Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Orang yang Kecanduan Validasi Pasti Melakukan 8 Hal Ini, Apakah Kamu Salah Satunya?

Suci Kurnia Putri • Kamis, 6 Maret 2025 | 12:33 WIB

Ilustrasi orang sedang memamerkan belanjaannya.
Ilustrasi orang sedang memamerkan belanjaannya.
PADEK.JAWAPOS.COM—Mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain memang menyenangkan. Namun, bagi sebagian orang, validasi eksternal bukan sekadar bonus, melainkan kebutuhan. Mereka merasa berharga hanya jika mendapat persetujuan atau pujian dari orang lain.

Yang menarik, kecanduan validasi ini sering kali tidak terlihat jelas. Justru, perilaku ini muncul dalam bentuk kebiasaan sehari-hari yang tampak wajar. Bisa jadi kamu atau orang terdekatmu sering melakukannya tanpa sadar.

Dikutip dari laman Geediting pada Kamis (6/3/25), berikut delapan tanda yang menunjukkan seseorang kecanduan validasi.

  1. Meremehkan Prestasi Sendiri

Orang yang kecanduan validasi cenderung merendahkan pencapaiannya sendiri, bukan karena benar-benar rendah hati, tetapi karena ingin mendapatkan penguatan dari orang lain.

Mereka sering mengatakan, "Ah, ini cuma kebetulan," atau "Aku sebenarnya tidak sehebat itu." Kalimat seperti ini bisa menjadi cara halus untuk memancing pujian dan pengakuan.

  1. Selalu Memeriksa Reaksi Orang Lain

Mereka cenderung terlalu fokus pada respons orang lain terhadap apa yang mereka lakukan atau katakan.

Misalnya, mereka akan terus memperhatikan ekspresi orang lain saat berbicara, memastikan orang tertawa ketika mereka melontarkan lelucon, atau membaca ulang pesan yang mereka kirim berkali-kali untuk memastikan tidak ada yang salah. Jika tidak mendapatkan reaksi yang diharapkan, mereka akan merasa cemas.

  1. Melebih-lebihkan Kesulitan yang Dialami

Orang yang haus validasi sering membesar-besarkan masalahnya agar mendapat perhatian dan simpati. Mereka mungkin tidak berbohong, tetapi secara tidak sadar menggambarkan keadaan lebih sulit dari yang sebenarnya.

Dukungan dan simpati dari orang lain bisa memberikan rasa nyaman, sehingga mereka cenderung mengulangi kebiasaan ini.

  1. Sering Memancing Pujian

Mereka mungkin berkata, "Aku jelek banget hari ini," atau "Aku merasa gagal total," bukan karena benar-benar berpikir demikian, tetapi agar orang lain membantah dan memberikan pujian.

Cara ini sering dilakukan tanpa disadari, dan jika terus-menerus terjadi, bisa menjadi tanda bahwa seseorang sangat bergantung pada validasi eksternal.

  1. Terobsesi dengan Respons di Media Sosial

Bagi seseorang yang kecanduan validasi, jumlah like, komentar, atau share bisa sangat memengaruhi suasana hati mereka.

Mereka akan terus-menerus mengecek notifikasi, menghapus atau mengedit postingan jika responsnya sedikit, dan bahkan membandingkan jumlah like dengan orang lain.

Jika engagement rendah, mereka bisa merasa tidak dihargai atau mulai mempertanyakan diri sendiri.

  1. Menolak Pujian, Tapi Sebenarnya Menginginkannya

Ketika seseorang memberi mereka pujian, mereka cenderung merespons dengan, "Ah, nggak juga," atau "Cuma kebetulan saja."

Namun, sebenarnya mereka ingin mendengar lebih banyak pujian dan pengakuan. Ini adalah bentuk manipulasi halus agar orang lain semakin menegaskan validasi yang mereka cari.

  1. Mengikuti Pendapat Orang Lain Demi Persetujuan

Seseorang yang haus validasi cenderung menghindari perbedaan pendapat. Mereka lebih memilih setuju dengan mayoritas, meskipun sebenarnya punya pandangan berbeda.

Akibatnya, mereka kehilangan identitas asli, sulit mengambil keputusan sendiri, dan selalu berusaha menyenangkan semua orang.

Jika kebiasaan ini terus berlanjut, mereka bisa merasa tidak puas dengan diri sendiri karena selalu berusaha menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.

  1. Harga Diri Bergantung pada Pengakuan Orang Lain

Tanda paling jelas dari kecanduan validasi adalah ketika seseorang merasa berharga hanya jika mendapat pengakuan dari orang lain.

Tanpa pujian atau persetujuan, mereka mulai meragukan kemampuan dan nilai diri sendiri. Mereka merasa kosong, seolah-olah keberadaannya tidak berarti jika tidak mendapat apresiasi dari orang lain.

Mencari pengakuan itu wajar, tetapi jika terlalu bergantung, kita bisa kehilangan kendali atas harga diri kita.

Jadi, apakah kamu menemukan tanda-tanda ini dalam dirimu? Jika iya, mungkin ini saatnya mulai membangun validasi dari dalam diri sendiri, bukan dari pujian orang lain. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Validasi Sosial #validasi