Empati adalah fondasi dari hubungan sosial yang sehat, kerja sama yang harmonis, dan dunia yang lebih manusiawi. Tapi bagaimana cara agar anak tumbuh dengan hati yang peka terhadap sesama?
Jawabannya ada pada kamu, sebagai orang tua atau pengasuh utama. Bukan soal menjadi sempurna, tapi soal hadir dan konsisten.
Dikutip dari laman Blog Herald pada Kamis (17/4/25), berikut ini tujuh kebiasaan orang tua yang secara konsisten berhasil menanamkan empati pada anak, menurut pandangan psikologi.
1. Dengarkan dengan Penuh Perhatian, Bukan Sekadar Menanggapi
Anak-anak belajar dari bagaimana kamu mendengarkan mereka. Ketika kamu menatap mata mereka, menanggapi dengan lembut, dan benar-benar hadir dalam obrolan, mereka belajar bahwa perasaan itu valid.
Ini bukan soal memecahkan masalah, tapi soal memberi ruang. Dan dari situlah empati tumbuh, dari perasaan dimengerti.
2. Jadilah Contoh Nyata Empati
Anak-anak meniru, bukan cuma mendengar. Ketika kamu memperlakukan orang lain dengan lembut, misalnya membantu tetangga yang kesusahan atau memberi makan kucing liar, anak menangkap pesan itu lebih dalam dibandingkan ceramah.
Mereka belajar bahwa peduli itu bukan teori, tapi tindakan nyata.
3. Izinkan Anak Mengekspresikan Emosi
Jangan buru-buru bilang, “Ah, gitu aja nangis.” Emosi adalah bagian dari manusia. Saat kamu mengizinkan anak marah, sedih, atau kecewa tanpa menyalahkan, kamu sedang membantu mereka memahami bahwa semua orang bisa merasa rapuh.
Baca Juga: Silek Tradisi Wajib di SMA Sumbar, Pemprov Tegaskan Pendidikan Berbasis Budaya Lokal
Dari situlah kemampuan berempati terhadap emosi orang lain berkembang.
4. Ajak Anak Melihat dari Sudut Pandang Lain
Ketika terjadi konflik kecil, jangan langsung menghakimi. Cobalah tanya, “Menurut kamu, bagaimana perasaan temanmu saat itu?”
Pertanyaan seperti ini mendorong anak memikirkan perasaan orang lain, bukan cuma fokus pada dirinya. Inilah latihan empati paling sederhana tapi efektif.
5. Tanamkan Kebaikan sebagai Nilai Dasar
Kebaikan itu menular. Saat anak diberi pemahaman bahwa berbagi mainan bisa membuat teman bahagia, atau membantu ibu menyiapkan makanan bisa bikin suasana jadi hangat, mereka belajar bahwa tindakan kecil bisa berdampak besar. Di sinilah nilai empati menemukan akarnya.
6. Biarkan Anak Belajar dari Kesalahan
Kesalahan bukanlah musuh. Justru dari rasa malu, bersalah, atau kecewa karena sebuah kesalahan, anak belajar memahami perasaan orang lain yang pernah ada di posisi serupa.
Jangan langsung memarahi, dampingi dan ajak refleksi. Dari sini, anak belajar bahwa semua orang bisa salah dan itu manusiawi.
7. Biasakan Bersyukur, Sekecil Apa pun Itu
Terima kasih bukan hanya soal sopan santun. Ini adalah bentuk pengakuan terhadap kebaikan orang lain.
Saat anak terbiasa mengucapkan syukur, mereka jadi lebih menghargai, lebih sadar, dan lebih peka terhadap apa yang orang lain berikan. Rasa syukur memperkuat benih empati.
Empati itu bukan bawaan lahir, tapi hasil dari pembiasaan. Mereka mungkin tak akan langsung jadi sempurna. Tapi setiap langkah kecilmu hari ini, adalah investasi besar untuk dunia yang lebih berperasaan besok. (*)
Editor : Hendra Efison