Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bed Rotting Jadi Tren di Kalangan Remaja, Pakar IPB Ungkap Dampak dan Batas Sehatnya

Heri Sugiarto • Kamis, 23 April 2026 | 10:24 WIB
Remaja berdiam lama di tempat tidur sambil bermain gawai, menggambarkan fenomena bed rotting yang semakin marak di kalangan anak muda.(Foto: Tyla)
Remaja berdiam lama di tempat tidur sambil bermain gawai, menggambarkan fenomena bed rotting yang semakin marak di kalangan anak muda.(Foto: Tyla)

PADEK.JAWAPOS.COM-Fenomena bed rotting di Indonesia semakin populer dalam beberapa waktu terakhir, terutama di kalangan remaja dan Gen Z. Perilaku ini merujuk pada kebiasaan berdiam lama di tempat tidur sambil berselancar di media sosial atau menonton video.

Meski sering dianggap sebagai bentuk kemalasan, Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University, Yulina Eva Riany, menegaskan bahwa fenomena ini memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks.

“Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,” ujarnya.

Dimensi Psikologis dalam Bed Rotting

Dr Yulina menjelaskan bahwa remaja berada pada fase identity vs role confusion, yaitu tahap penting dalam pencarian jati diri. Dalam fase ini, dunia digital menjadi ruang eksplorasi baru bagi remaja.

“Bed rotting tidak selalu bisa dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ‘ruang jeda’ sekaligus ‘ruang eksplorasi’ bagi remaja,” jelasnya.

Namun fenomena ini bersifat ambivalen. Paparan berlebih terhadap kehidupan ideal di media sosial dapat memicu perbandingan sosial dan kecemasan.

“Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,” tambahnya.

Dampak Bed Rotting dan Batas Sehatnya

Menurut Dr Yulina, bed rotting berada di wilayah abu-abu antara self-care dan perilaku maladaptif. Jika dilakukan secara sadar untuk memulihkan energi, perilaku ini dapat menjadi strategi regulasi diri yang sehat.

Namun, jika berubah menjadi pelarian dari tekanan, maka termasuk dalam pola avoidance coping.

Ia menegaskan bahwa selama individu masih memiliki kendali dan mampu kembali beraktivitas, maka perilaku tersebut masih tergolong wajar. Sebaliknya, ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa menjadi serius.

Dalam kondisi tertentu, bed rotting dapat menjadi indikasi masalah kesehatan mental seperti burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi.

Tanda-tandanya meliputi kehilangan minat, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan fungsi dalam akademik atau pekerjaan.

Cara Menghindari Dampak Negatif Bed Rotting

Dr Yulina menekankan bahwa istirahat yang sehat harus dilakukan dengan kesadaran dan batas waktu yang jelas. Ia menyarankan agar individu menetapkan durasi istirahat, membatasi penggunaan gawai di tempat tidur, serta mengganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau peregangan.

“Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,” pungkasnya, dikutip dari laman IPB University.(")

Editor : Heri Sugiarto
#bed rotting #psikologi remaja #ipb university #kesehatan mental #remaja