Lonceng Tua dan Selendang di Koto Gadang, Jejak Roehana Koeddoes yang Masih Dirawat

Harizatul Ismi • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 07:01 WIB
Lonceng tua yang menurut penuturan keluarga digunakan sebagai penanda kegiatan belajar Roehana Koeddoes dan masih tersimpan di rumah kelahirannya di Koto Gadang.
Lonceng tua yang menurut penuturan keluarga digunakan sebagai penanda kegiatan belajar Roehana Koeddoes dan masih tersimpan di rumah kelahirannya di Koto Gadang.

PADEK.JAWAPOS.COM – Sebuah lonceng tua masih tersimpan di sebuah rumah di Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam. Di rumah yang sama, sehelai selendang yang menurut penuturan keluarga merupakan hasil kerajinan tangan Roehana Koeddoes juga masih dirawat.

Dua benda sederhana itu menjadi pengingat perjalanan Siti Roehana, perempuan yang sejak usia belia memilih belajar, mengajar, dan menulis ketika kesempatan pendidikan bagi perempuan belum terbuka luas.

Di rumah kelahirannya, kisah tentang Roehana masih dituturkan keluarga. Pit Edi, menantu dari cucu adik Roehana Koeddoes yang telah tinggal di rumah tersebut sejak Oktober 1983, menjadi salah satu orang yang masih menyimpan cerita tentang perjalanan hidupnya.

Dari Koran Ayah hingga Ruang Belajar

Ayah Roehana, Moehammad Rasjad Maharadja Soetan, merupakan pegawai pemerintahan kolonial yang pernah menjalani sejumlah pekerjaan, mulai dari juru tulis, kepala gudang hingga jaksa.

Selepas bekerja, sang ayah membawa pulang surat kabar ke rumah. Bagi Roehana kecil, koran-koran itu bukan sekadar lembaran berita. Dari bacaan tersebut, ia mengenal huruf, membaca, dan melihat dunia yang lebih luas.

Sejumlah sumber sejarah mencatat Roehana tidak mengenyam pendidikan formal. Namun, ia belajar secara otodidak dan mendapat akses terhadap buku, majalah, serta surat kabar dari lingkungan keluarganya.

Di usia belia, kemampuan membaca dan menulis itu kemudian ia bagikan kepada anak-anak perempuan di sekitarnya.

Setiap pagi, Roehana membaca koran dengan suara keras di depan rumah. Ia juga mengajak teman-temannya belajar bersama.

Kebiasaan tersebut berkembang menjadi kegiatan pengajaran. Ia mengajarkan baca, tulis, memasak, menjahit, dan berbagai keterampilan kepada perempuan.

Di tengah kegiatan belajar itu, sebuah lonceng digunakan sebagai penanda. Kini, menurut penuturan keluarga, lonceng tersebut masih tersimpan di rumah kelahiran Roehana.

Benda itu menjadi bagian kecil dari cerita tentang bagaimana kegiatan belajar yang sederhana di Koto Gadang berkembang menjadi perjuangan panjang Roehana di bidang pendidikan perempuan.

Kerajinan Amai Setia dan Pers Perempuan

Gagasan Roehana tentang pendidikan perempuan kemudian berkembang melalui Kerajinan Amai Setia pada 1911.

Di sana, perempuan tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga berbagai keterampilan seperti menjahit, menyulam, dan kerajinan tangan.

Bagi Roehana, pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan membaca. Pendidikan juga berkaitan dengan keterampilan yang dapat membantu perempuan menjalani kehidupan secara lebih mandiri.

Langkahnya kemudian meluas ke dunia pers.

Pada 1912, Roehana bersama jejaring pers di Minangkabau terlibat dalam penerbitan Soenting Melajoe. Edisi perdana surat kabar tersebut terbit pada 10 Juli 1912. Roehana menjadi pemimpin redaksi, dengan Zubaidah Ratna Djoewita turut mengelola penerbitannya.

Melalui tulisan, gagasan tentang pendidikan dan kehidupan perempuan dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.

Roehana tidak hanya mengajar di ruang belajar. Ia juga menggunakan tulisan sebagai jalan untuk menyampaikan gagasan dan memperjuangkan kemajuan perempuan.

Jejak yang Bertahan Lebih dari Seabad

Lebih dari satu abad kemudian, jejak tersebut masih terasa di Koto Gadang.

Rumah kelahirannya masih menjadi tempat cerita tentang Roehana dituturkan. Lonceng yang dahulu digunakan dalam kegiatan belajar masih disimpan. Selendang yang menurut penuturan keluarga dibuat Roehana juga menjadi bagian dari kenangan yang diwariskan.

Benda-benda itu mungkin sederhana. Namun, bagi keluarga, keduanya menjadi penghubung dengan masa ketika Roehana mulai membangun ruang belajar bagi perempuan.

Pada 2019, pemerintah Indonesia menetapkan Roehana Koeddoes sebagai Pahlawan Nasional atas perjuangannya dalam pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan pers.

Gelar tersebut menjadi pengakuan negara atas perjalanan panjang Roehana. Namun, kisahnya tidak berhenti pada gelar.

Di Koto Gadang, kisah itu tetap hidup melalui rumah, benda-benda yang disimpan, dan cerita yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Perjalanan Roehana bermula dari hal-hal yang sederhana: bacaan yang dibawa pulang ayahnya, seorang anak perempuan yang tekun membaca, teman-teman yang diajak belajar, serta kegiatan keterampilan yang kemudian berkembang menjadi ruang pendidikan.

Dari sana, gagasannya bergerak lebih jauh ke dunia pers.

Roehana telah lama tiada. Namun, gagasan tentang pentingnya pengetahuan bagi perempuan masih menjadi bagian dari warisan yang ditinggalkannya.

Di Koto Gadang, warisan itu tidak hanya ditemukan dalam buku sejarah. Ia juga tersimpan dalam sebuah lonceng tua, sehelai selendang, dan cerita keluarga yang terus dirawat.(mg8)

Editor : Hendra Efison
Roehana Koeddoes Roehana Koto Gadang rumah kelahiran Roehana Kerajinan Amai Setia Soenting Melajoe