PADEK.JAWAPOS.COM-Hidup kadang memang tentang pilihan, bahkan ketika dunia runtuh di sekeliling. Dan di titik paling rapuh, Rahmi Wiristya, memilih bertahan. Menggenggam hidup sekuat yang tersisa.
BENCANA selalu menyisakan cerita yang tak selesai dalam semalam. Di balik dinginnya puing yang berserak, ada kisah-kisah tentang mereka yang berjuang untuk tetap bernafas. Meski harus menantang derasnya maut dalam keadaan yang nyaris tak mungkin sekalipun.
Inilah yang dialami Rahmi Wiristya, korban selamat dari hantaman dahsyat galodo di Salarehaie, Kecamatan Palembayan. Sosok ibu yang tetap bertahan meski kakinya tak lagi mampu menopang tubuh ketika bencana mengetuk pintu rumahnya.
Rahmi merupakan tenaga harian lepas (THL) di Dinas Pertanian Agam. Selama enam bulan terakhir ia tak mampu berdiri. Kaki kanannya patah parah setelah ditabrak mobil boks sepulang bertugas memeriksa hewan kurban di Palembayan.
Kecelakaan yang membuatnya harus menjalani operasi dan menunggu pemulihan yang begitu lambat.
Operasi di RS Ibnu Sina mengharuskan Rahmi berbaring lama, berjuang sembuh sambil berharap proses seleksi P3K Paruh Waktu segera menjemputnya. Namun hari ketika galodo datang, semua rencana itu ambruk seperti dinding rumahnya.
“Saya tak bisa lari, kaki saya sudah enam bulan tak bisa berdiri,” ucap Rahmi ketika ditemui di rumah saudaranya, di Lubukbasung, Sabtu (6/12) lalu.
Rahmi masih mengingat bagaimana bencana menghancurkan rumahnya dan meruntuhkan sebagian hidupnya. Air bah itu datang seperti sesuatu yang tak bernama.
Sangat cepat, sangat gelap, sangat bising. Tak ada aba-aba, tak ada jeda. Hanya suara gemuruh yang seperti merobek sore, dan kemudian semuanya berubah menjadi malam yang lebih hitam dari malam.
Di kamar kecilnya, Rahmi hanya bisa terduduk lemah. Ketika orang lain mungkin masih punya waktu untuk berlari, Rahmi hanya punya waktu untuk menarik napas. Duduk bersandar pada kasur tipis, memeluk dua anaknya erat-erat. Merapatkan tubuh Abdi, 7, dan Asraf, 5, ke dadanya.
“Airnya langsung setinggi dada. Saya cuma bisa tarik anak-anak sambil bilang, maafkan ibu kalau kita tidak selamat,” tuturnya.
Air matanya jatuh satu-satu perlahan, bening, seperti sisa-sisa keberanian yang masih ia genggam malam itu. Arus menyeret mereka berulang kali, membawa potongan kayu, batu, dan suara dunia yang porak-poranda.
Kamar itu retak, bergetar hebat, namun entah bagaimana tetap bertahan ketika seluruh rumah di sekitarnya luluh lantak. Rahmi tak bisa bergerak, hanya menahan dua anaknya di antara serpihan dan lumpur yang makin dingin.
Ketika air akhirnya surut, Rahmi masih terbaring kaku di lantai. Ia meraba tubuh anak-anaknya, takut menemukan sunyi. Barulah ketika ia memeluk mereka, keduanya membuka mata pelan. Masih hidup. Masih bernapas.“Saya bersyukur, tapi di luar kamar itu, sunyi,” katanya lirih.
Sunyi itu bukan sekadar hening. Itu adalah ketiadaan. Tidak ada suara langkah suaminya, Romi, 40. Tidak ada panggilan mertuanya, Misdiati. Tidak ada tangis bayi kecil keluarga mereka.
Dunia yang dulu penuh suara keluarga, kini sepi dalam cara yang hanya dipahami oleh mereka yang ditinggalkan. Malam itu merenggut banyak nama dari hidup Rahmi. Suaminya ditemukan tak bernyawa. Mertuanya meninggal.
Keponakan suaminya, Fadila, serta bayi Fadila yang baru tiga bulan, semuanya ikut tersapu arus yang sama yang hampir menenggelamkannya. “Rumah kami hanyut. Suami saya hilang, tak ada yang tersisa,” kata Rahmi.
Kini Rahmi menumpang di rumah saudaranya, Irawati, Kepala SDN 04 Sikabu di Lubukbasung. Pemerintah sudah membantu kebutuhan dasar mereka.
Tetapi tidak ada bantuan yang mampu mengganti nama-nama yang kini hanya tinggal ukiran di batu nisan, atau bayangan rumah yang dulu dipenuhi tawa.
Di sudut rumah tempat ia beristirahat kini, Rahmi sering melihat dua anaknya tidur saling merangkul. Sesekali Abdi memeluk boneka berlumpur yang ditemukan relawan.
Asraf menggenggam tangan ibunya erat. Seakan itu satu-satunya hal yang masih tak tergoyahkan di dunia yang berubah dalam satu malam.
“Saya ingin sembuh, supaya bisa kerja lagi, bisa membesarkan mereka,” bisiknya dengan suara bergetar namun tetap menyimpan bara kecil harapan.
Rahmi selamat. Abdi dan Asraf selamat. Di antara luka dan kehilangan, Rahmi menggenggam harapan paling sederhana. Suatu hari nanti, meski tertatih, meski kaki belum mau menurut, ia bisa bangkit lagi. Paling tidak untuk dua anak yang membuatnya memilih bertahan ketika dunia di sekelilingnya runtuh.
Dukungan untuk Rahmi
Kisah Rahmi yang selamat meski tak mampu berjalan mengundang perhatian pemerintah daerah dan para dermawan.
Sabtu (6/12), Kepala Dinas Pertanian Agam, Arief Restu, bersama Kepala Bapenda Agam, Helton, mendatangi Rahmi di Perumnas Kampungpinang, Lubukbasung. Saat itu, Rahmi tampak berusaha tegar, namun matanya terus berkaca-kaca.
Owner Hotel Sakura Syariah Isman Tanjung menyerahkan bantuan Rp 5 juta. Dinas Pertanian Agam menambah Rp 2 juta, sementara LA Community memberikan satu paket sembako. Pemkab Agam ikut mengirimkan kasur, beras, susu, minyak goreng, dan mi instan.
’Kami datang memastikan kondisi Ibu Rahmi. Beliau keluarga besar kami, dan tidak mungkin dibiarkan berjuang sendirian,” kata Arief. Arief menegaskan Rahmi dibebaskan dari kewajiban bekerja hingga pulih, tanpa mengurangi haknya sebagai THL.
“Beliau selamat bukan hanya dari bencana, tapi juga dari cedera yang masih ia lawan. Kita ingin memastikan ia mendapat dukungan yang layak,” tambah Helton.
Rahmi berkali-kali mengucap terima kasih, meski suaranya sering terputus oleh tangis. “Saya ingin kuat, demi anak-anak,” katanya pelan.
Kunjungan itu diakhiri dengan doa dan harapan agar Rahmi mampu bangkit perlahan. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan terus mengalir, hingga perempuan yang kehilangan hampir segalanya itu kembali berdiri.
Meski mungkin tidak secepat yang ia inginkan, namun seteguh yang ia perlihatkan. (PUTRA SUSANTO—Agam)
Editor : Novitri Selvia