PADEK.JAWAPOS.COM-Mengabdi di daerah terluar dengan sarana terbatas tidak membuat Debi Enggia, 37 tahun, berhenti berinovasi. Guru kelahiran Simalanggang, 31 Desember 1988 itu justru melahirkan gagasan baru, menghadirkan absensi digital di SMPN 1 Pagai Utara Selatan.
Berkat idenya, sekolah yang berdiri sejak 1 Mei 1980 itu kini menjadi satu-satunya SMP di Kepulauan Mentawai yang menerapkan absensi digital. Bagaimana kisahnya?
Sejak diangkat menjadi ASN pada 2020 sebagai guru sejarah, Debi Enggia kerap resah—resah dalam arti positif. Ia melihat bagaimana digitalisasi telah memudahkan sekolah-sekolah di daratan Sumbar, sementara sekolah di kepulauan masih tertinggal.
Ia ingin setidaknya sekolah tempatnya mengabdi dapat merasakan hal yang sama. Keinginan itu ia sampaikan kepada Kepala SMPN 1 Pagai Utara Selatan, Rina Julianti, sekitar dua tahun lalu.
Gayung bersambut, ide tersebut tidak hanya mendapat dukungan kepala sekolah, tetapi juga para guru dan tenaga pendidik lain.
“Intinya, saya ingin digitalisasi ini memudahkan, bukan menyulitkan. Saat itu baru sebatas ide, dan kami belum tahu siapa yang akan membuat aplikasinya,” ujar Wakil Kurikulum SMPN 1 Pagai Utara Selatan itu.
Inovasi tersebut baru terwujud pada Juli 2024, setelah hadirnya Muhammad Raeis, guru bidang studi Teknologi Informatika.
Sebelum absensi digital diterapkan, sekolah lebih dulu mengundang para wali murid untuk menyepakati pembuatan kartu pelajar yang dilengkapi barkode guna keperluan pemindaian.
“Untuk satu kartu pelajar, orang tua dibebankan biaya Rp5.000 per siswa, dan itu sudah disetujui. Sekarang, setiap hari kami bisa memantau kehadiran dan laporan siswa dari 528 peserta didik di SMPN 1 Pagai Utara Selatan,” jelas lulusan Pendidikan Sejarah UNP tersebut.
Tantangannya, setiap pagi para guru harus bersiaga di pintu gerbang sekolah dengan telepon pintar untuk memindai kartu pelajar.
Meski begitu, absensi digital ini sangat membantu sekolah mendapatkan data kehadiran setiap hari sekaligus menghemat penggunaan kertas dan ATK.
Di sisi lain, guru harus menggunakan paket data pribadi untuk pemindaian. Debi telah mengusulkan pengadaan perangkat pemindai khusus melalui sekolah.
Ia menyebut SMPN 1 Pagai Utara Selatan sebagai satu-satunya SMP di Mentawai yang telah menerapkan absensi digital—bahkan tanpa biaya dari sekolah. Ia berharap inovasi ini bisa ditularkan ke sekolah lain di kepulauan tersebut.
Bagi anak sulung dari tiga bersaudara itu, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Ia percaya banyak ide hebat justru lahir dari situasi sulit. Hal tersebut menjadi penyemangat bagi para pendidik di Mentawai untuk berinovasi sesuai kemampuan masing-masing.
Ke depan, Debi juga bercita-cita menghadirkan ujian semester berbasis digital menggunakan telepon pintar. Bagi siswa yang belum memiliki gawai, ujian dapat dilaksanakan di laboratorium komputer.
“Ada kebahagiaan tersendiri saat ide yang kita buat bermanfaat bagi banyak orang. Semoga ke depan SMPN 1 Pagai Utara Selatan juga bisa menerapkan ujian berbasis digital,” tutup pria yang hobi bola basket dan aktif sebagai pengurus Kahmi Mentawai itu. (ARIF RAHMAD DAUD—Mentawai)
Editor : Novitri Selvia