Lelah setelah menempuh perjalanan sekitar 10 kilometer seolah lenyap begitu kaki menginjak bibir kawah.
Oleh: Two Efly & Azib Fattah MP
Di hadapan kami terbentang kawah luas dengan dinding-dinding terjal. Asap belerang perlahan mengepul dari sela-sela dinding kawah, sementara desiran angin dan suara aktivitas vulkanik menghadirkan suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Tak terasa hampir delapan jam kaki kami melangkah dari pos pendakian Gunung Tandikek. Berjam-jam kami melewati hutan, tanjakan, akar-akar pohon, dan trek yang menguras tenaga. Semuanya terbayar tuntas oleh panorama alam di puncak Tandikek.
Habil menjadi anggota tim pertama yang tiba di bibir kawah. Sekitar 10 menit kemudian, saya menyusul. Tak lama berselang, Azib, Chandra, Dani, dan Habil Nafian tiba satu per satu.
“Alhamdulillah, akhirnya kita sampai. Ini dia kawah Tandikek yang viral dan banyak melintas di beranda media sosial itu. Indah sekali, ya,” ujar Azib.
Kami tersenyum. Rasa lelah yang sejak tadi menempel di tubuh perlahan luruh. Tak ada lagi keluhan tentang kaki yang pegal atau napas yang tersengal. Semua berganti dengan rasa kagum.
Setelah mengambil beberapa dokumentasi, kami bergerak menuju area camp yang hanya berjarak sekitar lima menit dari bibir kawah.
Begitu tiba, seluruh anggota tim langsung bekerja. Carrier diturunkan, tenda dirakit, dan peralatan memasak dikeluarkan. Dalam waktu singkat, tempat bermalam pun berdiri.
Saya dan Azib memilih beristirahat sambil menikmati samudra awan dan lanskap pegunungan yang terbentang luas.
“Tenda sudah siap. Silakan Bapak dan Azib ganti baju. Kami segera menyiapkan konsumsi. Setelah itu, sama-sama kita nikmati keindahan alam sampai matahari benar-benar tenggelam,” ujar Dani dan Habil.
Siluet Matahari, Singgalang, dan Marapi
Menjelang pukul 18.30 WIB, panorama dari puncak Tandikek berubah semakin dramatis. Kabut yang sejak siang menutupi sebagian pegunungan perlahan tersibak. Satu per satu objek alam di kejauhan mulai memperlihatkan bentuknya.
Di sebelah kiri, Gunung Singgalang yang sebelumnya tertutup kabut perlahan membuka diri. Gunung itu tampak gagah dan kokoh. Di sisi tengah, Gunung Marapi berdiri menjulang. Sementara di sisi kanan, Danau Singkarak dan Gunung Talang terlihat membentang.
Dari sisi belakang puncak Tandikek, jajaran pegunungan lain juga terlihat. Puncak Gunung Talamau dan Gunung Pasaman tampak menonjol di sela-sela hamparan awan putih.
Matahari mulai mendekati peraduan. Pendaran cahaya merah senja perlahan membentuk siluet pegunungan. Gumpalan awan yang sebelumnya putih berubah keemasan, lalu jingga. Langit seolah berubah menjadi kanvas raksasa yang dilukis langsung oleh alam.
Indah. Sungguh indah. Enam anggota tim larut dalam kekaguman sekaligus rasa syukur. Hampir semuanya mengeluarkan gawai, mencari sudut terbaik untuk mengabadikan momen.
Chandra, yang sudah bertahun-tahun dan berkali-kali menjadi guide di Tandikek, bahkan mengaku mendapatkan pengalaman berbeda sore itu. “Saya sudah berulang kali dan bertahun-tahun menjadi guide di Tandikek ini, Pak. Beberapa hari lalu saya juga ke sini untuk membersihkan jalur. Terus terang, baru kali ini saya mendapatkan kesempatan dengan cuaca secerah dan seterang ini. Bapak dan tim sangat beruntung,” ujarnya.
Kami hanya tersenyum. Mungkin benar. Ada perjalanan yang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan kaki, persiapan, dan strategi. Ada pula kemurahan alam yang tidak bisa dipaksakan. Kami semakin yakin, tidak semua pendaki mendapatkan kesempatan menyaksikan panorama seperti yang kami nikmati pada etape penutup Seven Summit West Sumatra.
City Light dan Hembusan Angin Malam
Matahari akhirnya benar-benar tenggelam. Hari perlahan berubah gelap. Dari arah barat, satu per satu bintang mulai muncul. Angin malam berembus membawa hawa dingin yang perlahan menusuk tubuh.
Segelas kopi hangat dan makanan ringan menjadi teman sederhana untuk mengusir dingin. Azib duduk sambil menatap langit.
“Baru kali ini kita berada di puncak gunung dengan cuaca secerah ini. Lima pendakian sebelumnya kita selalu kemalaman atau kesiangan. Ternyata Tuhan menghadiahkan kita sesuatu yang berbeda di etape terakhir ini,” katanya.
Saya mengangguk. Benar. Lima gunung sebelumnya memberikan pengalaman masing-masing. Namun Tandikek seperti sengaja menyimpan hadiah untuk bagian akhir perjalanan.
Sambil menyeruput kopi, kami menikmati city light dari tiga penjuru. Di sebelah kiri, cahaya Kota Bukittinggi tampak berkelap-kelip. Di tengah, Padang Panjang dan Batusangkar membentuk gugusan cahaya. Sementara di sisi kanan, Kota Solok dan Kabupaten Solok juga menghadirkan pemandangan yang tak kalah indah.
Pemandangan tersebut membuat kami sejenak lupa bahwa tubuh sebenarnya sudah sangat lelah. Kopi yang semula hangat akhirnya dingin dan tetap kami habiskan.
Satu per satu anggota tim mulai masuk ke sleeping bag. Tubuh yang terkuras setelah delapan jam perjalanan akhirnya menuntut haknya untuk beristirahat. Malam itu kami tertidur pulas.
Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada lagi aktivitas. Tubuh seolah langsung mengambil alih semuanya. Hanya satu harapan yang kami miliki: semoga esok pagi Tandikek kembali menghadiahkan cuaca cerah dan panorama yang tak kalah indah.
Mentari di Balik Puncak Marapi
Harapan itu terkabul. Minggu pagi, Tandikek kembali menyambut kami dengan langit cerah. Pendaran cahaya merah mulai muncul di ufuk. Butiran embun masih bertengger di ujung daun. Udara pagi terasa segar dan dingin, tetapi tidak menusuk.
Puncak Tandikek kembali menghadirkan pertunjukan alam. “Wuih... indah luar biasa. Udaranya segar, dinginnya juga tidak terlalu menusuk tulang. Diparipurnakan lagi oleh fajar yang menyingsing dari puncak Gunung Marapi,” ucap Azib.
Matahari mulai memperlihatkan bentuknya. Perlahan, cahaya pagi muncul dari balik puncak Marapi yang terlihat begitu jelas. Merah berubah menjadi jingga. Langit yang semula gelap perlahan terang.
Kami kembali terpaku. Tanpa dikomando, seluruh anggota tim mengeluarkan gawai. Semua sibuk mencari sudut terbaik. Chandra dan Habil memilih melakukan siaran langsung melalui media sosial. Saya dan Azib lebih memilih menjadi “paparazi”, memburu setiap momen yang menurut kami layak diabadikan.
Sarapan dan Persiapan Pulang
Mentari seolah tak ingin berlama-lama bersembunyi di balik Marapi. Dalam hitungan menit, matahari telah meninggalkan puncak Marapi dan menerangi kawasan Tandikek.
Kami kembali ke area camp. Sarapan pagi disiapkan. Menu sederhana menjadi santapan terakhir di puncak: nasi dengan sambal ikan sarden, ditemani minuman hangat. Sederhana, tetapi terasa istimewa.
Usai sarapan, Chandra mulai menyusun rencana perjalanan turun. “Kita bergerak turun agak cepat saja, Pak, agar tak kesorean di jalur. Paling lambat pukul 10.00 WIB kita sudah melangkah turun. Sebelum turun, kita singgah sebentar ke bibir kawah untuk dokumentasi terakhir,” ujar Chandra.
Bagi kami, apa yang disampaikan Chandra bukan sekadar saran. Ia paling memahami karakter Gunung Tandikek. Pengalamannya sebagai guide membuatnya tahu kapan waktu terbaik untuk bergerak, kapan harus beristirahat, dan bagaimana menjaga ritme perjalanan.
Usai sarapan, tim mulai berkemas. Satu per satu perlengkapan dimasukkan kembali ke dalam carrier. Matras dan tenda dibongkar. Pakaian pendakian dikenakan.
Pukul 09.00 WIB, kami bergerak menuju bibir kawah untuk dokumentasi terakhir. Asap belerang masih mengepul. Angin masih berembus. Kali ini ada perasaan berbeda. Beberapa saat lagi tempat indah ini akan kami tinggalkan.
“Kita turun santai saja, Pak. Biasanya turun relatif lebih berat dibandingkan naik. Apalagi bagi pendaki yang sudah berusia,” ujar Chandra.
Saya tersenyum. Apa yang disampaikan Chandra ternyata benar. Sepanjang Seven Summit West Sumatra, perjalanan turun justru menjadi salah satu tantangan terberat bagi saya. Bagi saya, turun jauh lebih berat dibandingkan menanjak.
Dari sisi waktu memang lebih cepat. Namun, setiap langkah menurun memberikan tekanan berbeda pada lutut dan persendian. Rasa ngilu justru sering muncul ketika perjalanan pulang.
Menuju Shelter 3 dan Pintu Rimba
Berbeda dengan perjalanan naik, perjalanan menuju Shelter 3 tidak membutuhkan waktu lama. Stamina yang telah pulih setelah istirahat semalam membuat kaki terasa lebih ringan.
Dari bibir kawah menuju Batu Surya, kami hanya membutuhkan sekitar 15 menit. Di Batu Surya, kami berhenti sejenak sebelum kembali melangkah menuju Shelter 3. Jika perjalanan dari Shelter 3 menuju summit membutuhkan sekitar 2,5 jam, perjalanan turun hanya sekitar satu jam.
Setiba di Shelter 3, kami rehat singkat untuk memulihkan napas dan membasahi tenggorokan. Setelah dirasa cukup, kami kembali bergerak.
“Biasanya untuk mencapai Shelter 2 dari Shelter 3 dibutuhkan 60–70 menit kalau kita berjalan santai. Kita angsur saja pelan-pelan, Pak. Target kita pukul 11.30 sudah sampai di Shelter 2,” ujar Chandra.
Satu per satu turunan kami lewati. Sesekali trek datar menjadi penyeimbang sekaligus bonus untuk meregangkan otot kaki. Tak lama kemudian, kami tiba di Shelter 2, sekitar 60 menit setelah meninggalkan Shelter 3.
Habil Nafian dan Dani Fauzi Habil ternyata sudah lebih dahulu tiba. Mereka menyiapkan minuman hangat.
“Akhirnya Bapak dan Bang Azib sampai. Minum dulu, Pak. Minuman Energen sudah matang. Silakan diteguk. Ini bisa membantu mengisi dan memulihkan tenaga kembali,” ujar Dani.
Saya memilih duduk di akar pohon. Seteguk demi seteguk Energen saya minum. Azib memilih madu, cokelat, dan sosis sebagai tambahan energi.
Tubuh mulai terasa lebih segar. Suasana kemudian berubah riang ketika Chandra menunjukkan ayunan alami yang terbentuk dari akar pohon.
Azib langsung tertarik. Ia bergelantungan di akar pohon. Sesaat ia terlihat seperti Tarzan dalam film fiksi yang disukai banyak penonton.
Di gunung, aksi sederhana seperti itu terasa berbeda. Suasana yang semula serius mendadak berubah menjadi ceria. Satu per satu anggota tim ikut mencoba. Tawa pun pecah. Untuk beberapa saat, rasa lelah terlupakan.
Hujan Menjadi Salam Perpisahan
Usai bermain ayunan, kami kembali bergerak menuju Shelter 1 dan Pintu Rimba. Jalur ini relatif bersahabat. Kemiringannya tidak terlalu curam dan lebih banyak didominasi landaian.
Dari Shelter 2 menuju Shelter 1, kami hanya membutuhkan sekitar 30 menit. Dari Shelter 1 menuju Pintu Rimba sekitar 20 menit.
Namun, menjelang Pintu Rimba, hujan mulai turun. Tidak lebat. Tidak pula berlangsung lama. Mungkin inilah salam perpisahan Tandikek kepada kami.
Pukul 13.30 WIB, kami tiba di Pintu Rimba atau Bendungan. Kami beristirahat agak lama. Bukan sekadar untuk memulihkan tenaga, tetapi juga untuk menikmati sebuah momen penting.
Pintu Rimba menjadi penanda berakhirnya pendakian Gunung Tandikek sekaligus etape terakhir ekspedisi Seven Summit West Sumatra. Dari titik inilah perjalanan panjang yang kami jalani selama hampir dua tahun menemukan ujungnya. (***)
Editor : Hendra Efison