Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ketika Lampu Padam, Atap Seng Dibongkar, Akhir Perdagangan Puluhan Tahun di GOR Haji Agus Salim Padang

Endang Pribadi • Rabu, 17 Juni 2026 | 19:11 WIB
Gelanggang Olah Raga H Agus Salim (GHAS) Padang. (Dok FB Wanteha Sikumbang Melayu)
Gelanggang Olah Raga H Agus Salim (GHAS) Padang. (Dok FB Wanteha Sikumbang Melayu)

GHAS, PADEK.JAWAPOS.COM—Rabu pagi, 17 Juni 2026, suasana di kawasan GOR Haji Agus Salim Padang terasa berbeda. Tidak ada lagi hiruk-pikuk pengunjung yang menikmati sarapan di pujasera atau canda para pedagang yang sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Yang terdengar justru bunyi palu, derit seng yang dilepas, serta langkah-langkah pelan para pedagang yang mulai mengemas kehidupan mereka ke tempat baru.

Sejak aliran listrik diputus, aktivitas perdagangan di kawasan GOR praktis terhenti. Kulkas tidak lagi menyala, lampu-lampu warung mati, dan peralatan usaha tak bisa digunakan lagi. Bagi para pedagang, padamnya listrik bukan sekadar persoalan teknis, melainkan penanda berakhirnya sebuah era.

“Listrik sudah dimatikan, jadi kami tidak bisa lagi berdagang. Mau tidak mau harus mengosongkan tempat,” ujar Wan, salah seorang pedagang yang telah lama berjualan di kawasan tersebut, Rabu (17/6).

Satu per satu payung dagangan diturunkan. Meja, kursi, etalase, hingga papan nama yang selama bertahun-tahun menjadi identitas usaha mereka mulai dibongkar. Sejumlah pedagang tampak sibuk mengikat barang-barang dengan tali rafia, sementara yang lain mengangkut perlengkapan menggunakan mobil pikap dan becak motor.

Di sudut lain, anak-anak membantu orang tuanya mengangkat kardus dan peralatan dapur. Sebuah pemandangan yang memperlihatkan bahwa relokasi ini bukan hanya urusan tempat usaha, tetapi juga menyangkut kehidupan banyak keluarga.

Relokasi pedagang GOR Haji Agus Salim Padang dimulai, listrik dipadamkan, lapak dibongkar, menyisakan kenangan tak terlupakan bagi penghuni GHAS. (endang pribadi)
Relokasi pedagang GOR Haji Agus Salim Padang dimulai, listrik dipadamkan, lapak dibongkar, menyisakan kenangan tak terlupakan bagi penghuni GHAS. (endang pribadi)

Pengosongan kawasan GOR Haji Agus Salim dilakukan untuk memberi ruang bagi dimulainya proyek rekonstruksi stadion yang akan dibangun menjadi stadion berstandar AFC. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum mengalokasikan anggaran sekitar Rp340 miliar untuk proyek tersebut.

Namun di balik ambisi besar pembangunan itu, ada kisah-kisah kecil yang turut berpindah. Di sisi lain, sebanyak 48 pedagang pujasera mulai direlokasi ke kawasan Lapangan Panjat Tebing dan area depan Kolam Renang Teratai yang masih berada di lingkungan GOR Haji Agus Salim. Pemerintah menyediakan lokasi sementara tersebut agar aktivitas ekonomi tetap berjalan selama masa pembangunan.

Bagi Ujang, perpindahan ini bukan perkara mudah. Lebih dari dua dekade ia berjualan di kawasan GOR. Tempat itu telah menjadi saksi perjalanan hidup keluarganya.

“Sudah lebih dari 20 tahun saya di sini. Kami sudah diberi tahu ukuran lapak baru sekitar 3 x 6 meter. Namun, soal aturan dan biaya di tempat baru kami belum tahu pasti. Yang penting sekarang pindah dulu supaya usaha tetap berjalan,” katanya.

Di lokasi lama, ia mengaku membayar sewa sekitar Rp150 ribu per bulan. Untuk kebersihan dan air sekitar Rp15 ribu, sedangkan biaya keamanan Rp10 ribu per hari.

Selain harus merelokasi tempat usaha, ia saat ini juga memikirkan biaya lanjutan sekolah anak-anaknya pada tahun ajaran baru ini.

“Pemikiran kami terpecah. Di satu sisi harus memindahkan usaha, di sisi lain memikirkan biaya kuliah anak. Belum lagi adik-adiknya yang juga masuk tahun ajaran baru. Semuanya datang bersamaan,” tuturnya dengan wajah yang terlihat lelah.

Cerita serupa juga dirasakan banyak pedagang lainnya. Kawasan GOR selama ini bukan hanya pusat olahraga, tetapi telah berkembang menjadi ruang ekonomi rakyat yang hidup selama puluhan tahun. Setiap pertandingan sepak bola, latihan olahraga, hingga kegiatan masyarakat selalu menghadirkan pembeli bagi para pedagang. Kini mereka harus memulai lagi dari awal.

Di tengah kesibukan relokasi, ada kelompok lain yang justru melihat peluang. Para pengumpul barang bekas tampak hilir mudik di antara bangunan yang dibongkar.

Anto, salah seorang pengepul barang bekas, mengaku mendapatkan rezeki dari proses pengosongan tersebut.

“Barang-barang yang sudah tidak dipakai ada yang kami kumpulkan. Seng-seng bekas juga ada yang kami beli dari pedagang yang membongkar tempat usahanya,” ujarnya.

Pemandangan itu menghadirkan ironi tersendiri. Ketika sebagian orang sedang berpisah dengan ruang hidupnya, sebagian lain menemukan secercah rezeki dari pembongkaran.

Menjelang sore, kawasan pujasera GOR Haji Agus Salim perlahan berubah wajah. Lapak-lapak yang selama puluhan tahun menjadi tempat bertemunya pedagang dan pelanggan mulai kosong. Seng-seng diturunkan, papan nama dilepas, dan jejak aktivitas ekonomi rakyat yang begitu lama melekat di kawasan itu perlahan menghilang.

Namun di balik lapak yang dibongkar dan lampu yang dipadamkan, harapan tetap menyala.

Para pedagang berharap stadion baru yang megah benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat. Mereka berharap keramaian akan kembali datang ketika stadion selesai dibangun. Dan ketika hari itu tiba, mungkin sebagian dari mereka masih berdiri di sana, di tempat yang berbeda, melayani pelanggan dengan cerita bahwa mereka pernah menjadi bagian dari sejarah panjang GOR Haji Agus Salim Padang.

Karena bagi mereka, relokasi bukan sekadar pindah tempat berdagang. Relokasi adalah perpindahan kenangan, perjuangan, dan harapan menuju babak baru kehidupan. (edg)

Editor : Hendra Efison
#stadion Padang 2026 #pedagang pujasera #pembangunan stadion AFC #GOR Haji Agus Salim #Relokasi pedagang Padang