Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sering Mengeluh Picu Gangguan Otak dan Daya Tahan Tubuh, Ini Temuan Ahli Saraf

Mengki Kurniawan • Minggu, 8 Februari 2026 | 20:07 WIB

Ilustrasi aktivitas seseorang yang menunjukkan ekspresi stres, menggambarkan dampak kebiasaan mengeluh terhadap kesehatan otak dan sistem imun. (pinterest)
Ilustrasi aktivitas seseorang yang menunjukkan ekspresi stres, menggambarkan dampak kebiasaan mengeluh terhadap kesehatan otak dan sistem imun. (pinterest)
PADEK.JAWAPOS.COM—Kebiasaan mengeluh yang kerap dianggap wajar ternyata berdampak serius terhadap kesehatan otak dan sistem kekebalan tubuh manusia.

Temuan ini disampaikan berdasarkan penelitian kesehatan saraf yang menyoroti perubahan fungsi otak akibat pola pikir negatif yang berulang.

Informasi tersebut dihimpun dari pemaparan ahli saraf Emily McDonald yang dilansir Times of India pada Selasa (3/2/2026).

Penelitian tersebut menjelaskan bahwa aktivitas mengeluh berlebihan memengaruhi cara otak memproses informasi harian.

Emily McDonald menjelaskan bahwa otak memiliki sifat plastisitas. Artinya, struktur dan jalur saraf akan menyesuaikan diri dengan aktivitas mental yang paling sering dilakukan seseorang.

“Kalau terlalu sering mengeluh, otak jadi terbiasa menangkap hal-hal negatif. Alhasil, fokus gampang buyar, produktivitas turun, dan kemampuan memikirkan solusi ikut melemah,” ujar Emily McDonald.

Dijelaskan, saat seseorang mengeluh, tubuh akan melepaskan hormon kortisol atau hormon stres. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, kadar kortisol dalam darah dapat meningkat secara kronis.

Peningkatan hormon stres tersebut berdampak langsung pada hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam memori dan pemecahan masalah. Dalam jangka panjang, hipokampus berisiko mengalami penyusutan fungsi.

Dampak Fisik dan Kognitif Akibat Pola Pikir Negatif

Selain memengaruhi kinerja kognitif, kebiasaan mengeluh juga berdampak pada kesehatan fisik. Stres kronis akibat dominasi pikiran negatif dapat memicu berbagai gangguan kesehatan.

Gangguan yang kerap muncul antara lain sakit kepala berulang dan gangguan pola tidur atau insomnia. Kondisi ini terjadi karena tubuh berada dalam keadaan tegang secara terus-menerus.

Tekanan darah tinggi juga menjadi risiko nyata. Saat emosi negatif mendominasi, jantung dipaksa bekerja lebih keras sehingga berpotensi merusak pembuluh darah dalam jangka panjang.

Dampak paling mengkhawatirkan adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh. Sistem saraf yang terus berada dalam mode siaga menurunkan kemampuan sel darah putih melawan virus dan bakteri.

Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengeluh tidak hanya memengaruhi mental, tetapi juga ketahanan fisik secara menyeluruh.

Pengaruh Sosial dan Upaya Pemulihan Mental

Penelitian tersebut juga menyoroti bahwa kebiasaan mengkritik orang lain secara berlebihan termasuk perilaku mengeluh yang merugikan. Lingkungan sosial yang tercipta menjadi tidak sehat dan menambah beban mental individu.

Rusaknya hubungan interpersonal akibat pola komunikasi negatif justru memperkuat siklus stres. Hal ini membuat individu semakin sulit keluar dari kebiasaan mengeluh.

Para ahli menyarankan masyarakat mulai melatih pola pikir positif sebagai langkah pemulihan. Salah satu metode yang dianjurkan adalah membiasakan rasa syukur dalam aktivitas sehari-hari.

Praktik bersyukur diketahui dapat merangsang hormon dopamin dan serotonin yang berperan dalam memperbaiki suasana hati serta memperkuat koneksi saraf otak. Pendekatan ini membantu otak tetap berfungsi optimal di tengah tekanan.

Kesadaran menjaga kesehatan mental sejak dini dinilai penting. Menghindari kebiasaan mengeluh merupakan langkah preventif untuk menjaga kesehatan otak dan sistem imun dalam jangka panjang.(cr3)

Editor : Hendra Efison
#sistem imun tubuh #hormon kortisol #kebiasaan mengeluh #stres kronis #kesehatan otak #dampak kebiasaan mengeluh terhadap kesehatan otak