan langsung seperti palpasi atau auskultasi. Dokter harus mampu menjembatani informasi digital dengan ilmu klinis yang tepat,” ungkapnya. (*/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia