PADEK.JAWAPOS.COM—Asap kayu bakar dan sabut masih menjadi bagian penting dalam produksi limbek masiak atau lele kering di Pasaman Barat. Resti Arrahmi (31) mempertahankan cara tradisional tersebut dalam usaha yang telah berjalan sekitar 15 tahun.
Usaha itu sebelumnya dikelola ibu Resti. Kini, Resti meneruskan pengolahan limbek masiak dengan proses yang masih mengandalkan pengasapan menggunakan bahan bakar sederhana.
“Usaha ini awalnya usaha mama. Sudah sekitar 15 tahun, sekarang saya yang meneruskan,” kata Resti.
Dalam sekali produksi, Resti biasanya mengolah sekitar 300 hingga 500 ekor lele. Jika bahan baku tersedia lebih banyak, jumlahnya dapat mencapai 700 ekor. Lele tersebut didatangkan dari Padang.
Setibanya di tempat pengolahan, lele terlebih dahulu dibersihkan. Setelah itu, ikan dibelah dan disusun di atas panggangan untuk menjalani proses pengasapan.
Kayu bakar dan sabut digunakan sebagai bahan bakar. Lele yang sudah tersusun di atas panggangan kemudian disalai secara bertahap hingga kadar airnya berkurang.
“Kayu bakar sama sabut yang dipakai. Setelah lelenya dibelah, disusun di panggangan, baru disalai,” ujarnya.
Proses pengeringan membutuhkan waktu satu hingga dua hari. Menurut Resti, pengeringan selama dua hari menghasilkan limbek masiak yang lebih baik dibandingkan proses selama satu hari.
“Kalau sehari biasanya kurang bagus. Paling bagus dua hari,” katanya.
Dari 100 Kilogram Lele, Tersisa Sekitar 30 Kilogram
Proses pengeringan membuat berat lele berkurang cukup banyak. Dari 100 kilogram lele basah, hasil akhirnya sekitar 30 kilogram setelah melalui proses pengeringan.
Limbek masiak yang telah selesai diproduksi kemudian dipasarkan kepada pelanggan, salah satunya di kawasan Air Bangis. Harga jualnya sekitar Rp100 ribu per kilogram.
Untuk pelanggan yang sudah berlangganan, Resti memberikan harga sekitar Rp95 ribu per kilogram.
Dalam sekali produksi, hasil penjualan limbek masiak dapat mencapai sekitar Rp1,5 juta. Nilainya bergantung pada jumlah lele yang diolah serta hasil produksi yang terjual.
Namun, penjualan belakangan ini mengalami sedikit penurunan. Resti mengatakan penurunan tersebut tidak terlalu besar.
Cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses produksi. Ketika hujan, proses pengeringan lele membutuhkan waktu lebih lama sehingga produksi tidak dapat berjalan secepat saat kondisi cuaca mendukung.
Meski menghadapi kendala tersebut, Resti tetap menjalankan usaha yang diwariskan ibunya. Selama sekitar 15 tahun, limbek masiak terus diproduksi dengan tahapan pengolahan yang mempertahankan cara tradisional.(mg11)
Editor : Hendra Efison