Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Angkat Kisah Personal dalam Balutan Pop

Adetio Purtama • Sabtu, 11 April 2026 | 10:23 WIB
Solois, Aga Alfari saat tampil di salah satu iven beberapa waktu lalu.
Solois, Aga Alfari saat tampil di salah satu iven beberapa waktu lalu.

PADEK.JAWAPOS.COM - Industri musik di Sumatera Barat kembali kedatangan talenta baru yang mulai menapaki karier sebagai solois pada tahun 2026, Aga Alfari. Dalam waktu singkat, musisi ini telah merilis dua single bertajuk A Day To Leave All Behind dan Lost in Sumatra, yang keduanya mengusung genre pop dengan nuansa emosional dan personal. Seperti apa perjalanan karirnya?

Perjalanan bermusik Aga Alfari dimulai pada awal 2026, yang menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Musik tidak hanya menjadi sarana ekspresi, tetapi juga arah baru dalam menemukan jati diri. Ia mengaku, keputusannya terjun ke dunia musik tidak lepas dari pertemuannya dengan Brian Rahmattio, sesama musisi, yang berperan besar dalam membuka jalannya di industri ini.

Kepada Padang Ekspres, Aga bercerita, dalam proses awal meniti karier sebagai solois, ia banyak belajar dari Brian Rahmattio, mulai dari dasar-dasar musik hingga bagaimana menuangkan cerita pribadi menjadi karya lagu.

Baca Juga: Rifki Resmi Dilantik sebagai Kepala Kanwil Kemenhaj Sumbar, Siap Sukseskan Haji 2026

Selain itu, proses produksinya juga didukung oleh Raihan Setiawan yang turut membantu membentuk karakter musiknya.

Sejak awal, ia memilih genre pop sebagai identitas bermusiknya. Pilihan tersebut didasarkan pada kecintaannya terhadap musik pop sejak kecil. Bahkan, Aga mengakui bahwa karya-karya Brian Rahmattio menjadi salah satu inspirasi utama dalam perjalanan kreatifnya.

Meski baru memulai karier sekitar tiga bulan, ia telah menghasilkan dua single. Lagu A Day To Leave All Behind menjadi karya perdana yang menandai awal perjalanannya di industri musik.

Lagu ini bercerita tentang kehidupan sebagai anak rantau yang harus menghadapi kesendirian, pencarian jati diri, serta pergulatan antara bertahan atau menyerah. Pesan yang ingin disampaikan adalah pentingnya mengambil waktu sejenak untuk beristirahat dari tekanan hidup dan melepaskan beban yang ada.
Sementara itu, lagu Lost in Sumatra merupakan lanjutan cerita dari single pertamanya. Lagu ini menggambarkan fase kehilangan arah dan penyesalan dalam hidup. Ia juga memasukkan elemen perjalanan pribadinya dari Jambi ke Padang sebagai latar emosional dalam lagu tersebut.

Aga menyebut, penggunaan kata “Sumatra” menjadi simbol perjalanan fisik sekaligus batin yang ia alami. Dalam proses penciptaan lagu, seluruh materi yang diangkat berasal dari pengalaman pribadi. Namun, peran Brian Rahmattio tetap dominan dalam membantu merealisasikan ide-ide tersebut menjadi karya musik yang utuh. Ia bahkan menyebut bahwa tanpa bimbingan sang mentor, dirinya hanya sebatas penikmat musik dan belum memahami proses kreatif di baliknya.

Baca Juga: Angka Kemiskinan Tanahdatar Terendah di Sumbar

Terkait pengalaman manggung, ia baru sekali tampil di atas panggung, yakni dalam sebuah acara musik lokal di Padang yang digagas oleh musisi setempat, Panji The Venyamin. Penampilan tersebut menjadi momen berkesan karena untuk pertama kalinya ia membawakan lagu ciptaannya sendiri di hadapan publik.
Dalam melihat perkembangan industri musik saat ini, ia menilai platform digital memiliki peran yang sangat penting dalam promosi karya. Ia aktif memanfaatkan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube untuk memperkenalkan lagu-lagunya. Bahkan, ia mengelola beberapa akun TikTok sekaligus demi menjangkau lebih banyak pendengar. Meski tidak selalu mendapatkan respons besar, ia tetap konsisten memproduksi konten setiap hari dengan harapan dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Ia juga menilai ekosistem musik di Sumatera Barat cukup berkembang, terutama dari sisi gigs yang dinilai sudah memberikan ruang bagi musisi lokal untuk tampil. Sementara itu, skena musik di wilayah ini disebutnya cukup beragam dan menjadi kekuatan tersendiri dalam menciptakan warna musik yang khas.
Namun demikian, ia menilai musisi Sumatera Barat masih membutuhkan dukungan yang lebih besar, terutama dalam hal promosi berskala luas agar mampu menembus pasar nasional. Minimnya akses media promosi menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi bersama.


Ke depan, ia berharap industri musik di Sumatera Barat dapat berkembang hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Saat ini, ia juga tengah mempersiapkan proyek berikutnya berupa album yang masih dalam tahap penggarapan.

Dengan semangat dan konsistensi, musisi muda ini optimistis dapat terus berkembang dan membawa warna baru dalam industri musik Tanah Air. (***)

Editor : Adriyanto Syafril
#Aga Alfari Musisi Padang #Single Lost in Sumatra #Profil Penyanyi Pop Sumatera Barat #Industri Musik Sumbar 2026 #Brian Rahmattio