Kali ini, ritmenya dipenuhi tawa anak-anak, buku-buku yang dibuka, dan suara guru yang membimbing membaca, menulis, serta berhitung.
Di tiap sudut ruangan, guru-guru bergantian mendampingi murid-murid SD Bustanul Ulum Semen Padang—anak-anak yang beberapa pekan lalu berjuang menyelamatkan diri dari banjir bandang yang meluluhlantakkan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh.
Ruang diklat yang biasanya menjadi tempat rapat kini dipenuhi energi lain: keceriaan yang lahir dari luka, dan keberanian yang perlahan tumbuh kembali.
Jejak Trauma di Antara Deretan Meja
Di salah satu meja, Ghazy Al Gifard, bocah kelas V, duduk dengan tenang. Jemarinya menggenggam pensil, bergerak pelan di atas buku tulis.
Sesekali ia mengangkat kepala, menatap jendela seolah memastikan dunia di luar tetap aman.
Ketika ditanya, ia tersenyum tipis. “Di sini kami nyaman sekali belajar, Pak. Ruangannya ber-AC,” katanya polos.
Baginya, kenyamanan itu lebih dari sekadar suhu sejuk. AC adalah simbol keamanan: dinding kokoh, atap tak bocor, dan ruang yang tak pernah dibanjiri air keruh seperti sekolah lamanya yang berdiri tak jauh dari sungai.
Ia menunduk sejenak sebelum berbisik, “Kami masih takut sekolah di sana kalau cuaca buruk… di belakang sekolah juga ada bukit tinggi. Kami takut nanti longsor.”
Ghazy adalah salah satu dari banyak bocah yang kehilangan rumah. Banjir bandang menghanyutkan segalanya—baju, mainan, bahkan ruang kecil tempat ia tumbuh.
Kini ia dan keluarganya tinggal di kontrakan di Limau Manis, lima kilometer dari kampungnya.
“Sebelum ngontrak, kami sempat di pengungsian di SDN 02 Cupak Tangah. Hari-harinya serba terbatas,” ucapnya.
Baca Juga: Tim Badan Geologi Teliti Penyebab Sinkhole di Situjuah Batua, Ini Temuan Awalnya
Sheryl dan Perjalanan Mencari Rasa Aman Baru
Di meja lain, Sheryl Philomela Sodiq tampak ceria di tengah teman-temannya. Ia memang tak kehilangan sekolah, tetapi kehilangan yang lain—rumah yang selama ini menaunginya.
“Saya masih trauma, Pak. Rumah saya hanyut tak membekas,” ucapnya pelan.
Setiap hari, Sheryl berangkat menggunakan bus perusahaan menuju ruang belajar baru ini. Sebuah perhatian kecil yang membuatnya merasa lebih dihargai.
Namun trauma itu masih ada, menempel di ingatan seperti bayangan yang enggan pergi. Kini ia tinggal di Limau Manis bersama keluarganya, mencoba merajut ulang hari-hari yang runtuh oleh bencana.
Meski suaranya tenang, matanya menyimpan tekad. “Kami tidak akan menyerah… kami harus bangkit untuk meraih mimpi-mimpi kami.”
Verdiano dan Kenangan Air Keruh yang Tak Mudah Pudar
Di sudut lain, Verdiano Tauvani—murid kelas V lainnya—memasukkan pensilnya ke dalam buku. Pandangannya kosong sejenak, seolah kembali ke detik ketika air mengamuk menghantam rumahnya.
Ia mengungsi ke rumah neneknya di Batu Busuk, namun bahkan tempat itu pun tak luput dari terjangan banjir. “Bagian belakang rumah nenek roboh… kami lari lagi,” katanya lirih.
Sekarang Verdiano tinggal di Piai, Pauh. Ia jauh dari sungai, tetapi tidak dari rasa takut.
“Kadang-kadang saya masih teringat air keruh datang dan menghanyutkan rumah kami,” ucapnya perlahan.
Ruang Belajar sebagai Rumah Sementara Harapan
Di dalam ruangan itu, setiap anak membawa ceritanya masing-masing. Ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan masa kecil yang seharusnya riang.
Namun ketika suara tawa pecah di halaman diklat, harapan itu terasa nyata. Anak-anak berlari, saling memanggil, dan melepaskan sejenak beban yang mereka bawa.
Gedung diklat ini memang bukan sekolah permanen. Tetapi untuk sementara, di sinilah mereka menemukan ruang untuk kembali menjadi anak-anak—belajar, tertawa, dan perlahan sembuh.
Di tengah luka yang belum kering, mereka membuktikan satu hal:
bahwa masa kecil yang terguncang bukan berarti masa depan ikut gugur. Mereka terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu, menuju hari esok yang lebih tenang.(*)