Tidur memang penting untuk kesehatan, tetapi jika kamu menggunakannya sebagai pelarian, itu bisa menjadi tanda bahwa ada tekanan emosional yang belum terselesaikan.
Dikutip dari laman Geediting pada Rabu (26/3/25), menurut psikologi, berikut adalah tujuh tanda bahwa tidur telah menjadi mekanisme koping saat stres.
1. Tidur Lebih Lama dari Biasanya
Jika kamu mulai tidur lebih lama dari biasanya, bahkan melewati batas kebutuhan tubuh. Ini bisa menjadi tanda bahwa kamu menggunakan tidur sebagai cara untuk menghindari realitas.
Carl Jung pernah berkata, "Apa yang kamu tolak, justru bertahan." Artinya, semakin kamu menghindari masalah dengan tidur, semakin lama masalah itu tetap ada dan membebanimu.
2. Sulit Bangun di Pagi Hari
Apakah kamu sering menekan tombol snooze berkali-kali atau merasa malas bangun meskipun sudah cukup tidur? Ini bisa menjadi tanda bahwa tempat tidurmu telah menjadi zona nyaman untuk menghindari dunia nyata.
Sigmund Freud berpendapat bahwa "Mimpi adalah jalan menuju alam bawah sadar." Jika kamu lebih suka tenggelam dalam mimpi daripada menghadapi kenyataan, bisa jadi tidur telah menjadi bentuk pelarianmu.
3. Menghindari Interaksi Sosial
Jika kamu lebih sering mengurung diri di kamar dan memilih tidur daripada bertemu teman atau keluarga, ini bisa menjadi tanda bahwa kamu sedang menghindari tekanan sosial atau emosi yang sulit.
Albert Bandura, psikolog terkenal, menyebut bahwa kepercayaan diri (self-efficacy) sangat penting dalam menghadapi tantangan. Namun, jika tidur menjadi jalan keluar, kepercayaan diri itu bisa semakin menurun.
Baca Juga: 10 Perilaku Menjengkelkan yang tidak Pernah Ditoleransi oleh Orang Cerdas
4. Nafsu Makan Berubah Drastis
Tidur berlebihan sering dikaitkan dengan perubahan pola makan. Beberapa orang kehilangan nafsu makan, sementara yang lain justru makan berlebihan sebagai bentuk self-soothing.
Sebuah penelitian di International Journal of Obesity menunjukkan bahwa tidur lebih lama dapat berpengaruh pada peningkatan asupan kalori.
Jika kamu merasa pola makanmu berubah drastis seiring dengan kebiasaan tidur berlebihan, ini bisa menjadi tanda kamu sedang berusaha mengatasi tekanan emosional.
5. Kehilangan Motivasi untuk Beraktivitas
Apakah kamu merasa tidak lagi bersemangat melakukan hal-hal yang dulu kamu sukai? Jika tidur menjadi pilihan utama dibandingkan melakukan aktivitas yang biasanya menyenangkan, bisa jadi kamu sedang mengalami kelelahan mental.
Abraham Maslow dalam teorinya menyebutkan bahwa manusia perlu mencapai aktualisasi diri. Jika tidur justru menggantikan usaha untuk mencapai sesuatu, bisa jadi kamu sedang berada di titik rendah dalam hierarki kebutuhan Maslow.
6. Tiba-Tiba Punya Energi Berlebihan pada Hal yang tidak Penting
Ironisnya, orang yang menggunakan tidur sebagai pelarian terkadang mengalami lonjakan energi tak terduga, tetapi untuk hal-hal yang tidak produktif, seperti binge-watching atau scrolling media sosial tanpa henti.
Carl Rogers pernah berkata, "Ketika saya menerima diri saya apa adanya, saya bisa berubah." Namun, jika lonjakan energi hanya digunakan untuk pengalihan perhatian, bukan untuk menghadapi masalah, perubahan yang diinginkan mungkin sulit terjadi.
7. Lebih Mudah Marah atau Sensitif
Tidur berlebihan bisa berdampak pada keseimbangan emosi. Jika kamu merasa lebih mudah marah atau tersinggung tanpa alasan jelas, itu bisa jadi efek dari pola tidur yang tidak sehat.
Jika tidur menjadi satu-satunya cara untuk menghindari stres, emosi negatif justru bisa semakin sulit dikendalikan.
Tidur adalah kebutuhan, tetapi jika kamu menggunakannya sebagai pelarian dari masalah, itu bisa menjadi tanda bahwa ada tekanan emosional yang perlu diatasi.
Jika kamu melihat tanda-tanda ini pada dirimu atau orang terdekat, cobalah untuk mencari cara lain dalam menghadapi stres, seperti berbicara dengan seseorang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional.
Karena pada akhirnya, menghadapi masalah adalah satu-satunya cara untuk benar-benar melepaskannya. (*)
Editor : Adetio Purtama