Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

6 Perilaku Ini Menunjukkan Seseorang Terlalu Sering Pamer di Media Sosial, Menurut Psikologi

Suci Kurnia Putri • Kamis, 20 Februari 2025 | 11:23 WIB

Ilustrasi orang sedang pamer di media sosial.
Ilustrasi orang sedang pamer di media sosial.
PADEK.JAWAPOS.COM—Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi tidak sedikit orang yang menggunakannya untuk pamer secara berlebihan.

Dalam psikologi, perilaku ini sering dikaitkan dengan kebutuhan akan validasi, eksistensi, atau bahkan tanda insekuritas yang tersembunyi.

Lalu, bagaimana cara mengenali seseorang yang terlalu sering pamer di media sosial? Berikut enam perilaku yang bisa menjadi tanda-tandanya sebagaimana dikutip dari laman Baselinemag pada Kamis (20/2/25).

  1. Sering Memposting Barang Mewah atau Gaya Hidup Glamour

Orang yang suka pamer di media sosial cenderung sering mengunggah foto atau video barang-barang mewah, seperti gadget terbaru, pakaian branded, hingga mobil mahal.

Tujuannya bukan hanya sekadar berbagi, melainkan ingin menunjukkan status sosialnya. Dalam psikologi, perilaku ini dikenal sebagai self-enhancement, di mana seseorang ingin terlihat lebih baik daripada kenyataan sebenarnya.

  1. Berlebihan dalam Membagikan Kehidupan Pribadi

Mulai dari bangun tidur, menu sarapan, aktivitas sehari-hari, hingga momen paling kecil pun selalu diposting di media sosial. Orang yang memiliki kebiasaan ini sering kali ingin menunjukkan bahwa hidupnya selalu menarik dan menyenangkan.

Namun, menurut psikologi, terlalu sering membagikan kehidupan pribadi bisa menjadi tanda kurangnya kepuasan dalam kehidupan nyata dan keinginan untuk mendapatkan validasi dari orang lain.

  1. Sering Memposting Prestasi dengan Cara yang Berlebihan

Baca Juga: 7 Alasan Orang Diam saat Rapat Meski Punya Ide Brilian, Jangan Biarkan Ini Terjadi Padamu!

Tidak ada yang salah dengan berbagi pencapaian, tetapi jika setiap prestasi selalu diposting dengan cara yang berlebihan, bisa jadi itu adalah bentuk humblebragging, pamer terselubung yang dikemas dalam kesan merendah.

Contohnya seperti: “Alhamdulillah, nggak nyangka banget bisa dapat penghargaan ini, padahal nggak terlalu berusaha,” atau "Akhirnya bisa beli mobil impian setelah kerja keras tanpa libur, capek sih, tapi worth it banget."

  1. Selalu Memamerkan Hubungan Asmara

Orang yang terlalu sering mengunggah foto romantis, video mesra, atau cerita tentang pasangannya bisa jadi memiliki kecenderungan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Dalam psikologi, fenomena ini disebut relationship-enhancing, di mana seseorang ingin menciptakan kesan bahwa hubungan mereka sempurna. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang benar-benar bahagia justru tidak terlalu membutuhkan pengakuan publik.

  1. Mengunggah Foto di Tempat Hits untuk Meningkatkan Status Sosial

Berfoto di tempat-tempat mewah seperti hotel bintang lima, restoran mahal, atau destinasi wisata populer dan kemudian mempostingnya dengan caption yang seolah-olah santai adalah salah satu bentuk pamer.

Biasanya, orang yang melakukan ini ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kehidupan yang lebih high class dibanding orang lain.

Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan impression management, yaitu usaha seseorang untuk mengontrol bagaimana orang lain melihat dirinya.

  1. Tidak Bisa Lepas dari Jumlah Likes dan Komentar

Tanda paling jelas seseorang terlalu sering pamer di media sosial adalah ketika mereka sangat peduli dengan jumlah likes, komentar, atau share.

Jika unggahan mereka tidak mendapatkan banyak interaksi, mereka bisa merasa cemas atau bahkan menghapus postingannya.

Menurut psikologi, ini adalah tanda ketergantungan pada validasi eksternal, di mana kebahagiaan seseorang bergantung pada bagaimana orang lain menilai dirinya.

Pamer di media sosial sering kali berakar pada kebutuhan akan validasi dan keinginan untuk terlihat lebih baik di mata orang lain.

Meskipun berbagi momen bahagia itu wajar, tetapi jika dilakukan berlebihan, bisa menunjukkan tanda-tanda insekuritas atau bahkan narsisme.

Jadi, sebelum mengunggah sesuatu, ada baiknya bertanya pada diri sendiri: Apakah ini benar-benar untuk berbagi, atau hanya untuk pamer? Bagaimana menurutmu? Pernah menemukan orang dengan perilaku seperti ini di media sosial? (*)

Editor : Adetio Purtama
#pamer #media sosial #psikologi