PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah berjalannya bulan Ramadhan, selalu menjamur berbagai lokasi yang menjual beragam menu pabukoan. Salah satunya di pusat kota Padang, kawasan GOR H Agus Salim Padang.
MATAHARI mulai condong ke barat. Berangsung-angsur, para pedagang kaki lima di kawasan GOR Haji Agus Salim Padang, mulai membukak lapaknya.
Mereka menyediakam beragam menu pabukoan. Suasan yang selalu hadir di tengah Ramadhan. Kawasan ini memang telah lama dikenal sebagai oase bagi para pemburu pabukoan.
Lokasinya strategis. Di pusat kota. Ini membuatnya mudah dijangkau berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa yang berkantong tipis hingga keluarga yang mencari menu berbuka lengkap.
Sejak pukul 16.00 WIB, biasanya arus kendaraan dan pejalan kaki mulai memadati area ini. Salah satu sosok yang merasakan langsung keriuhan ini adalah Rita, 37, seorang pedagang aneka jus buah.
Di balik deretan toples berisi potongan buah segar, tangan Rita tampak cekatan melayani pembeli yang datang silih berganti.
Baginya, awal Ramadan tahun ini membawa angin segar bagi perekonomian para pedagang kecil di kawasan stadion kebanggaan warga Padang tersebut.
“GOR Haji Agus Salim ini biasanya memang sangat ramai, apalagi ketika menjelang berbuka puasa. Mayoritas pengunjung yang datang ke sini tujuannya memang untuk berburu pabukoan,” ujarnya, Kamis (19/2).
Baginya, momen ini adalah kesempatan untuk meraup rezeki lebih dibandingkan hari-hari biasa. Apalagi ini masih awal puasa. Biasanya ramai sekali karena masyarakat baru mulai semangat-semangatnya mencari suasana berbuka di luar.
Menu yang ditawarkan di lokasi pabukoan ini sangat beragam. Menciptakan perpaduan harmonis antara kuliner tradisional Minang dan jajanan modern. Pengunjung bisa dengan mudah menemukan bubur kampiun yang legendaris.
Hidangan ini merupakan perpaduan kompleks antara ketan putih, bubur sumsum, srikaya, lupis, hingga pisang pengat yang disiram kuah santan serta gula merah kental.
Tak hanya itu, aroma harum dari Serabi Telur yang dimasak hangat di tempat turut mengundang selera. Bagi pecinta kudapan manis, tersedia pula berbagai pilihan seperti kue talam, lupis, puding srikaya, hingga onde-onde.
Semuanya tersaji dalam kemasan praktis yang siap dibawa pulang sebagai pelengkap momen berbuka bersama keluarga di rumah.
Bagi mereka yang lebih menyukai cita rasa gurih, lapak-lapak di GOR Haji Agus Salim juga menyediakan berbagai jenis gorengan, risoles, dimsum, hingga pentol.
Untuk minuman pelepas dahaga, Es Semangka Cihuyyy menjadi salah satu primadona yang banyak dicari, selain es teh manis dan es kelapa muda yang segar dan alami.
Faktor harga menjadi alasan utama mengapa kawasan ini selalu diserbu warga. Dengan uang mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 10.000, pengunjung sudah bisa membawa pulang satu porsi takjil.
Sebagai contoh, kue talam dibanderol sekitar Rp 6.000, sementara satu kotak onde-onde biasanya dijual seharga Rp 10.000. Harga yang merakyat ini membuat siapa saja bisa menikmati hidangan berkualitas tanpa harus merogoh kocek dalam.
Kualitas bahan baku juga menjadi perhatian para pedagang di sini. Banyak dari mereka yang tetap mempertahankan penggunaan bahan alami dan menghindari pemanis buatan demi menjaga kesehatan konsumen.
Hal ini penting mengingat takjil adalah makanan pertama yang masuk ke perut setelah seharian penuh berpuasa, sehingga kebersihan dan keamanan pangan menjadi prioritas utama.
Mengingat kepadatan pengunjung yang mencapai puncaknya antara pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, pengunjung disarankan untuk datang lebih awal, setidaknya pukul 16.30 WIB.
Selain itu, penggunaan kendaraan roda dua jauh lebih disarankan karena mencari tempat parkir mobil di tengah kepadatan massa bisa menjadi tantangan tersendiri bagi siapa pun yang datang.
Menjelang azan Magrib berkumandang, keriuhan di GOR Haji Agus Salim perlahan biasanya mulai mereda saat para pembeli bergegas pulang.
Namun, bagi para pedagang seperti Rita, lelahnya berdiri berjam-jam terbayar lunas dengan dagangan yang ludes terjual. (MENGKI KURNIAWAN—Padang)
Editor : Novitri Selvia