PADEK.JAWAPOS.COM-Sebanyak 113 orang jatuh sakit usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lubukbasung, Agam, Rabu (1/10). Dari jumlah itu, sebagian pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Namun di balik angka yang mencemaskan itu, ada kisah getir orangtua yang semalaman berjaga di samping anak mereka, berharap buah hatinya segera pulih.
DI ruang perawatan RSUD Lubukbasung, suasana masih dipenuhi wajah-wajah pucat, Kamis (2/10) siang. Puluhan anak terbaring lemah di atas ranjang, selang infus menempel di tangan mungil mereka.
Di sampingnya, para orang tua duduk dengan mata sayu, raut lelah yang tak bisa ditutupi setelah semalaman berjaga. Di antara mereka, Darsusi, 38, warga Batuhampar, tak beranjak dari sisi putrinya, Syafira Maydrianti, 11.
Siswa kelas 6 SDN 62 Batuhampar itu menjadi salah satu korban dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang diproduksi dapur SPPG Kampungtangah.
“Semalam dia tiba-tiba sakit perut, mual, wajahnya pucat, matanya merah. Langsung saya bawa ke Puskesmas Manggopoh, lalu dirujuk ke sini,” cerita Darsusi dengan suara pelan.
Diceritakannya, Syafira awalnya masih ceria ketika pulang sekolah, Rabu siang lalu. Namun malam hari, tubuhnya mulai menunjukan gejala yang aneh.
Sekitar pukul 20.30, ia mengeluh sakit perut, wajahnya pucat, matanya memerah. Darsusi, sang ibu, sempat mencoba menenangkan putrinya. “Dia bilang pusing, perutnya sakit sekali. Matanya merah, mungkin menahan sakitnya,” cerita Darsusi.
Tak ingin ambil risiko, Darsusi segera membawanya ke Puskesmas Manggopoh. Tapi bukannya membaik, rasa sakit justru bertambah hebat.
Akhirnya, Syafira dirujuk ke RSUD Lubukbasung malam itu juga. “Kami sekeluarga panik, karena anak biasanya sehat, jarang sakit parah begini,” tambahnya.
Sejak malam itu, Syafira hanya bisa berbaring. Tubuhnya lemah, nyaris tak ada tenaga untuk bicara. Darsusi hanya bisa duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan putrinya, berharap esok pagi kondisinya membaik.
“Kalau dibandingkan semalam (Rabu lalu, red), sekarang (kemarin, red) agak mendingan, tapi masih lemas. Kata dokter butuh waktu beberapa hari lagi sampai benar-benar pulih,” tambah Darsusi, mencoba tegar.
Cerita berbeda tapi tak kalah pilu datang dari Yunidar, 50, warga Kampungtangah. Putri bungsunya, Tania Putri Siska, 8, yang sekolah di SD Muhammadiyah Batuhampar, awalnya tak menunjukan tanda apa pun saat jam makan MBG di sekolah, sekitar pukul 11.30.
Menu siang itu adalah nasi goreng. Tania masih sempat bermain dengan teman-temannya. Namun, saat pulang sekolah pukul 12.00, kondisi berubah drastis.
Di jalan menuju rumah, Tania mendadak muntah-muntah, celananya basah terkena mencret. Yunidar kebingungan mendapati anaknya pulang seperti itu.
“Sepanjang jalan muntah, sampai rumah lemas sekali. Saya kira sakit biasa, jadi saya kasih obat mencret, kasih salonpas di keningnya,” kenangnya.
Waktu berlalu, kondisi Tania justru memburuk. Wajahnya semakin pucat, bibirnya membiru. Yunidar baru sadar sesuatu yang serius sedang terjadi pada putrinya ketika Magrib tiba. Dari informasi wali murid, ia mendapat kabar banyak anak jatuh sakit usai menyantap menu MBG.
“Sore sampai Magrib, saya baru tahu banyak anak di sekolah juga sakit. Dari informasi orang tua, rupanya teman-teman Tania sudah banyak yang dirawat di rumah sakit,” ceritanya.
Malam itu juga, ia buru-buru membawa Tania ke RSUD Lubukbasung. “Langsung saya bawa ke RSUD malam itu. Ternyata benar, banyak anak yang sudah dirawat,” ujarnya.
Setelah sehari semalam dirawat, Tania sudah mulai bisa makan dan minum. Namun dokter menyebut perutnya masih tegang, sehingga ia belum diizinkan pulang.
Yunidar hanya bisa menunggu di samping ranjang, menatap wajah lemah anak bungsunya itu. “Dia yang paling kecil, jadi sakitnya terasa sekali di hati saya,” kata Yunidar, yang tampak letih setelah semalaman berjaga.
Ica, 30, orang tua dari Zidan, juga masih dirundung cemas. Putranya, siswa SDN 62 Batuhampar, sempat muntah-muntah setelah makan MBG di sekolah. “Awalnya saya kira cuma masuk angin biasa. Tapi ternyata kondisinya semakin memburuk,” ucapnya.
Sementara itu, Siti Ramlah, 45, mengaku anaknya sempat bercerita bahwa nasi goreng yang disajikan terasa aneh. “Katanya pahit. Entah karena bumbu terlalu banyak atau ada masalah lain,” ujarnya.
Yang Penting Sembuh
Akibat dugaan keracunan tersebut, suasana RSUD Lubukbasung sejak Rabu malam berubah seperti ruang darurat massal.
Ruang IGD penuh anak-anak yang pucat, menangis, bahkan beberapa tak mampu berjalan sendiri. Orang tua bergantian memeluk, menenangkan, atau sekadar memijat tangan anak mereka.
Bupati Agam Benni Warlis bersama jajaran pejabat juga sempat datang menjenguk, mencoba menenangkan keluarga korban.
Hingga Kamis (2/10) sore, Pemerintah Kabupaten Agam mencatat 113 orang menjadi korban keracunan. Mereka terdiri dari pelajar TK, SD, MTs, SMP, guru, hingga orang tua.
Dari jumlah itu, lebih dari 40 orang masih dirawat di RSUD Lubukbasung, RSIA Rizki Bunda, dan Puskesmas Manggopoh. Sisanya sudah diperbolehkan pulang.
Data ini terus bergerak. Sehari sebelumnya, tercatat 86 orang. Namun hingga Kamis pukul 14.30, jumlahnya bertambah 27 orang lagi yang datang berobat.
Sebelumnya, pemerintah daerah sudah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah jumlah korban terus bertambah. “Korban mengalami gejala mual, pusing, sakit perut, hingga muntah. Semua mendapat pelayanan medis,” kata Kepala Dinas Kominfo Agam, Roza Syafdefianti.
Pemerintah setempat sudah menghentikan sementara dapur MBG Kampungtangah yang memproduksi menu nasi goreng tersebut. Investigasi dilakukan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memastikan penyebab keracunan massal ini.
Namun, bagi para orang tua, yang terpenting saat ini hanyalah kesembuhan buah hati mereka. “Asal anak saya sembuh, itu saja sudah cukup,” kata Yunidar, sembari menatap putri kecilnya yang masih terlelap dengan selang infus di tangan. (PUTRA SUSANTO—Lubukbasung)
Editor : Novitri Selvia