Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Ekspedisi ke MT Talamau 2.921 Mdpl: Dua Kali Kram Kaki dan Empat Kali Terapi (1)

Hendra Efison • Selasa, 9 September 2025 | 06:00 WIB

Tim Seven Summit foto bersama di pondok relawan senior Gunung Talaman sebelum menuju Camp Area Rindu Alam, Jumat (5/9/2025).
Tim Seven Summit foto bersama di pondok relawan senior Gunung Talaman sebelum menuju Camp Area Rindu Alam, Jumat (5/9/2025).
Etape Ketiga perjalanan Seven Summit mulai bergeser ke Kabupaten Pasaman Barat. Dalam pendakian kami (Ayah dan Anak) tim Seven Summit mencoba menaklukkan Puncak Gunung Talamau (2.921 Mdpl). Gunung Talamau merupakan Gunung tertinggi yang utuh dimiliki Sumatera Barat. Seperti apa petualangannya? Berikut laporannya.

Laporan Two Efly & Azib Fattah Mandala Putra

Perjalanan menuju Seven Summit Ranah Minang kembali kami lanjutkan. Semula untuk Etape 3 kami mencanangkan untuk menaiki Gunung Singgalang (2.877 Mdpl).

Namun setelah berkoordinasi dengan Badan Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) kami tak di izinkan untuk melakukan pendakian. Pasca Erupsi Gunung Marapi 2023 yang lalu, gunung Tri Arga (Marapi, Singgalang, Tandikek) ditutup untuk pendakian. Bisa jadi alasannya demi keselamatan para pendaki itu sendiri.

Rencana pendakian yang sudah disusun mestilah kami patuhi. Bulan September 2025 sudah diagendakan melakukan pendakian demi menuntaskan skedul pendakian Seven Summit.

Pendakian akhirnya kami alihkan  ke Gunung Talamau di Kabupaten Pasaman Barat. Padahal dalam skedul Seven Summit, pendakian ke Gunung Talamau adalah pendakian ke lima setelah menuntaskan Singgalang dan Tandikek. Alasannya sederhana, Talamau adalah gunung tertinggi. Butuh persiapan fisik dan mental kuat dalam menuntaskan pendakiannya.

Berbeda dengan pendakian pendakian sebelumnya, perjalanan ke Gunung Talamau kami lakukan Kamis (4 September 2025). Jika pada dua pendakian sebelumnya kami berangkat pagi maka perjalanan ke Gunung Talamau kami mulai malam hari.

Dari Padang kami (Two Efly, Azib Fattah Mandala Putra, Dani Fauzi, Habil, Rengga) bertolak menuju Padangpariaman. Dari Padangpariaman kami terus memacu kendaraan menuju Simpang Gudang Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Di pertigaan Simpang Gudang ini kami belok ke kiri hingga terus ke tapal batas Kabupaten Agam. Mobil terus kami pacu menuju Kinali dan sampai di Simpang Empat, Pasaman Barat.

Butuh waktu lebih kurang 5 jam perjalanan bagi kami dari Padang menuju Simpang Empat ini. Tepat di bundaran, pasar Simpang Empat kami berbelok ke kanan menuju Padang Tujuh, Aua Kuning, dan terus ke Base Camp Gunung Talamau di Kanagarian Pinaga.

Di Base Camp kami sudah ditunggu Andri (Penanggung jawab destinasi wisata pendakian Gunung Talamau). Andri adalah orang yang direkomendasikan sahabat saya, Hendro (Wali Nagari Aur Kuning-red) untuk mendampingi tim Seven Summit menuju puncak Gunung Talamau.

Tim sampai di Base Camp Gunung Talamau Jumat (5/9/2025) pukul 02.00 WIB. Di sini kami istirahat menunggu pagi di rumah Andri. Dalam rundown pendakian yang disiapkan Andri selaku leader, pendakian dimulai pukul 07.30 WIB. Pagi itu tim direncanakan sudah bergerak dari Pos 1 menuju Pos 2 (Bukik Harimau Campo).

Dari Pinaga ke Bukik Harimau Campo

Berbeda jauh dengan pendakian ke Gunung lain di Sumbar. Kalau sebagian besar pendakian di mulai dari ketinggian 1.000-an Mdpl maka beda jauh dengan Gunung Talamau.

Pendakian dari pos 1 berada di ketinggian 320 Mdpl. Titik awal pendakian ini terpaut jauh dengan ketinggian puncak Gunung Talamau. Star awal di ketinggian 320 Mdpl sedangkan puncak di ketinggian 2.921 Mdpl. Artinya antara pos 2 dengan puncak terpaut selisih 2.601 Mdpl. Sungguh jarak yang cukup jauh.

Rencana perjalanan terpaksa kami ubah. Pagi Jumat (5/9) hujan turun cukup deras. Rundown pendakian harus dievaluasi. Menunggu hujan reda menjadi satu-satunya jalan demi keselamatan pendakian. Sambil menunggu hujan reda, kami bercerita dengan keluarga Andri tentang sejarah Gunung Talamau dengan beragam tema.

Hujan baru mulai reda mendekati pukul 12.00 WIB. Kami bersama tim mulai prepaid pendakian. Dari basecamp kami mendapat dua orang teman baru dari Linggau, Sumatera Selatan.

Tim kami yang semula 6 orang bertambah menjadi delapan orang. Ke delapan tim itu adalah Two Efly, Azib Fattah (survivor), Andri Leader Perjalanan, Dani Fauzi (Guide Pendamping), Habil (Guide dan chef), Rengga (porter) dan dua teman baru kami dari kota Linggau, Provinsi Sumatera Selatan Bernama Ahmad dan Angga.

Kami mulai pendakian pukul 14.00 WIB. Menumpang mobil lansir sawit kami ditumpangi sampai ke Villa. Dari Vila inilah kami memulai pendakian menuju pos 2 yang bernama Bukik Harimau Campo. Butuh waktu lebih kurang 2 jam bagi kami untuk sampai di Pos 2. Kiri dan kanan jalan ke Pos 2 terlihat kebun sawit rapi berjejer. Ada juga kebun Karet, Jagung dan tumbuhan Minyak Nilam.

Secara ketinggian, pos 2 berada di ketinggian 710 Mdpl. Artinya, jarak lebih kurang 4 Km dari pos 1 menuju pos 2 kita hanya bergerak 500 Mdpl. Masih tersisa 2.200 an Mdpl lagi yang harus kami gapai untuk menuju puncak.

Di pos 2 ini terdapat sebuah pondok yang dihuni oleh relawan senior Gunung Talamau bernama Bang Danil.  Kenapa bernama Bukik Harimau Campo? Konon dari legenda yang terwarisi di kawasan bukit pintu masuk Gunung Talamau ini terdapat Harimau besar yang menjadi penghuni kawasan tersebut. Sosok inilah yang setia menjaga Gunung Talamau. Legenda ini agak masuk akal juga karena Harimau adalah hewan teritorial dan disiplin menjaga teritorialnya.

Di Pos 2 ini kami istirahat agak cukup lama. Waktu istirahat kami pergunakan untuk menyiapkan fisik dan mental. Di Pos 2 ini kami rehat dan masak makanan. Semula berharap bisa ketemu bang Danil (penggiat Gunung Talamau). Berharap sekali kami menikmati seduhan dan racikan air tebu dari sesepuh pendaki ini. Namun, kami kurang beruntung. Bang Danil lagi turun gunung dan pondoknya dalam kondisi kosong. Karena kami sudah memutuskan rehat maka kami rehat di sini cukup lama.

Pukul 16.18 WIB kami mulai bergerak dari Bukit Harimau Campo menuju Rindu Alam. Untuk camp sebetulnya kawasan ini kurang direkomendasi. Kawasan ini termasuk kawasan basah sehingga banyak pacet.

Kami tak punya pilihan. Risiko pacet harus kami hadang. Sebab, kalau kami tak masuk ke rindu alam (pos 3) maka berat bagi kami untuk bisa sampai di Padang Simanjaro (Telaga Puti Sangka Bulan). Idealnya kami camp di Bumi Sarasah (pos 4) namun hari sudah gelap.

Untuk jalur Bukit Harimau Campo ke Rindu Alam masih relatif fluktuatif. Ada tanjakan curam dan juga ada bonus jalur landai dan menurun. Bonus jalur ini sangat berguna bagi kami untuk mengatur napas dan tenaga guna melanjutkan perjalanan.

Talamau memang beda. Dalam pendakian ini kami mengalami trouble pada kedua kaki kami. Pertama Azib kram kaki kanan, kedua jempol kaki kanannya juga keram. Dengan sigap dan cekatan Andri langsung menterapi kaki Azib. Peristiwa kram dua kali ini membuat Azib tertatih-tatih berjalan, namun tetap ingin menuntaskan sampai ke Rindu Alam dan ngecamp.

Rupanya tali nasib ayah dan anak mamang beririsan. Sekitat 15 menit menjelang Pos 3 Rindu Alam saya yang juga memgalami kram betis kaki kanan. Beruntung leader pendakian kami Andri orang yang multitalenta. Selain paham dan tangguh mendaki, Andri juga bisa menterapi kaki saya.

"Alhamdulillah, kita sampai juga di Rindu Alam. Di sini kita ngecamp. Kita tata dan susun tenda. Sebagian ambil air bersih dan sebagian mulai persiapan masak. Setelah makan malam kita istirahat dan besok pagi kita lanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan cuaca bagus dan kota bergerak mulai pukul 7.30 WIB," ujar Andri. (***)

Editor : Hendra Efison
#Empat Kali Terapi #Dari Ekspedisi ke MT Talamau 2921 Mdpl #Dua Kali Kram Kaki