Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Manisnya Nira di Tengah Getir Perjuangan: Kisah Ermizal, Sang Penjaga Tradisi dari Baruh Bukik

Safrizal Putra • Minggu, 22 Maret 2026 | 08:53 WIB

Ermizal (56) memanggul tarangkiak menuju kebun di Baruh Bukik, menahan beban dengan kain di bahu, menjalani profesi penyadap aren selama 40 tahun demi pendidikan anak.
Ermizal (56) memanggul tarangkiak menuju kebun di Baruh Bukik, menahan beban dengan kain di bahu, menjalani profesi penyadap aren selama 40 tahun demi pendidikan anak.
PADEK.JAWAPOS.COM—Jarum jam baru menunjuk angka 06.00 WIB. Di saat sebagian warga Jorong Baruh Bukik, Kenagarian Andaleh Baruh Bukik, Tanahdatar, masih bergelung di balik selimut, Ermizal (56) sudah memecah kesunyian pagi.

​Udara dingin yang menusuk tulang usai shalat subuh seolah tak dihiraukannya. Bagi pria paruh baya ini, fajar adalah tanda dimulainya pertaruhan nyawa di atas batang pohon aren.

​Ada satu pemandangan ikonik yang selalu melekat pada sosoknya setiap pagi. Sehelai kain lusuh yang dilipat tebal tampak tersampir di bahunya. Kain itu bukan pemanis, melainkan tameng.

​Di atas lipatan kain itulah, Ermizal memanggul beberapa potong bambu panjang yang warga lokal menyebutnya tarangkiak. Tanpa pengalas tersebut, kulit bahunya dipastikan akan lecet tergerus beban bambu yang berat.

​Langkah kakinya mantap menyusuri jalan setapak menuju kebun atau parak. Medan yang mendaki dan licin karena embun pagi sudah menjadi sahabat karibnya sejak puluhan tahun silam.

​Ermizal bukanlah orang baru dalam urusan menyadap nira (niro). Ia adalah saksi hidup betapa tradisi ini masih bertahan di kaki Gunung Sago.

​"Sajak umua 16 tahun ambo alah di ateh batang anau (pohon aren)," kenangnya saat berbincang dengan saya. Rentang waktunya tidak sebentar, hampir empat dekade ia bergelut dengan komoditas tersebut.

​Tahun 1986 adalah awal perjalanannya. Di saat teman sebanyanya mungkin masih sibuk bersekolah atau bermain, Ermizal muda sudah dipaksa alam untuk mandiri.

​"Waktu itu ambo alah baraja caro mamiliah tandan anau yang siap ditampuang (disadap)," tambahnya dengan tatapan menerawang, mengingat masa-masa awal ia mulai mendaki pohon.

​Bagi Ermizal, aktivitas ini adalah ritual ketekunan yang ia lakoni dua kali dalam sehari tanpa jeda. Tidak ada istilah hari libur dalam kamus hidupnya.

​Pagi sekali ia berangkat untuk menjemput hasil sadapan yang terkumpul semalaman. Sementara sore harinya, ia harus kembali memanjat untuk mengganti wadah baru guna sadapan esok pagi.

​Ritme hidupnya benar-benar diatur oleh tetesan cairan manis tersebut. Jika ia absen memanjat sore, maka tidak akan ada bahan baku yang bisa dimasak esok harinya.

Baca Juga: Man United Ditahan Bournemouth 2-2, Maguire Kartu Merah & Poin Krusial Liga Champions

​Pekerjaan ini bukan tanpa risiko. Ermizal harus menaklukkan pohon aren yang tingginya mencapai belasan meter dengan alat seadanya. Tangga bambu menjadi satu-satunya tumpuan hidupnya di ketinggian.

​Namun, perjuangan fisik yang sesungguhnya justru berpindah ke dapur setelah ia turun dari pohon. Hasil sadapan mentah itu harus segera diolah agar tidak masam.

​Di sebuah dapur yang dindingnya sudah menghitam oleh jelaga, Ermizal menghabiskan sebagian besar waktunya. Sebuah kuali besi raksasa tampak bertengger di atas tungku kayu bakar.

​Proses mengolah nira menjadi gula aren atau saka adalah ujian kesabaran yang luar biasa. Ermizal harus berdiri di depan panasnya api selama 4 hingga 5 jam tanpa henti.

​Selama durasi yang panjang itu, tangannya sesekali mengaduk kuali. Ia harus memastikan cairan bening itu perlahan mengental dan berubah warna menjadi cokelat keemasan.

​Menjaga api adalah kunci utama dalam proses ini. Berbeda dengan memasak masakan biasa, mengolah nira justru menuntut bara yang terus berkobar besar.

​Ermizal harus memastikan lidah api dari kayu bakar tetap menyambar dasar kuali secara terus menerus. Jika mengecil, nira tidak akan mengental dengan sempurna.

​"Mamasak niro itu butuh kesabaran. Apinyo wajib gadang (besar) taruih supayo niro capek masak. Kalau apinyo ketek, niro indak namuah mengental nyo do," tuturnya sembari mengaduk.

​Ia lantas memberikan perumpamaan yang menyentuh hati. Baginya, mendidik anak sama persis dengan menjaga api di bawah kuali; butuh semangat yang terus menyala.

​"Samo model manggadangan anak, butuh ukuran kasih sayang jo disiplin yang pas," ujar Ermizal. Filosofi hidup ini ia terapkan sungguh-sungguh dalam keluarganya.

​Terbukti, peluh di atas pohon dan hawa panas tungku itu tidak terbuang sia-sia. Kerja kerasnya membuahkan hasil yang sangat manis bagi masa depan anak-anaknya.

​Putri sulungnya, Lusi, menjadi bukti nyata keteguhan Ermizal. Lusi kini telah berkeluarga dan mengabdi sebagai seorang guru.

Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Jalinsum Solok Libatkan 4 Kendaraan, Kerugian Rp150 Juta

​Keberhasilan Lusi menggapai gelar sarjana dan menjadi pendidik adalah kebanggaan terbesar bagi pria yang hanya tamat sekolah dasar ini.

​Tangan kasar seorang penyadap aren ternyata mampu mengantarkan sang buah hati hingga ke puncak cita-cita di bangku perguruan tinggi.

​Kini, sisa tenaganya ia curahkan sepenuhnya untuk dua anaknya yang lain, Defri dan Qifa. Merekalah "bahan bakar" utama Ermizal untuk terus menaklukkan batang pohon yang licin.

​Namun, di balik senyum ketegarannya, ada raut kesedihan yang sulit disembunyikan. Matanya seketika meredup saat ia melirik ke sudut rumah yang kini terasa lebih sunyi.

​Tahun 2025 lalu menjadi cobaan terberat dalam hidupnya. Sang istri tercinta, Syafnizawita, berpulang akibat pecah pembuluh darah.

​Kehilangan teman hidup yang selama ini mendampinginya di dapur adalah pukulan telak. Ruang hampa itu kini ia rasakan setiap kali mengaduk nira.

​"Dulu, almarhumah istri nan manolong manyiapkan cetakan saka. Sudah tu mambantu mancari kayu api gai. Kini sadonyo taraso sunyi," ungkapnya dengan suara pelan dan sedikit bergetar.

​Dulu, saat nira sudah mengental, sang istrilah yang dengan sigap menyiapkan cetakan kayu. Kini, peran itu harus ia ambil alih sendiri.

​Meski duka masih membekas dalam, Ermizal memilih bangkit. Baginya, bertahan kuat adalah satu-satunya cara untuk menghormati harapan almarhumah istrinya terhadap masa depan anak-anak mereka.

​Di bawah kaki Gunung Sago yang berdiri kokoh, Ermizal terus memanjat. Ia membuktikan bahwa kemandirian tidak harus datang dari jabatan mentereng.

​Bagi warga Baruh Bukik, Ermizal adalah potret nyata seorang ayah yang menaruh kejujuran di setiap tetesan nira yang ia kumpulkan.

​Ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pejuang tradisi yang memastikan manisnya gula aren tetap ada di meja makan kita, meski prosesnya penuh dengan getir perjuangan.

​Ermizal terus melangkah, memanggul tarangkiak dengan kain lusuh di bahunya, menjemput rezeki di antara rindangnya pohon aren demi cita-cita buah hatinya. (Safrizal)

Editor : Hendra Efison
#kisah petani aren #tradisi nira Sumatera Barat #gula aren Baruh Bukik #Ermizal penyadap nira