PADEK.JAWAPOS.COM— Pesanan perabot yang datang tidak menentu tak membuat Yudirman berhenti bekerja. Pengrajin berusia 60 tahun itu tetap mengolah kayu Surian di Jalur 32 Simpang Empat, Pasaman Barat, sambil berkebun sawit ketika tidak ada pelanggan yang memesan.
Sudah 15 tahun Yudirman menjalankan usaha pembuatan perabot rumah tangga. Namun, perjalanan menuju pekerjaan tersebut berawal dari profesi yang jauh berbeda, yakni tukang sinso yang biasa keluar masuk hutan untuk mencari kayu.
Seiring bertambahnya usia, pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar itu mulai sulit dijalaninya. Terutama ketika harus masuk ke kawasan hutan. Yudirman kemudian memanfaatkan pengalaman dan keterampilannya mengolah kayu untuk membuka usaha sendiri.
Kini, hampir seluruh proses pembuatan perabot dikerjakannya secara mandiri. Mulai dari mengolah kayu mentah hingga menghasilkan barang siap digunakan pelanggan.
Pesanan Bisa Sepi Berbulan-bulan
Yudirman mengerjakan berbagai jenis perabot sesuai permintaan pelanggan. Produk yang dibuatnya antara lain pintu, meja, kursi, lemari, dan kusen. Bentuk serta ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan pemesan.
Dalam usaha tersebut, kayu Surian menjadi bahan utama. Kayu itu diperoleh dari kawasan Simpang Tiga Abu. Menurut Yudirman, kualitas kayu Surian sudah dikenal masyarakat sehingga masih banyak pelanggan yang memilihnya.
“Kalau kayu Surian ini memang sudah terkenal kualitasnya. Pelanggan banyak yang mau, bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Kiawai, Kinali dan daerah lainnya untuk memesan perabot di sini,” ujarnya.
Meski memiliki pelanggan dari sejumlah daerah, jumlah pesanan tidak selalu stabil. Yudirman mengaku pernah tidak menerima pesanan selama tiga bulan. Sebaliknya, ketika permintaan meningkat, pelanggan harus menunggu hingga dua bulan untuk mendapatkan perabot yang dipesan.
“Penghasilan tidak bisa dipastikan. Kadang tiga bulan tidak ada pesanan, tetapi kalau sudah banyak yang memesan, sampai ada yang harus antre. Bahkan, pernah pesanan borongan datang bersamaan dan terpaksa ada yang tidak bisa saya terima,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat Yudirman harus mengatur pekerjaan sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia. Ketika pesanan perabot sedang kosong, ia mengisi hari-harinya dengan berkebun sawit agar tetap produktif.
Kayu Kering Menentukan Lama Pengerjaan
Selain jumlah pesanan, proses pengeringan kayu juga menjadi tantangan dalam pekerjaan Yudirman. Bahan yang belum benar-benar kering tidak bisa langsung masuk ke tahap pengerjaan berikutnya.
Untuk membuat satu pintu, misalnya, ia biasanya membutuhkan waktu sekitar dua hari. Namun, durasi tersebut bisa berubah mengikuti kondisi bahan dan proses pengeringannya.
“Kalau kerja perabot ini, kayunya harus kering dulu. Kadang cuaca menjadi kendala. Sudah dua hari panas, tetapi kayu tetap susah kering. Jadi, pengerjaannya tidak bisa kita pastikan,” jelasnya.
Dari sisi harga, satu pintu dijual sekitar Rp900 ribu hingga Rp1 juta. Besarannya bergantung pada motif, ukuran, serta jarak pengantaran. Sementara itu, harga kayu Surian saat ini mencapai sekitar Rp4 juta per kubik.
Untuk meja, seperti meja kasir dan meja guru, harga setelah selesai dikerjakan bisa mencapai sekitar Rp1 juta. Nilai tersebut juga mengikuti bentuk dan tingkat kesulitan pengerjaan.
Yudirman sebenarnya ingin mengembangkan usahanya dengan membuat lemari sebagai produk pajangan yang bisa langsung dibeli pelanggan. Namun, keterbatasan modal membuat rencana itu belum dapat diwujudkan.
Menurutnya, lemari bisa dibuat lebih dahulu untuk dijadikan stok. Berbeda dengan pintu yang harus mengikuti ukuran masing-masing rumah pelanggan sehingga tidak memungkinkan diproduksi dalam jumlah banyak tanpa pesanan.
Di usia 60 tahun, Yudirman memilih mempertahankan usaha yang telah dirintisnya selama 15 tahun. Keterampilan mengolah kayu yang diperoleh dari pekerjaan sebelumnya kini menjadi bekal untuk tetap bekerja, meski tuntutan fisik dan kondisi usaha terus berubah.(*)
Editor : Hendra Efison