Zadrian Ardi Pecahkan Rekor Guru Besar Termuda UNP Lewat Riset Stres Akademik

Heri Sugiarto • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:25 WIB
Dr. Zadrian Ardi, dosen Universitas Negeri Padang yang akan menjadi guru besar termuda UNP melalui riset tentang stres akademik. (Foto: KKPS UNP)
Dr. Zadrian Ardi, dosen Universitas Negeri Padang yang akan menjadi guru besar termuda UNP melalui riset tentang stres akademik. (Foto: KKPS UNP)

PADEK.JAWAPOS.GOM – Menjadi guru besar merupakan impian banyak dosen. Namun, bagi Dr. Zadrian Ardi, S.Pd., M.Pd., Kons., jabatan akademik tertinggi itu bukanlah sesuatu yang dikejar dengan tergesa-gesa.

Baginya, setiap tahapan karier harus dijalani dengan proses yang matang, satu target diselesaikan sebelum melangkah ke target berikutnya.

Jika Surat Keputusan (SK) Guru Besar yang saat ini masih dalam proses penetapan diterbitkan dengan Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Agustus 2026, dosen kelahiran 1 Juni 1990 tersebut akan menjadi guru besar termuda di Universitas Negeri Padang (UNP) pada usia 36 tahun 2 bulan.

Rekor sebelumnya dipegang Prof. Anto Komaini, yang dikukuhkan sebagai guru besar pada usia 36 tahun 4 bulan.

Meski akan mencatatkan sejarah baru di lingkungan UNP, Zadrian mengaku tidak pernah menjadikan rekor sebagai tujuan utama.

Hal itu disampaikannya saat berdiskusi dalam kegiatan Pakar UNP yang diselenggarakan Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis (KKPS), Selasa (28/7/2026).

"Target itu ada, tetapi tidak ekstrem. Memang setiap dosen punya cita-cita menjadi guru besar. Namun saya selalu melihat prosesnya. Yang penting setiap tahap bisa diselesaikan dengan baik," ujarnya.

Menempuh Seluruh Pendidikan di UNP

Perjalanan akademik Zadrian seluruhnya berlangsung di Universitas Negeri Padang.

Ia diterima sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling pada 2008, menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2012, kemudian meraih gelar magister pada 2014.

Pada tahun yang sama, ia mulai mengajar sebagai dosen kontrak sebelum dinyatakan lulus sebagai CPNS UNP pada 2015.

Karier akademiknya terus berkembang. Jabatan Asisten Ahli diperoleh pada 2017.

Namun, perjalanan menuju jenjang doktor sempat dihadapkan pada tantangan.

Pada 2018, ketika terjadi perubahan kelembagaan dari Kementerian Pendidikan menjadi Kementerian Riset, program beasiswa yang semula ingin diikutinya belum tersedia.

"Awalnya saya berencana mengambil beasiswa untuk studi di luar negeri. Saya sudah mengikuti seleksi di Indonesia, di UPI dan Universitas Negeri Malang. Alhamdulillah dinyatakan lulus. Namun karena beasiswa tidak tersedia pada 2018, akhirnya saya memutuskan menempuh studi doktoral di UNP," katanya.

Ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktor pada 2021.

Selama perjalanan akademiknya, Zadrian juga meraih jabatan Lektor, dipercaya menjadi Staf Ahli Rektor pada 2021–2023 pada masa kepemimpinan Prof. Ganefri, Ph.D., kemudian memperoleh jabatan Lektor Kepala.

Sejak 2023 hingga 2028, ia dipercaya memimpin Departemen Bimbingan dan Konseling UNP.

Ketika ditanya mengenai seluruh perjalanan pendidikannya di almamater yang sama, Zadrian menjawab dengan santai.

"Dari awal sudah UNP, dari mahasiswa. Darah murni," kelakarnya.

Prestasi Akademik

Rekam jejak akademik Zadrian juga diwarnai sejumlah capaian di tingkat nasional dan internasional. Ia pernah dinobatkan sebagai Academic Leader UNP 2024 Terbaik I Bidang Sosial Humaniora serta meraih Peringkat I Anugerah Dosen Berprestasi Tingkat Nasional FIP-JIP 2025.

Di bidang inovasi, Zadrian mengembangkan POTENSIA Apps, platform asesmen psikologis digital, serta KONSELO Apps, media konseling daring.

Hingga 2025, Zadrian juga telah menghasilkan 56 publikasi yang terindeks Scopus dengan H-index Scopus 11 dan 354 sitasi, yang menjadi bagian dari rekam jejak akademiknya.

Konsisten dengan Target Harian

Menurut Zadrian, menjaga konsistensi dalam dunia akademik bukan berarti bekerja tanpa henti.

Ia justru membagi pekerjaan menjadi target-target kecil yang diselesaikan setiap hari.

"Dalam satu hari selalu ada target yang harus selesai. Misalnya minggu ini menyelesaikan pendahuluan artikel, maka dibagi menjadi target-target kecil setiap hari," ujarnya.

Di luar aktivitas akademik, ia tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

"Bekerja tetap ada batasnya. Setelah itu ada waktu untuk keluarga dan juga untuk diri sendiri. Sabtu dan Minggu sebisa mungkin memang untuk keluarga, kecuali ada pekerjaan yang benar-benar mendesak," katanya.

Meneliti Konseling Daring untuk Mengurangi Stres Akademik

Sebagai akademisi, Zadrian mengembangkan kepakaran pada bidang Teknologi dan Media dalam Bimbingan dan Konseling.

Ketertarikannya terhadap bidang tersebut berawal dari penelitian disertasinya yang mengembangkan model konseling daring untuk membantu mereduksi stres akademik.

Menurutnya, stres akademik tidak hanya dipengaruhi oleh banyaknya tugas.

Tekanan memperoleh nilai tinggi, ekspektasi orang tua, hingga ketakutan menghadapi kegagalan juga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis peserta didik.

Melalui pengembangan layanan konseling berbasis teknologi, ia berupaya menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses oleh peserta didik.

Bagi Zadrian, pencapaian akademik bukan semata-mata tentang gelar atau usia saat meraihnya.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap proses dijalani dengan baik serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, institusi, dan masyarakat.(*)

Editor : Heri Sugiarto
Zadrian Ardi Guru Besar Termuda UNP Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang Stres Akademik