Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pengalaman Siswa Sumbar Belajar dengan Interactive Flat Panel, Pembelajaran Lebih Seru dan Interaktif

ZikriNiati ZN • Kamis, 20 November 2025 | 12:55 WIB
MENYENANGKAN: Gavin Rayhan Ardhani, 11, murid kelas 6 SDN 22 Ujunggurun, Padang, saat menggunakan IFP untuk mengisi feedback belajar siswa di kelasnya, beberapa waktu lalu.
MENYENANGKAN: Gavin Rayhan Ardhani, 11, murid kelas 6 SDN 22 Ujunggurun, Padang, saat menggunakan IFP untuk mengisi feedback belajar siswa di kelasnya, beberapa waktu lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM-Penggunaan teknologi semakin masih dalam proses belajar mengajar. Tak terkecuali di Sumbar. Terbaru dengan interactive flat panel (IFP). Bagaimana pengalaman para para siswa belajar dengan media digital tersebut?

Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). IFP yang dihadirkan pada tiap-tiap sekolah di Indonesia ini ditujukan untuk mendukung proses pembelajaran siswa agar lebih interaktif, menarik, dan adaptif.

Salah satu sekolah yang sudah menggunakan panel ini dalam proses belajar mengajar (PBM) adalah SDN 22 Ujung Gurun yang berada di Jl. Ujung Gurun No.43, Ujung Gurun, Kec. Padang Barat, Kota Padang.

Sekolah ini memanfaatkan panel tersebut untuk media video pembelajaran, media penampilan gambar-gambar materi, quizz, dan games.

Tak hanya itu Smartboard tersebut juga dipergunakan untuk kegiatan senam para siswa di mata pelajaran olahraga sekolah dasar tersebut dengan menampilkan video intruksi senam dan mereka mengikuti gerakan-gerakan dari video senam tersebut.

Salah satu murid sekolah dasar tersebut yang sering menggunakan panel interakif itu adalah Gavin Rayhan Ardhani duduk di bangku kelas 6 SDN 22 Ujunggurun, Kota Padang.

Ia salah satu siswa yang kerap diminta gurunya ke depan kelas. Bukan karena mendapat hukuma untuk berdiri satu kaki. Tapi, terlibat proses belajar secara interaktif dengan memanfaatkan sebua smart TV berukuran besar. Interactive flat panel (IFP), namanya.

Namun saat baru pertama kali menggunakan peralatan canggih itu, ia mengalami kesulitan. Wajar, karena sebelumnya sama sekali belum pernah melihatnya.

Ia pun sempat bingung berinteraksi dengan peralatan tersebut. Seiring berjalannya waktu, anak laki-laki 11 tahun ini pun mulai mampu menyesuaikan diri. Dia pun merasakan proses belajar di sekolah menjadi lebih seru dibandingkan sebelumnya.

“Lebih asyik sudah ada TV daripada sebelumya. Soalnya, dulu itu lebih gampang bosan” ungkap dia kepada Padang Ekspres, Rabu (19/11).

Pada momen-momen tertenu, ia pernah melihat gurunya sedikit kebingungan mengoperasikan panel digital tersebut. Tapi diakuinya, tak mengganggu fokusnya dalam belajar.

Kanza Latisya Hanifa, teman Gavin, juga suka dengan penggunaan IFP saat belajar di sekolah. Dia bercerita, sempat terkejut saat melihat papan interaktif itu pertama kali ada di ruang kelasnya. Bahkan sempat menganggapnya sebagai mainan.

Setelah paham gunanya, ia pun merasa lebih senang dalam belajar. Karena membuat anak perempuan itu lebih mudah dalam memahami pelajaran yang disampaikan guru. “Lebih mengerti pakai TV. Sebab ada gambarnya,” kata dia.

Tapi siswi 12 tahun ini mengaku, agak kebingungan bila diminta guru menggunakan papan interaktif tersebut. Sebab itu dia lebih suka guru saja yang mengoperasikannya.

Ia menyampaikan panel tersebut sering digunakan untuk mencari-cari gambar materi pembelajaran pada saat itu dan juga menonton. “Pas belajar agama tuh kisah nabi pasti nontonnya di sana,” sebutnya.

Di Kota Pariaman, para murid SD menyebut penyampaian bahan pelajaran menggunakan IFP juga jauh lebih menarik dan mudah dimengerti. Bahkan ada murid yang berharap setiap pembelajaran menggunakan IPF.

“Iya suka sekali kalau belajar pakai IFP. Kami di kelas menyebutnya “tipi gadang”. Karna penampilan pelajarannya menarik dan tidak membosankan,” ujar Sabyan Athalah.

Murid SDN 19 Kampungbaru Pariaman itu menyebut penggunaan IFP biasanya untuk pelajaran IPAS dan Matematika serta Bahasa Indonesia. Bahan yang dijelaskan lebih mudah dimengerti sekaligus penjelasannya menggunakan gambar kartun. 

Namun karna baru 1 unit ada di sekolahnya, Sabyan mengaku kelasnya menggunakan 1 kali seminggu alat tersebut. Hingga saat ini menurutnya guru tidak terkendala menggunakan IFP dan belum ada masalah. 

Hal senada juga diungkapkan Ferlin murid SDN 09 Pauh Barat Pariaman. Saat ini di sekolahnya setiap pagi IPF digunakan untuk menampilkan gerakan senam. 

“Saat pelajaran olahraga juga digunakan. Kami lebih mudah praktek olahraga. Karena di situ digambarkan bagaimana teknik berguling, teknik lompat jauh dan lainnya,” jelas dia.

Selain itu IFP juga digunakan untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Bagian menarik untuk soal cerita lebih mudah dipahami dan tidak membosankan. Meski demikian menurutnya penjelasan guru dan buku penunjang juga tetap dibutuhkan dalam belajar. 

Hingga saat ini guru yang menggunakan IFP belum mengalami masalah. Bahkan murid-murid di kelasnya berharap setiap hari belajar menggunakan IFP. (***)

Editor : Novitri Selvia
#SDN 22 Ujung Gurun #IFP #smartboard #SDN 19 Kampungbaru Pariaman #Digitalisasi Pendidikan