Di tempat ini, limbah kelapa yang dulu terbuang dan menumpuk kini menjelma menjadi karya bernilai seni dan ekonomi tinggi—sekaligus bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan.
Beragam hasil olahan terpajang rapi di rak kayu: pot bunga berbahan sabut kelapa, pupuk organik, lukisan serat, hingga tas dan souvenir yang memikat mata.
Tak sekadar menjual hasil karya, Farilla Craft juga menjadi ruang belajar bagi siapa pun yang ingin memahami bahwa limbah pun bisa hidup kembali dalam bentuk yang indah.
Semua berawal dari langkah kecil Iga Analusya (30), pengelola Farilla Craft. Ia mengaku ide itu tumbuh setelah mengikuti pelatihan pengolahan limbah kelapa beberapa tahun lalu.
“Awalnya cuma iseng belajar, tapi lama-lama sadar kalau limbah ini bisa punya nilai ekonomi dan manfaat besar untuk lingkungan,” ujarnya, Jumat (7/11/2025).
Dari pelatihan itu, Iga membangun sebuah galeri kecil yang kini berkembang menjadi pusat edukasi.
Di sini, masyarakat diajari cara mengolah cocopeat (sabut kelapa) menjadi pupuk, cocofiber (serbuk kelapa) menjadi pot bunga, dan cocobristle (serat kelapa) menjadi lukisan serta tas.
Semua bahan berasal dari limbah yang dulunya dianggap tak berguna.
“Pupuk itu ada proses penjemuran dan perendaman jadi bisa sekitar 7–10 hari. Kalau untuk produk lainnya, dari ambil limbah sampai jadi produk, paling cepat dua minggu,” tutur Iga sambil menunjukkan tumpukan sabut yang tengah dijemur di halaman belakang.
Namun, Farilla Craft bukan sekadar usaha produksi. Iga membuka pintu bagi siapa pun yang ingin belajar, dari pelajar, mahasiswa, hingga komunitas pemerhati lingkungan.
Ia sering diundang untuk mengisi pelatihan dan seminar tentang pengolahan limbah kelapa, bahkan tak jarang menerima permintaan pelatihan langsung di galeri mereka.
“Kita selalu senang kalau ada yang ingin belajar. Biasanya instansi atau komunitas datang untuk studi banding atau penelitian,” kata Iga.
“Kepuasan terbesar itu ketika produk kita diapresiasi customer. Kadang kami sampai begadang menyelesaikan pesanan, tapi rasanya terbayar kalau hasilnya disukai.”
Selain berdampak pada lingkungan, usaha ini juga menjadi tumpuan bagi anak-anak putus sekolah dan ibu rumah tangga di sekitar lokasi.
Mereka ikut mengerjakan berbagai pesanan produk, dari souvenir hingga lukisan, sehingga mendapat tambahan penghasilan.
Kini, Farilla Craft bukan hanya tempat produksi kerajinan, tetapi juga simbol semangat perubahan bahwa, dari limbah yang dianggap tak bernilai, tumbuh kehidupan baru—lebih hijau, lebih bermakna, dan lebih memberdayakan. (Riyadhatul Khalbi/cr4)
Editor : Hendra Efison