PADEK.JAWAPOS.COM—Hentakan alat tenun tradisional terdengar di Sentra Tenun Balai Panjang, Kelurahan Balai Panjang, Kecamatan Payakumbuh Selatan. Benang demi benang dirangkai menjadi kain bermotif khas. Di antara beragam corak yang dihasilkan, motif Lakuak Kumbuah menyimpan cerita tentang identitas Payakumbuh yang terus dijaga para perajin.
Namun, upaya mempertahankan warisan tersebut menghadapi tantangan. Jumlah perajin yang masih aktif di sentra itu kini tersisa sekitar 10 orang. Berkurangnya tenaga kerja turut membatasi produksi dan membuat omzet usaha mengalami pasang surut.
Efendi (49), pengelola sekaligus Ketua Sentra Tenun Balai Panjang, mengatakan aktivitas menenun di kawasan itu telah berlangsung sejak 2000. Sentra tersebut baru berdiri pada 2016.
Pada awalnya, para perajin memproduksi Songket Pandai Sikek secara mandiri dari rumah masing-masing. Setelah kelompok perajin dan sentra terbentuk, produksi mulai diarahkan pada pengembangan tenun khas Balai Panjang.
Kini, produk tenun Balai Panjang dipasarkan ke sejumlah daerah, seperti Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang, dan Padang. Sebagian produk juga telah menjangkau pasar di luar daerah, termasuk Jakarta.
Lakuak Kumbuah, Motif yang Membawa Cerita Payakumbuh
Bagi perajin Balai Panjang, tenun bukan sekadar kain dengan corak yang menarik. Motif yang dihasilkan juga menjadi cara mempertahankan cerita dan karakter daerah.
Salah satu motif yang lekat dengan identitas Payakumbuh adalah Lakuak Kumbuah. Motif ini terinspirasi dari renggaan tanaman kumbuh yang dipercaya berkaitan dengan asal-usul nama Payakumbuh.
Bentuknya berupa ulir geometris yang simetris. Dua ulir menjadi bentuk utama, dipisahkan oleh motif segi empat yang disebut lakuak.
“Motif yang paling melekat dengan Payakumbuh adalah motif Lakuak Kumbuah,” kata Efendi, Kamis (1/10).
Selain mempertahankan motif tradisional, para perajin juga mengembangkan motif modern untuk menyesuaikan produk dengan permintaan pasar. Sentra Tenun Balai Panjang bahkan telah memiliki hak cipta untuk motif tenun yang dikembangkan.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tenun tetap relevan tanpa meninggalkan kekhasan daerah.
Satu Kain Bisa Dikerjakan hingga Seminggu
Di balik selembar kain tenun, terdapat proses pengerjaan yang membutuhkan ketelitian dan waktu. Sentra Tenun Balai Panjang masih menggunakan alat tenun tradisional untuk menghasilkan kain dengan berbagai motif.
Pengerjaan bahan pakaian membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari. Sementara itu, pembuatan songket memerlukan waktu lebih lama, sekitar empat hari hingga satu minggu, bergantung pada kerumitan motif dan permintaan.
Perbedaan motif turut menentukan harga jual. Bahan dasar baju tenun dibanderol Rp400 ribu hingga Rp1 juta per potong. Adapun kain songket dijual sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta.
“Yang membedakan murah atau mahalnya tergantung pada motifnya. Tenun kita memiliki dua jenis motif, yakni motif tradisional dan modern,” ujarnya.
Waktu pengerjaan yang berbeda serta variasi motif membuat setiap produk memiliki nilai jual tersendiri. Namun, kemampuan memenuhi permintaan pasar juga bergantung pada jumlah perajin yang tersedia.
Perajin Berkurang, Koperasi Disiapkan
Berkurangnya jumlah perajin menjadi salah satu tantangan bagi keberlanjutan Sentra Tenun Balai Panjang. Dengan sekitar 10 orang karyawan yang masih aktif, kapasitas produksi menjadi lebih terbatas dibandingkan ketika tenaga kerja lebih banyak.
Persaingan usaha juga semakin luas. Para perajin tidak hanya menghadapi persaingan dengan sesama produsen tenun, tetapi juga dengan pelaku UMKM lain di Payakumbuh yang terus berkembang.
Di tengah kondisi tersebut, Sentra Tenun Balai Panjang menyiapkan pembentukan koperasi yang diawali dengan pembentukan kelompok perajin sebagai tahap prakoperasi.
Langkah itu diharapkan dapat memperkuat keberadaan para perajin sekaligus mendukung keberlanjutan sentra.
Bagi Balai Panjang, tantangannya bukan hanya menjaga agar kain tetap diproduksi dan terjual. Motif seperti Lakuak Kumbuah juga perlu terus dikenal sebagai bagian dari identitas Payakumbuh.
Selama alat tenun masih digunakan dan para perajin terus mengembangkan motifnya, cerita tentang daerah itu tetap memiliki ruang untuk diwariskan melalui selembar kain.(*)