Komunitas ini mempertemukan warga dari berbagai latar belakang untuk membaca buku pilihan masing-masing, kemudian berbagi cerita dan gagasan dari bacaan tersebut.
Kegiatan utama Payakumbuh Book Party dilakukan dengan konsep sederhana tanpa kurikulum dan daftar bacaan wajib.
Peserta bebas datang membawa buku apa pun, mulai dari novel, puisi, sejarah, hingga nonfiksi populer.
Pertemuan rutin digelar di taman kota, kafe, perpustakaan, dan ruang publik lain yang memungkinkan warga berkumpul.
Dalam setiap kegiatan, sesi membaca dilakukan secara hening dalam durasi tertentu agar peserta fokus pada bacaan masing-masing.
Setelah sesi membaca, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi singkat tentang isi buku, ide utama, dan alasan memilih bacaan.
Percakapan berlangsung terbuka tanpa moderator formal dan tanpa hierarki pengetahuan.
Selain membaca bersama, komunitas ini juga mengadakan diskusi tematik dan bedah buku.
Pada kesempatan tertentu, penulis lokal diundang untuk berbagi pengalaman menulis dan proses kreatif karya mereka.
Payakumbuh Book Party memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan kegiatan dan membagikan rekomendasi bacaan.
Informasi kegiatan, foto pertemuan, dan catatan diskusi dibagikan secara berkala kepada publik.
Baca Juga: Persija Resmi Rekrut Shayne Pattynama Hingga 2,5 Musim
Anggota komunitas berasal dari berbagai profesi, termasuk pelajar, mahasiswa, petani, pelaku usaha, pekerja kreatif, dan aparatur sipil negara.
Seluruh peserta mengikuti kegiatan tanpa membawa identitas profesi, duduk setara dalam setiap pertemuan.
Reni (23), mahasiswa yang bergabung dalam komunitas ini, mengatakan suasana membaca bersama membuatnya lebih nyaman.
“Di sini saya bisa membaca tanpa tekanan dan bebas menyampaikan pemahaman saya,” ujar Reni.
Yohan (39), pengusaha kopi di Payakumbuh, menilai diskusi dalam komunitas tersebut memberi sudut pandang baru.
“Diskusinya santai dan tidak menggurui. Banyak perspektif yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.
Koordinator sekaligus pendiri Payakumbuh Book Party, Adal (40), menyebut komunitas ini dibentuk untuk menghidupkan kembali kebiasaan membaca bersama.
“Kami ingin membaca menjadi aktivitas kolektif yang bisa dinikmati siapa saja,” ujar Adal. (CR7)
Editor : Hendra Efison