Riset yang diterbitkan di International Journal of Behavioral Development ini dilakukan oleh tim peneliti dari University of Hong Kong yang dipimpin oleh Sum Kwing Cheung, Bertha H. C. Kum, dan Rebecca Y. M. Cheung.
Studi tersebut melibatkan 226 anak usia taman kanak-kanak beserta orang tua mereka.
Dua Tipe Perfeksionisme Orang Tua
Para peneliti membedakan dua jenis utama perfeksionisme dalam pola asuh, yakni:
- Perfeksionistik Strivings, yaitu orang tua yang menetapkan standar tinggi secara konstruktif dan tetap memberikan dukungan emosional.
- Perfeksionistik Concerns, yaitu orang tua yang lebih fokus pada kesalahan anak dan kerap mengekspresikan kritik atau kekecewaan ketika ekspektasi tidak terpenuhi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari orang tua dengan tipe pertama cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih pemaaf, empatik, dan mudah beradaptasi dalam hubungan sosial.
Sebaliknya, pola asuh yang penuh kritik justru membuat anak lebih defensif dan kesulitan menjalin hubungan positif dengan teman sebaya.
Sikap Memaafkan sebagai Penghubung
Penelitian ini menemukan bahwa sikap memaafkan menjadi faktor kunci yang menjembatani hubungan antara perfeksionisme orang tua dan kemampuan sosial anak.
Artinya, bukan seberapa tinggi standar yang ditetapkan orang tua yang berpengaruh, melainkan sejauh mana anak belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain dalam proses tumbuh kembangnya.
Anak yang memiliki kemampuan memaafkan lebih mudah memahami perasaan orang lain, menyelesaikan konflik dengan damai, dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Peran Orang Tua dalam Pembelajaran Sosial
Kemampuan sosial anak tidak hanya terkait kemampuan bergaul, tetapi juga menjadi dasar kecerdasan emosional.
Anak dengan keterampilan sosial yang baik umumnya lebih mudah menyesuaikan diri di sekolah dan menunjukkan empati dalam kehidupan sehari-hari.
Para ahli menekankan bahwa pembelajaran sosial anak dimulai dari rumah.
Cara orang tua berinteraksi—seperti berbicara dengan tenang saat marah, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengakui kesalahan—menjadi contoh konkret yang lebih efektif dibandingkan nasihat verbal.
Sebaliknya, lingkungan keluarga yang penuh tekanan dan kritik dapat membuat anak menganggap kasih sayang harus diperoleh melalui kesempurnaan.
Peran Ganda Ayah dan Ibu
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya keseimbangan peran antara ayah dan ibu. Keduanya memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter sosial anak.
Ekspektasi yang disampaikan dengan kasih sayang membantu anak memahami tanggung jawab tanpa kehilangan rasa aman. Sebaliknya, ketidakseimbangan pola asuh dapat menimbulkan kebingungan emosional.
Lebih dari Sekadar Harapan
Temuan ini mempertegas bahwa anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang mau belajar dan memaafkan, sama seperti anak sedang belajar memahami dunia.
Peneliti menilai bahwa kasih sayang dan kesabaran lebih berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak dibandingkan tuntutan dan kritik berlebihan. (CC6)
Editor : Hendra Efison