Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perjalanan Rumble di Skena Hardcore: Terinspirasi Scene New York Hardcore, Siap Debut Album

Adetio Purtama • Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:28 WIB
Rumble, salah satu band hardcore asal Sumbar yang terus produktif melahirkan karya. (DOKUMENTASI RUMBLE)
Rumble, salah satu band hardcore asal Sumbar yang terus produktif melahirkan karya. (DOKUMENTASI RUMBLE)

Salah satu nama baru yang mulai mencuri perhatian di industri musik Sumatera Barat (Sumbar) adalah Rumble. Mereka merupakan grup musik hardcore yang lahir dari kultur gigs kolektif dan semangat persaudaraan skena underground Sumbar.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang--

Rumble ini resmi terbentuk pada Januari 2024 setelah para personelnya sering bertemu dalam berbagai gigs lokal di Kota Padang.

Pertemuan tersebut banyak terjadi dalam acara yang digelar kolektif underground lokal Invasion Crew di Menace Space, sebuah ruang kreatif yang menjadi titik berkumpulnya komunitas musik independen di Padang.

Baca Juga: Kota Solok Raih Opini WTP Ke-10 Berturut-turut dari BPK Sumbar

Menariknya, beberapa personel Rumble memang merupakan bagian dari kolektif Invasion Crew, sehingga proses terbentuknya band berlangsung secara alami melalui kedekatan di skena musik lokal.

Berawal dari Kesamaan Selera Musik Hardcore New York

Rumble lahir dari kesamaan referensi musik antarpersonelnya. Setelah sering berbincang usai gigs, mereka menyadari sama-sama menggemari band-band hardcore dari skena New York Hardcore (NYHC), Amerika Serikat.

Kepada Padang Ekspres, para personel bercerita bahwa scene NYHC dikenal dengan karakter musik hardcore yang lebih berat, agresif, dan banyak dipengaruhi unsur metal. Meski begitu, seiring perjalanan waktu, referensi musik Rumble berkembang lebih luas dan tidak hanya terpaku pada band-band hardcore New York saja.

Baca Juga: Dharmasraya Raih Opini WTP Murni 2025, Bukti Tata Kelola Keuangan Semakin Baik

Formasi awal Rumble diisi oleh Aji sebagai vokalis, Aii di gitar, Frans di gitar, Kayaik pada bass, dan Diva di drum. Namun dalam perjalanannya, Kayaik dan Diva memutuskan melanjutkan kehidupan di luar Kota Padang.

Situasi tersebut membuat Rumble melakukan penyesuaian formasi. Arifa kemudian masuk mengisi posisi bassist, sementara Frans yang sebelumnya bermain gitar berpindah posisi menjadi drummer.

Meski begitu, Rumble menegaskan tidak pernah “mendepak” Kayaik dan Diva dari keluarga besar mereka. Saat ini, formasi aktif Rumble terdiri dari Aji (vokal), Aii (gitar), Frans (drum), dan Arifa (bass).

Baca Juga: Gunung Marapi Erupsi, Kolom Abu Setinggi 2.000 Meter Membubung ke Langit 

Nama Rumble dan Energi Hardcore yang Menggelegar

Nama Rumble dipilih karena dianggap sederhana namun memiliki makna kuat. Dalam bahasa Inggris, “rumble” berarti gemuruh atau getaran.

Nama tersebut dinilai sangat merepresentasikan musik hardcore yang mereka usung, yakni musik penuh energi yang mampu memantik adrenalin penonton di setiap pertunjukan.

Sejak awal berdiri, Rumble memang secara sadar memilih jalur hardcore sebagai identitas musikal mereka. Alasannya sederhana: seluruh personel memang menyukai musik hardcore karena enerjik, lugas, dan langsung menghantam tanpa basa-basi.

Baca Juga: Dunia Penerbitan dan Ketersediaan Bahan Bacaan di Sumatera Barat

Dalam proses kreatifnya, Rumble banyak dipengaruhi band-band hardcore modern yang heavy dan groovy seperti Expire, Never Ending Game, Pain of Truth, Magnitude, hingga Guilt Trip.

“The Hustler”, Lagu Tentang Perjuangan Hidup

Pada Juni 2025, Rumble merilis single perdana berjudul The Hustler. Lagu tersebut menjadi representasi identitas musikal sekaligus keresahan hidup yang ingin mereka suarakan.

Secara lirik, lagu-lagu Rumble banyak berbicara mengenai pengalaman pribadi para personelnya yang juga dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama soal perjuangan menjalani kehidupan sehari-hari.

Tema yang diangkat berkisar pada tekanan hidup, pekerjaan, tantangan personal, hingga bagaimana seseorang menghadapi rintangan hidup. Menurut Rumble, masalah bisa menjadi sesuatu yang menghancurkan, tetapi juga bisa menjadi bahan bakar untuk bangkit dan berkembang menjadi lebih kuat.

Baca Juga: Dari Hulu ke Hilir soal Usaha Penerbitan Lokal di Sumbar: Buku Lokal Kurang Terserap, Diperburuk Efesiensi Anggaran

Tumbuh di Skena yang Solid

Berbeda dengan banyak band independen lain yang kesulitan mencari ruang berkembang, Rumble justru merasa beruntung tumbuh di lingkungan skena yang suportif.

Mereka mengaku tidak menghadapi tantangan besar dalam hal promosi, rekaman, maupun kesempatan tampil. Hal itu karena kuatnya solidaritas dalam komunitas underground Sumbar yang saling mendukung satu sama lain.

Dukungan teman-teman di skena menjadi faktor penting yang membuat Rumble terus berkembang hingga saat ini.

Baca Juga: Gelap Sumatera, Rapuhnya Ekonomi Kita

Meski saat ini masih fokus tampil di Kota Padang, setiap panggung menurut mereka selalu meninggalkan kesan tersendiri. Namun salah satu penampilan paling berkesan terjadi saat tampil di Swaragigs Vol. 4 di Fabriek Padang tahun lalu.

Momen tersebut dianggap spesial karena menjadi salah satu pertunjukan paling ramai yang pernah mereka jalani. Antusiasme penonton di area moshpit berlangsung luar biasa sepanjang penampilan.

Bahkan saat lagu The Hustler dimainkan, banyak penonton ikut bernyanyi bersama dari awal hingga akhir penampilan. Energi crowd yang terus moshing sepanjang set membuat malam itu menjadi pengalaman paling memorable bagi Rumble.

Baca Juga: Sulitnya Menertibkan Truk Parkir di Pinggir Jalan

Digitalisasi Musik dan Pentingnya Rilisan Fisik

Bagi Rumble, platform digital menjadi alat promosi paling efektif bagi musisi independen saat ini. Dengan hanya membagikan tautan profil band di platform streaming musik, karya mereka sudah bisa diakses oleh siapa saja.

Mereka juga mengakui perkembangan media digital sangat membantu musisi dalam memperluas jangkauan pendengar.

Meski demikian, Rumble tetap menilai rilisan fisik masih sangat penting bagi musisi. Selain menjadi bentuk apresiasi nyata terhadap karya, penjualan rilisan fisik juga memberikan feedback langsung atas kerja keras musisi dalam menciptakan musik.

Baca Juga: Isu ”Pocong Baladiang” Resahkan Warga Lubukbasung

Ekosistem Musik Sumbar Dinilai Semakin Sehat

Rumble menilai perkembangan gigs musik di Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir semakin berpihak kepada musisi.

Promosi acara yang dilakukan organizer lokal dinilai berhasil menarik perhatian publik terhadap karya-karya musisi lokal. Selain itu, mulai banyak acara yang menerapkan sistem budgeting bagi band-band yang tampil, sesuatu yang dianggap sebagai sinyal positif bagi perkembangan ekosistem musik lokal.

Menurut mereka, skena musik sidestream dan underground di Sumatera Barat juga sedang berada dalam fase yang menarik. Banyak band baru bermunculan dengan warna musik yang semakin beragam.

Baca Juga: Sekolah Lansia Paninjauan jadi Ruang Belajar di Usia Senja

Tak hanya itu, sejumlah band lokal kini mulai melakukan tur keluar daerah, sementara band-band dari luar pulau juga mulai menjadikan Kota Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh sebagai titik tur mereka.

Orisinalitas jadi Kunci

Bagi Rumble, hal paling penting dalam bermusik adalah orisinalitas. Mereka menolak menjadi sekadar tiruan dari band lain dan percaya setiap grup harus memiliki identitas sendiri atau signature sound.

Sebagai contoh, mereka menyoroti pencapaian band metal asal Padang Panjang, Misanthropy Club, yang berhasil tampil di festival besar seperti PestaPora dan Synchronize Fest hingga masuk nominasi AMI Awards kategori Album Metal Terbaik 2023.

Baca Juga: Menilik Makna ”Barbar”: Antara Bahasa, Stereotip, dan Realitas Sosial

Menurut Rumble, pencapaian tersebut terjadi karena Misanthropy Club memiliki karakter musik yang kuat dan berbeda dari band lain.

Siapkan Album Debut

Ke depan, Rumble berharap semakin banyak organizer mengadakan gigs di Sumatera Barat, tidak hanya untuk musik underground, tetapi juga genre lain yang dapat memperluas ekosistem musik daerah.

Mereka juga berpesan kepada band-band baru agar tidak mudah menyerah dan menikmati proses bermusik dengan santai dan penuh semangat.

Baca Juga: Tiga Tanaman Obat Tradisional Normalkan Glukosa dan Tekanan Darah

Selain itu, mereka mengingatkan pentingnya menjaga sikap rendah hati di dalam skena musik dan tetap saling menghormati antar-musisi.

Dalam waktu dekat, Rumble juga mengungkapkan tengah mempersiapkan album debut yang akan berisi sekitar delapan hingga sembilan lagu. Album tersebut diharapkan bisa segera dirilis dan menjadi langkah besar berikutnya bagi perjalanan mereka di skena hardcore Indonesia. (*)

Editor : Adetio Purtama
#band asal Sumbar #Rumble #debut album #Band Hardcore