Perjalanan panjang itu akhirnya memasuki garis akhir. Setelah hampir satu tahun sepuluh bulan menapaki enam puncak gunung di Sumatera Barat, tim Seven Summit West Sumatra kembali mengayunkan langkah untuk menyelesaikan etape terakhir. Kali ini, Gunung Tandikek 2.438 mdpl menjadi tujuan.
Laporan: Two Efly & Azib Fattah
Tandikek bukanlah gunung tertinggi dalam rangkaian ekspedisi ini. Namun, di gunung inilah perjalanan panjang tersebut harus ditutup. Ada rasa haru, lelah, sekaligus penasaran.
Etape Terakhir Dimulai
Pendakian Gunung Tandikek kami mulai lebih awal. Jumat, 7 Agustus 2026, tim bergerak dari Kota Padang. Personel kali ini masih diisi wajah-wajah yang sejak awal setia menemani perjalanan Seven Summit West Sumatra: Two Efly, Azib Fattah Mandala Putra, Dani Fauzi, dan Nabil Nafian. Habil bergerak dari Payakumbuh dan akan bergabung di Bukittinggi.
Sebagai leader sekaligus guide dalam etape terakhir ini, ada Candra, pemandu senior yang sangat mengenal jalur Gunung Tandikek.
Pukul 16.00 WIB, kendaraan mulai bergerak meninggalkan Kota Padang. Namun, sebelum menuju Bukittinggi, kami lebih dahulu singgah di Boogie/Bivac Adventure untuk mengambil sejumlah perlengkapan pendakian.
Boogie/Bivac Adventure bukan sekadar tempat mengambil perlengkapan. Sejak ekspedisi Seven Summit West Sumatra dicanangkan, tempat ini menjadi salah satu sahabat perjalanan yang terus mendukung kebutuhan peralatan pendakian kami.
Pukul 16.05 WIB, perjalanan benar-benar dimulai. Kendaraan dipacu menuju Lubuk Alung, kemudian melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang. Di kota berhawa sejuk itu, kami kembali singgah sebentar untuk mengambil beberapa perlengkapan tambahan.
Dari Padang Panjang, perjalanan diteruskan menuju Panyalaian, X Koto. Di GDR Swalayan, kami membeli logistik terakhir. Tidak membutuhkan waktu lama. Dari Panyalaian, kendaraan kembali dipacu menuju Bukittinggi.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Pasanehan, Nagari Lasi, Kecamatan Canduang. Di sinilah kami bermalam. Bukan untuk berlama-lama, tetapi untuk memberikan kesempatan kepada tubuh melakukan pemulihan sebelum esok hari menghadapi medan Tandikek.
Kembali ke Tandikek Setelah 29 Tahun
Sabtu pagi, kami bergerak menuju Jorong Gantiang, Nagari Singgalang. Di posko pendakian Gunung Tandikek, Candra sudah menunggu.
Pukul 07.30 WIB kami tiba di posko. Satu per satu perlengkapan dikeluarkan. Carrier dibuka. Peralatan diperiksa. Logistik dicek kembali. Tidak boleh ada yang tertinggal.
Tepat pukul 08.05 WIB, langkah pertama dimulai. Tujuan awal kami adalah bendungan sebelum kemudian memasuki pintu rimba.
Bagi saya, perjalanan menuju pintu rimba Tandikek menghadirkan sensasi berbeda. Setiap langkah seperti membuka kembali halaman lama yang tersimpan dalam ingatan.
Terakhir kali saya mendaki Gunung Tandikek adalah pada 1997. Hampir tiga dekade berlalu.
Saya penasaran, seberapa banyak perubahan yang terjadi? Ternyata, menuju bendungan, jalurnya masih relatif sama.
Jika dahulu kami menyusuri saluran irigasi, kali ini jalur yang kami lewati juga masih berada di sekitar rute tersebut. Bedanya, saluran irigasi itu kini sudah tidak berfungsi. Longsor yang terjadi beberapa tahun lalu membuat saluran tertimbun dan air tak lagi mengalir seperti dahulu.
Sekitar 65 menit berjalan, kami tiba di bendungan.
Di tempat inilah perubahan mulai terasa. Sungai yang dahulu menjadi lokasi kami berkemah pada 1997 kini telah berubah. Badan sungainya sudah terbelah menjadi tiga sehingga arus air tidak lagi terlalu deras.
“Dari bendungan ini perubahan sudah banyak terjadi, Pak. Kalau dulu Bapak masuk pintu rimba dari seberang sungai lalu belok ke kiri, sekarang belok ke kanan. Jalurnya memang sudah dialihkan agar pendaki tidak terlalu terkuras tenaganya karena trek sebelumnya menanjak dan panjang,” ucap Candra.
Benar saja. Begitu menyeberangi sungai, tanjakan langsung menyambut.
Tiga Shelter, 33 Rintangan
Pintu rimba Tandikek seolah menjadi gerbang menuju pertarungan berikutnya. Otot kaki mulai bekerja lebih keras.
“Tanjakan ini tidak panjang, Pak. Paling 15 menit. Setelah itu trek relatif landai,” kata Candra.
Sebagai pendaki yang sudah tidak muda lagi, kalimat itu tentu terdengar menyenangkan. Dalam hati saya hanya berharap informasi dari Candra benar-benar sesuai kenyataan.
Sekitar 15 menit kemudian, trek berubah. Jalur menjadi relatif landai dan cukup panjang. Bonus trek ini kami manfaatkan untuk mengatur napas sekaligus membangun ritme perjalanan.
“Dari sini ke Shelter 1 sekitar satu jam, Pak. Kalau jalan santai. Kalau agak cepat, bisa lebih singkat,” ujar Candra.
Langkah kami pacu, tetapi ritme tetap dijaga. Pukul 09.15 WIB, kami tiba di Shelter 1.
Di shelter pertama ini kami tidak berlama-lama. Air putih menjadi menu utama untuk mengembalikan cairan tubuh. Sekitar 20 menit beristirahat, kami kembali mengangkat carrier dan melanjutkan perjalanan.
“Selanjutnya kita menuju Shelter 2. Biasanya sekitar 90 menit. Mudah-mudahan kita sesuai target karena setelah itu etape berikutnya adalah Shelter 3,” kata Candra.
Langkah kembali diayunkan.
“Kalau treknya landai seperti ini enak, Mby. Kita tidak perlu menguras tenaga terlalu banyak. Yuk, jalan. Mudah-mudahan pukul 10.30 kita sudah sampai Shelter 2,” ujar Azib.
Vegetasi mulai berubah. Pepohonan besar dan akar-akar pohon mendominasi jalur. Di kiri dan kanan, berbagai tumbuhan hutan tumbuh rapat. Beberapa di antaranya merupakan tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi, seperti rotan dan tumbuhan lainnya.
Berbeda dengan trek menuju Shelter 1, medan menuju Shelter 2 mulai menghadirkan tanjakan yang lebih panjang. Di beberapa bagian memang cukup curam, tetapi secara umum masih relatif bersahabat.
“Kalau diperhatikan, treknya mirip Rindu Alam di Talamau. Setelah tanjakan biasanya ada bonus, meskipun tidak panjang. Ini sangat membantu pendaki mengatur napas,” kata Candra.
Kami terus berjalan. Sampai akhirnya tanjakan panjang dan curam kembali menghadang.
“Menjelang Shelter 2, tanjakannya memang agak panjang dan sedikit curam, Pak. Kita jalan santai saja. Sepertinya Shelter 2 Bayangan tidak jauh lagi,” ujar Candra.
Informasi itu membuat langkah kami sedikit diperlambat. Tenaga harus disimpan. Tanjakan pertama selesai. Tanjakan berikutnya muncul.
Akar-akar pohon menjadi tangga alami. Sesekali kami berpegangan pada akar untuk membantu tubuh melewati medan yang semakin terjal.
“Celah di atas itu sudah Shelter 2, Pak. Lima menit lagi kita sampai,” kata Candra.
Kalimat itu menjadi suntikan semangat. Azib yang mulai terlihat lelah kembali memacu langkah. Hingga akhirnya kami benar-benar tiba di Shelter 2.
Di shelter ini kami bertemu dengan rombongan pendaki lain yang sedang turun menuju pintu rimba. Mereka sudah memulai pendakian sejak Jumat.
Kami memilih beristirahat lebih lama. Kopi dibuat. Susu hangat disiapkan. Kue kering dikeluarkan dari carrier sebagai tambahan energi.
Azib, seperti biasa, memilih susu hangat dan roti tawar. Tubuh memang membutuhkan waktu untuk mengembalikan tenaga.
Candra tersenyum melihat jam.
“Kalau dilihat dari jam, kita sedikit molor sampai di Shelter 2, Pak. Tapi itu normal untuk pendaki seusia Bapak. Malahan Bapak masih termasuk kuat dan masih mampu melakukan pendakian seperti ini,” ucap Candra.
Saya hanya tersenyum. Pujian dari seorang guide senior tentu menyenangkan. Namun, perjalanan masih panjang. Shelter 3 menunggu.
Menuju Shelter 3: Tanjakan Mulai Berbicara
“Kalau ke Shelter 3, kira-kira berapa lama?” tanya Azib.
“Sekitar dua jam dari sini. Tapi kalau terlalu santai, bisa jauh molor. Kita percepat sedikit langkah, tetapi stamina tetap dijaga,” jawab Candra.
Kami kembali bergerak. Kali ini karakter trek berubah drastis. Tanjakan semakin panjang dan semakin curam. Bonus trek mulai jarang ditemukan. Kalaupun ada, itu pun relatif pendek.
Tidak banyak ruang untuk mengatur napas. Lelah mulai terasa. Namun, tidak ada pilihan lain selain terus melangkah. Satu tanjakan selesai, tanjakan berikutnya menunggu.
Azib mulai terlihat kelelahan. Aktivitasnya yang cukup padat sepanjang pekan membuat persiapan fisiknya kali ini tidak sebaik pendakian-pendakian sebelumnya.
Beberapa kali ia bertanya kepada Candra.
“Masih berapa lama lagi?”
Candra tetap tenang.
“Kita sudah separuh perjalanan. Sekitar 60 menit lagi kita sampai Shelter 3.”
Jawaban itu membuat kami kembali melangkah. Sesekali kami berhenti di jalur. Bukan duduk. Cukup berdiri, menarik napas panjang, mengatur kembali ritme, lalu berjalan lagi.
“Kalau napas sudah mulai ringan, kita jalan lagi,” ujar Candra.
Lebih dari dua jam berlalu. Di depan, kami melihat sebuah celah terang. Kabut tipis tampak menggantung di antara pepohonan.
“Itu, lokasi kabut tipis itu Shelter 3. Sudah dekat. Yuk, jalan lagi. Nanti di sana baru kita rehat dan sarapan,” ujar Candra.
Habil kami dorong bergerak lebih dahulu menuju shelter. Tujuannya sederhana: mengambil air untuk kebutuhan memasak dan minum tim.
Pukul 14.15 WIB, kami akhirnya tiba di Shelter 3. Rasa lega langsung terasa.
Di sinilah kami beristirahat cukup lama. Logistik dibuka. Mi instan dimasak. Kopi dibuat. Nugget menjadi lauk sederhana.
Azib kembali meminta susu hangat dan roti tawar. Madu juga dikonsumsinya untuk membantu menambah asupan energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Satu jam kami habiskan di Shelter 3. Pukul 15.15 WIB, langkah kembali dimulai. Kali ini tujuan kami adalah Batu Surya. Di sinilah kami menemukan salah satu bagian terberat dari pendakian Tandikek.
Batu Surya dan Tanjakan Terakhir
Selepas anak sungai pertama, tanjakan tajam langsung menghadang. Tidak banyak pilihan jalur. Trek menanjak itu harus didaki.
Kami kembali menggunakan strategi yang sama: langkah pendek, ritme terjaga, dan istirahat seperlunya.
Tanjakan terasa panjang. Kami kembali menyeberangi anak sungai kedua.
Selepas sungai, sebuah celah bukaan mulai terlihat. Dari celah itu, Gunung Singgalang tampak gagah menjulang. Pemandangan tersebut menjadi hiburan di tengah kelelahan.
Di celah terang itu pula berdiri sebuah batu besar yang dikenal pendaki sebagai Batu Surya. Batu tersebut mendapatkan cahaya matahari ketika fajar mulai menyingsing.
Azib kembali bertanya kepada Candra.
“Dari Batu Surya ke puncak berapa lama, Bang? Bagaimana treknya?”
Candra menjawab tenang.
“Tidak lama lagi menuju puncak. Kalau jalan santai, sekitar 30 menit sampai ke bibir kawah. Treknya juga tidak seberat dari Shelter 3 menuju Batu Surya.”
Kalimat itu kembali menjadi energi. Kami mengatur napas, kemudian melanjutkan langkah. Targetnya jelas: sebelum pukul 17.00 WIB kami harus sudah berada di puncak.
Seperti saat menuju Shelter 3, Habil kembali bergerak lebih dahulu sebagai tim advance untuk mempersiapkan kebutuhan tim. Sementara kami terus mendaki.
16.55 WIB, Tandikek Tuntas
Langkah terakhir terasa berbeda. Bukan karena treknya lebih ringan, tetapi karena kami tahu perjalanan ini hampir selesai.
Pukul 16.55 WIB, kami akhirnya tiba di bibir kawah Gunung Tandikek. Etape terakhir Seven Summit West Sumatra tuntas.
Kabut tipis turun perlahan. Asap belerang mengepul dari dalam kawah. Desiran angin bertemu dengan uap air sehingga menciptakan suasana khas kawasan puncak Tandikek.
Kami berhenti cukup lama di bibir kawah. Menikmati napas. Menikmati pemandangan. Dan tentu saja, menikmati rasa lega.
Dari bibir kawah menuju camp area hanya membutuhkan sekitar lima menit perjalanan.
Begitu sampai di camp area, kami bergerak cepat. Tenda didirikan. Kompor dinyalakan. Air mulai dipanaskan.
Makanan ringan disantap. Di antara lelah, dingin, dan sisa tenaga, ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
Kami beruntung. Cuaca sangat cerah. Tidak ada hujan yang mengganggu perjalanan. Langit bahkan memberi kami hadiah berupa panorama alam yang begitu indah.
Menjelang malam, siluet matahari terbenam perlahan berubah menjadi lukisan alam. Kami hanya bisa terdiam.
Hampir satu tahun sepuluh bulan perjalanan telah membawa kami melewati tujuh puncak di Sumatera Barat.
Dari satu gunung ke gunung berikutnya. Dari satu tanjakan ke tanjakan lainnya. Dari rasa lelah hingga rasa ingin menyerah.
Kini, satu demi satu kenangan itu seperti diputar kembali.
Candra kemudian memecah keheningan.
“Perjalanan sudah tuntas. Besok pagi kita dokumentasi. Pukul 10.00 kita bergerak turun.”
Kami mengangguk.
Malam itu, di camp area Gunung Tandikek, bukan hanya tubuh yang beristirahat. Perjalanan panjang Seven Summit West Sumatra seolah menemukan titik akhirnya.
Namun, bagi kami, puncak bukanlah sekadar tempat untuk berdiri.
Puncak adalah tempat untuk mengingat kembali dari mana langkah dimulai, berapa banyak tanjakan yang telah dilewati, dan siapa saja yang tetap berjalan ketika perjalanan terasa berat.
Tandikek menjadi saksi terakhir perjalanan panjang itu.(***)
Editor : Hendra Efison