PADEK.JAWAPOS.COM-Si Juki yang bisa dijumpai dalam bentuk buku, film, game, dan merchandise itu lahir dari keisengan Faza Meonk setelah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan gerak tubuhnya terbatas.
Karakter yang nyeleneh, usil, namun selalu beruntung itu kini menjadi medium penyampaian aspirasinya terhadap beragam isu yang dikemas dengan ringan dan komikal.
DI Ngadas, menjawab pertanyaan Mang Awung, seorang tokoh desa di Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menjelaskan kalau agama yang dianut warga setempat beragam. Ada yang Hindu, Buddha, juga Islam.
“Tapi, kami tetap menjunjung tradisi leluhur. Yang baik-baik tentu akan kami pertahankan,” kata si tokoh.
“Huwala keren, begini nih contoh hidup bertoleransi,” sahut Si Juki.
“Tumben pertanyaan sampeyan berbobot, Mang,” ujar Sam Ongis, sahabat yang ikut menemani Juki dan Awung.
“Ya namanya juga demi konten yang mendidik. Biar orang tua mau beliin komik ini buat anak-anaknya,” balas Awung.
Bersumber dari Keresahan
Toleransi seperti dalam cerita Petualangan di Malang Bromo Tengger Semeru di atas hanyalah satu dari sekian banyak isu yang diangkat Faza Meonk lewat Si Juki.
Sudah puluhan judul terbit, bahkan Juki — si karakter yang nyeleneh, usil, namun selalu beruntung itu — juga bisa ditemukan dalam format film, game, dan merchandise. Beragam isu itu dikemas Faza secara sangat ringan dan komikal.
“Hampir seluruhnya bersumber dari apa yang saya resahkan dan disampaikan lewat Juki. Lebih nyampai ke pembaca kalau dengan komedi,” paparnya kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres) yang menemuinya di kantornya di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, sekitar tiga pekan lalu (24/9).
Beberapa hari sebelumnya Faza resmi berkolaborasi dengan Osamu Tezuka, dewa manga yang melahirkan “Black Jack”. Sebelumnya, Si Juki yang ditemani Mang Awung telah pula jumpalitan dalam “Si Juki the Movie: Panitia Hari Akhir” dan “Si Juki the Movie: Harta Pulau Monyet”.
“Terus terang, saya nggak nyangka Si Juki bakal berada di titik sekarang, menghidupi banyak orang dan punya tim sendiri. Saya bersyukur, karena cita-cita awalnya dulu sekadar bisa hidup lewat karya ini,” papar Faza.
Hikmah dari Musibah
Semua berawal justru dari kenahasan. Semasa kuliah, Faza mengalami kecelakaan motor yang mengakibatkan lengan kirinya tidak berfungsi maksimal, bahkan sampai sekarang.
“Saya jadi malas ngejar nilai kuliah karena kondisi fisik udah nggak memadai. Kan belum full digital, jadi banyak tugas-tugas mematung, memahat, atau lainnya yang butuh dua tangan sempurna,” papar pria 34 tahun yang berkuliah di jurusan animasi itu.
Karena sulit mengerjakan tugas kuliah berupa mematung atau memahat, Faza berkreasi lewat apa yang dia gemari sedari kecil, yang didukung penuh orang tua dengan memasok beragam bacaan: menggambar serta membuat komik.
Lahirlah kemudian komik digital bertajuk “DKV4” yang diunggah di Facebook pada 2011. Juki merupakan karakter utama di “DKV4.” Cerita yang disajikan pun seputar keresahan dan keapesan mahasiswa di kampus.
Ternyata responsnya bagus. Sampai akhirnya, karya pria yang semasa SD sudah menjual komik karyanya seharga Rp 500 ke teman-teman sekolahnya itu diterbitkan secara fisik kali pertama oleh penerbit Bukune!.
Judulnya “Ngampus! Buka-bukaan Aib Mahasiswa” yang juga dirilis pada 2011. Tapi, buku itu tidak terlalu laku. Faza pun mengubah konsep.
Dia mengangkat Juki, yang berarti Juru Hoki, karakter yang terinspirasi dari beragam kepribadian mahasiswa. Pada 2012, komik Si Juki dan Petualangan Lulus UN menjadi rilisan pertama dengan branding baru tersebut.
“Dari situ, bikin road map supaya gimana caranya IP (intellectual property) Si Juki ini bisa hidup. Nggak berhenti di medium komik doang,” katanya.
Setelah Berubah Konsep
Perubahan konsep melambungkan Si Juki di dunia animasi lokal. Cetakan bukunya menembus puluhan ribu eksemplar. Selain mengandalkan tim dan teknologi, Faza juga masih melakukan metode lawas untuk mendapatkan inspirasi.
“Kayak keluar kompleks perumahan, lihat keresahan orang-orang di sekitar. Ngobrol sama tukang bakso, kan ada aja tuh ngedumelinnya, misalnya tentang harga-harga yang naik,” katanya.
Semua itu air sungai yang menggerakkan turbin kreativitas Faza sehingga lahirlah puluhan judul. Sebab, baginya, hal terpenting untuk bisa mendapatkan ide-ide baru adalah peka terhadap kondisi saat ini.
Percikan-percikannya kemudian dia wakilkan lewat beragam polah dan celetukan usil Si Juki. Misalkan dalam Petualangan di Labuan Bajo-Flores.
“Kalau mau ketemu komodo sebaiknya tidak memakai baju merah,” kata si ranger Pulau Komodo.
“Kalau pakai baju merah akan dikejar?” tanya Juki.
“Bukan, nanti dikira pendukung partai,” balas ranger. (*/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia