Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Apa itu Filateli dan Bagaimana Sejarahnya di Indonesia?

Tandri Eka Putra • Minggu, 5 Juli 2026 | 19:22 WIB
contoh gambar prangko
contoh gambar prangko

 

PADEK.JAWAPOS.COM - Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup global menghadirkan tantangan 
baru bagi beragam hobi tradisional, salah satunya filateli atau aktivitas mengumpulkan prangko. Meskipun terkesan kuno, filateli tetap memiliki penggemar setia di Indonesia, menjadi sumber pengetahuan sejarah, sosial, dan budaya yang tidak lekang oleh waktu.

Setiap 29 Maret, komunitas filatelis nasional dan internasional memperingati Hari Filateli, menandai perjalanan panjang dan kontribusi penting filateli sebagai pelestari warisan pos serta sejarah bangsa.

Sejarah Filateli dan Perkembangannya di Indonesia

Dilansir dari situs resminya filateli.co.id, Filateli berasal dari bahasa Yunani, yaitu “philos” yang berarti teman, dan “ateleia” yang berarti bebas bea, sehingga harfiahnya bermakna membebaskan teman dari bea pos. Istilah ini muncul pada 1864 di Prancis, namun minat terhadap prangko sudah muncul lebih awal, ketika Dr. Gray dari Inggris mulai mengoleksi prangko melalui iklan di The London Times tahun 1841.

Di Indonesia, tradisi ini mulai berkembang sejak pertemuan para kolektor prangko di Batavia pada 29 Maret 1922, yang melahirkan klub “Postzegelverzamelaars Club Batavia”. Organisasi ini terus berkembang dan mengalami beberapa kali perubahan nama, mulai dari “Nederlandsch indische vereeniging van postzegel verzamelaars”, hingga menjadi “Perkumpulan Filatelis Indonesia” (PFI) sejak 1985.

Bergabungnya Indonesia dengan Federation International de Philatelie (FIP) pada 1969 memperkuat posisi filatelis nasional di kancah internasional.

“Dengan keanggotaan di FIP, kolektor Indonesia dapat mengikuti tren dunia dan sering terlibat dalam pameran internasional,” ujar Arif Budiman, Ketua Harian PFI.

Hingga kini, komunitas filatelis di Indonesia masih aktif menggelar pameran, diskusi, dan edukasi kepada generasi muda, didukung fasilitas resmi seperti loket filateli PT Pos Indonesia dan layanan daring.

Tantangan di Era Digital dan Upaya Pelestarian

Masuknya era digital membawa perubahan signifikan pada dunia filateli. Prangko sebagai benda pos mulai tergeser oleh komunikasi elektronik, menyebabkan penurunan penggunaan dan ketertarikan publik, terutama dari kalangan muda. Namun, transformasi digital juga membuka peluang baru melalui jual beli prangko secara daring dan pameran virtual.

“Kami beradaptasi dengan era digital melalui platform filateli.co.id dan aplikasi Filateli Mobile,” jelas Yudi Setiawan, Kepala Divisi Filateli PT Pos Indonesia. Ia menambahkan, pemesanan dan koleksi kini bisa diakses lebih luas, bahkan oleh generasi muda yang akrab dengan teknologi.

Selain itu, sejumlah pameran filateli terus digelar di berbagai kota. Misalnya, pameran di Semarang yang mengangkat sejarah pendudukan Jepang melalui prangko koleksi langka. Fadli Zon, penggemar filateli sekaligus anggota DPR RI, dalam pembukaan salah satu pameran menyatakan:

“Melalui filateli, kita belajar membaca sejarah bangsa secara visual dan mendalam. Prangko adalah arsip mini yang mencatat perjalanan bangsa.”

Data dari PFI menunjukkan bahwa jumlah anggota aktif komunitas filateli di Indonesia masih stabil di kisaran 12.000 orang sejak lima tahun terakhir, meski angka kolektor pemula cenderung fluktuatif sebagai dampak dari digitalisasi.

Tahun    Anggota PFI    Acara Pameran
2020    11.900    16
2021    12.050    14
2022    12.100    12
2023    12.000    15
2024    12.000    17
Peningkatan aktivitas daring serta pameran bertema edukasi sejarah dinilai efektif memperkenalkan filateli pada generasi baru.

“Kami optimistis, minat masyarakat akan filateli bisa tumbuh kembali jika didukung inovasi dan pelibatan generasi muda,” terang Yudi Setiawan.

Nilai Historis, Budaya, dan Ekonomi Filateli

Filateli bukan hanya sekadar hobi; ia berperan sebagai penjaga sejarah, budaya, dan identitas bangsa. Setiap prangko memuat cerita, mulai dari tokoh nasional, peristiwa penting, keanekaragaman hayati, hingga seni dan arsitektur Nusantara.

“Prangko adalah cermin perjalanan bangsa dari masa ke masa. Koleksi prangko dapat menjadi jendela pengetahuan dan sumber inspirasi nasionalisme,” kata Rini Kusuma, filatelis dan pengajar sejarah di Yogyakarta. Ia menambahkan, prangko juga memiliki nilai ekonomi, terutama untuk edisi langka atau bersejarah yang diburu kolektor internasional.

Fakta menarik, prangko tertua Indonesia terbit pada masa kolonial Belanda tahun 1864. Sementara itu, prangko edisi kemerdekaan dan peringatan peristiwa nasional kerap menjadi incaran utama kolektor. Data dari situs lelang internasional menunjukkan bahwa prangko Indonesia edisi langka dapat dilepas dengan harga mulai dari jutaan hingga puluhan juta rupiah per lembarnya, tergantung kelangkaan dan kondisi fisik.

Untuk menjaga nilai dan kelestarian hobi ini, PFI bersama PT Pos Indonesia secara rutin menerbitkan prangko edisi khusus dan tematik yang relevan dengan isu nasional dan internasional. (*)

Dengan demikian, filateli tidak sekadar nostalgia masa lalu, tetapi juga jembatan lintas generasi yang mempertautkan sejarah, budaya, dan inovasi teknologi. Selama komunitas filatelis, pemerintah, dan masyarakat terus bersinergi, filateli diyakini tetap hidup dan berkembang di tengah era digital yang serba cepat.

Editor : Tandri Eka Putra
#Filateli #Prangko #Historis #ekonomi #komunitas