PADEK.JAWAPOS.COM-”SAYA merasa berdosa jika tempat ini tidak dikembangkan untuk anak kemenakan serta masyarakat banyak.” Begitulah Suardi Z Dt Garang memegang amanah mamak-mamak-nya.
Amanah yang membuat ia takut dan gamang. Mempertahan nilai-nilai tradisi Minangkabau, mewariskan kepada generasi kemudian dan masyarakat banyak.
Lalu, di atas tanah seluas 800 meter persegi milik kaumnya, dibuat satu wadah pendidikan agama, adat, budaya dan keliterasian bagi anak-anak dan remaja pada tahun 2016.
Semula diberi nama Kampung Baca Bukik Ase. Kini telah berubah menjadi Lembaga Konsultasi dan Pendidikan Adat Alam Minangkabau Bukik Ase.
Tempat itu jauh dari riuh pusat Kota Padang. Paling tidak, sekitar 3 kilometer dari Bypass Padang. Letaknya di lereng Bukit Ase, Macanggadang, Kelurahan Gununggariak, Kecamatan Kuranji. Lerengnya diapit Gunungsariak dan Bukitlantiak. Ada pula Surau
“Rumah Gadang” yang menjadi gerbang masuk menuju area Bukik Ase. Namun, niat baik terkadang tak selalu mudah diterima. Suardi mengalaminya. Mula-mula ia kesulitan mengajak masyarakat ikut serta dalam kegiatan yang dibuat.
Terutama untuk membangkitkan pemikiran, membangun yang lebih baik dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Tapi, tantangan itu bisa diatasi dengan berlambat-lambat. Setelah nilai positifnya banyak terlihat, masyarakat pun datang dan mendukung.
Tak hanya warga sekitar, juga ada yang datang dari luar. “Iyo rancak lo kegiatannya, sato lo wak ciek (bagus juga kegiatannya. Saya mau ikut juga),” ujar Suardi Z Dt Garang meniru salah seorang ibu yang ikut Tahsin di sana.
Bertahun-tahun lalu, kini setiap pekan ada 90-an anak belajar tahfiz dan puluhan ibu-ibu belajar tahsin. Dan hampir tiap pekan pula mahasiswa datang silih berganti belajar adat istiadat Minangkabau.
“Sekarang kita bekerja sama dengan Unand membuat Kelompok Wanita Tani untuk belajar tentang pembibitan, pembuatan kompos, ekoenzim dan transfer ilmu pertanian untuk masyarakat,” jelasnya.
Pendidikan karatek, jadi landasan utama dari kegiatan-kegiatan yang digelar di Bukik Ase. Pembelajaran adat dan budaya Minangkabau bahkan sampai menyentuh hal-hal paling sederhana.
Salah satunya, tidak diperbolehkan memanggil abang atau kakak kepada yang lebih besar. Siswa SD harus memanggil uda kepada siswa lelaki SMP dan uni untuk perempuan. Begitu seterusnya.
Suardi mengungkapkan, Bukik Ase tempat menjaga warisan budaya Minangkabau. Seperti, dengan belajar Sumbang 12 dan juga silek.
Sumbang 12 ini bertujuan menjaga martabat perempuan.
Tapi bukan berarti laki-laki tidak mempunyai aturan. Sama saja. Bagaimana cara berikap, bergaul, perpakaian sampai kepada duduk diatur tata kramanya.
Baginya, mengembangkan Bukik Ase adalah suatu keharusan dan tanggung jawab moral sebagai seorang pemangku adat suku Jambak Baduo Nagari Pauh IX. Selain untuk membina anak kemenakan juga berguna bagi orang banyak.
“Karena ambo warih nan kabajawek, pusako nan kabatolong. Saya harus menjaga doktrin adat istiadat, berdosa saya secara moral kalau tidak bangkit,” tutur lelaki kelahiran tahun 1958 itu.
Sebagai aktivitas sosial, Suardi tak sendiri. Ada juga tokoh literasi Yusrizal KW sejak dari awalnya. Pertama kali membuka Bukik Ase itu, hanya ada dua pondok rumbio bertiang bambu.
Satu pondok bernama Munggu Kaciak dan satu lagi Alun Parindu. Di sana anak-anak belajar tanpa batas usia. Kini sudah beranggsur ada beberapa bangunan semi permanen untuk menunjang kegiatan.
Seperti sasaran silek, pustaka dan surau untuk mengaji dan pengajian, serta bagunan untuk berkumpul anak-anak. Jadi di sini juga ada tempat belajar tahfizh dan tahsin.
“Mulai dari Andrinof Chaniago (mantan Kepala Bappenas) sampai pada budayawan, dosen, guru dan mahasiswa datang silih berganti sampai hari ini memberikan pelajaran dan motivasi bagi anak-anak kita,” ujar suami Mariyenis tersebut.
Mantan kepala sekolah ini mengatakan, sebagai orang Minang, pesan bersayap yang disampaikan mamak-mamak-nya itu diartikan dengan mengembangkan warisan yang ditinggalkan menjadi tempat yang berguna bagi anak-kemanakan. Termasuk orang lain.
Ketua LKAAM dan Forum Pembauran Kota Padang (FPK) pun berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah ikut membantu perkembangannya.
Ia pun berharap semua komponen terut serta mengembangkan Bukik Ase secara lebih terorganisir untuk dijadikan pusat pengembangan literasi keminangkabauan.
Terpisah, Yusrizal KW menilai, sebagai tokoh masyarakat, terutama ninik mamak, Suardi sudah melakukan peran penting dengan menjadikan tanah kaumnya, sebagai wadah pendidikan agama, adat, budaya dan keliterasian bagi anak-anak dan remaja.
Artinya, bersama keluarga besarnya atau anak kemenakannya, ia telah menjadi salah satu solusi untuk banyak anak dan remaja belajar Al Quran, adat dan budaya serta literasi di zaman digital ini.
Kerelaan menjadikan lokasi surau Rumah Gadang untuk pusat pendidikan informal tanpa dibayar, sebutnya, adalah nilai-nilai yang menegaskan bahwa Suardi menyadari, salah satu yang menyelamatkan anak kemenakan adalah melalui pendidikan, agama, adat dan nilai-nilai agama.
“Jika selama ini tanah atau tempat sebagai kendala, maka kendala itu diatasi sehingga menjadi wadah atau ruang belajar untuk melejitkan potensi anak agar cerdas berakhak mulia,” tukasnya. (juf/cip)
Editor : Novitri Selvia