Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Santvara: Rock, Kritik, dan Identitas

Adetio Purtama • Sabtu, 6 Juni 2026 | 11:02 WIB
Band rock asal Sumbar, Santvara saat manggung di salah satu iven. (DOKUMENTASI SANTVARA)
Band rock asal Sumbar, Santvara saat manggung di salah satu iven. (DOKUMENTASI SANTVARA)

Di tengah berkembangnya skena musik independen Sumatera Barat, nama Santvara mulai mencuri perhatian melalui karya-karya yang mengusung semangat rock n roll dengan lirik berbahasa Indonesia. Band yang kini berformat duo bersaudara ini terus menunjukkan konsistensinya dalam berkarya dan tengah mempersiapkan album perdana sebagai langkah berikutnya dalam perjalanan musik mereka.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang--

Santvara lahir pada pertengahan 2024 dari kebiasaan dua personelnya yang gemar bertukar ide dan berdiskusi tentang musik. Dari proses kreatif tersebut, lahirlah karya-karya awal mereka yang kemudian diwujudkan dalam dua single berjudul Lalaba-laba dan Jenaka.

Bagi Santvara, kehadiran band ini bukan sekadar proyek musik biasa, melainkan wadah untuk menyalurkan kecintaan mereka terhadap musik rock sekaligus menyampaikan berbagai keresahan sosial melalui lirik yang dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Bank Mandiri Taspen Tegaskan Masa Pensiun Tetap Produktif lewat Program Glow and Grow

Saat ini Santvara digawangi oleh dua bersaudara, Yogo sebagai vokalis dan gitaris serta Edo yang mengisi posisi bass. Keduanya terlibat langsung dalam seluruh proses kreatif, mulai dari penulisan lagu hingga pengembangan konsep musikal band tersebut.

Vokalis Santvara, Yogo kepada Padang Ekspres bercerita, nama pemilihan nama Santvara memiliki cerita tersendiri. Menurut mereka, sejak awal band ini ingin memainkan musik rock n roll dengan identitas Indonesia yang kuat.

Nama Santvara merupakan pelesetan dari kata Nusantara. Mereka mengambil unsur kata “santara” dan mengubahnya menjadi “Santvara” sebagai identitas band.

Baca Juga: Bertutur tentang Guru Bangsa, Mengintervensi Ruang Publik: Hidupkan Gagasan Syafii Maarif lewat Naratif Musikal

Bagi mereka, nama tersebut terdengar sederhana namun memiliki karakter yang kuat serta mudah merepresentasikan semangat musik yang mereka usung.

Terinspirasi Rock, Namun Tetap Terbuka Bereksplorasi

Meski dikenal sebagai band rock, Santvara mengaku tidak ingin membatasi diri hanya pada satu warna musik tertentu.

Sejak awal perjalanan bermusik, mereka memang banyak dipengaruhi oleh musik-musik rock, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Namun dalam proses kreatifnya, mereka tetap terbuka terhadap berbagai referensi baru yang dapat memperkaya karakter musikal band.

Baca Juga: Napas Hijau Unand, Oase Sejuk Punggung Kota

Menurut mereka, rock n roll menjadi medium yang tepat untuk mewakili energi generasi muda masa kini, terutama dalam menyuarakan semangat perlawanan, kritik sosial, maupun sindiran terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Pengalaman menonton pertunjukan musik dan berinteraksi dengan berbagai pelaku industri musik juga turut membentuk perspektif mereka dalam berkarya.

Dua Single jadi Awal Perjalanan Musik

Sejak berdiri, Santvara telah merilis dua single yang tersedia di berbagai platform musik digital. Single pertama berjudul Lalaba-laba dirilis pada 2024, disusul Jenaka yang meluncur pada 2025. Kedua lagu tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mereka sebagai musisi independen.

Baca Juga: Bahaya Panaskan Makanan Tinggi Lemak Secara Berulang

Lagu Lalaba-laba mengangkat fenomena anak muda yang dinilai semakin haus akan validasi sosial. Sementara Jenaka lahir dari refleksi terhadap berbagai realitas pahit yang terjadi di Indonesia.

Melalui kedua karya tersebut, Santvara berusaha menghadirkan lirik yang relevan dengan pengalaman dan kondisi yang mereka lihat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Konsistensi Menjadi Tantangan Terbesar

Sebagai band independen, Santvara mengakui bahwa menjaga konsistensi berkarya merupakan tantangan yang tidak mudah. Kesibukan masing-masing personel di luar musik sering kali menjadi hambatan dalam proses produksi karya baru.

Baca Juga: 7 Cara Menjaga Kesehatan Mata Terhindar dari Mata Minus

Selain itu, membangun audiens serta menjaga semangat untuk terus berkarya juga menjadi tantangan tersendiri di tengah persaingan industri musik yang semakin kompetitif.

Meski demikian, mereka tetap berupaya menjaga produktivitas dan terus mengembangkan kualitas musik yang mereka hasilkan.

Dalam perjalanan kariernya, Santvara telah tampil di berbagai panggung musik di Kota Padang. Mereka pernah meramaikan sejumlah acara musik independen, mulai dari gigs komunitas, showcase, hingga perhelatan Record Store Day 2025.

Baca Juga: RSUP Dr M Djamil Berpeluang jadi Lokasi Uji Klinis Obat Influenza Anak

Bagi Santvara, setiap panggung memiliki kesan yang berbeda dan menjadi pengalaman berharga dalam proses perkembangan mereka sebagai musisi.

Mereka menilai bahwa hal terpenting saat tampil bukan hanya kualitas musikal, tetapi juga bagaimana menikmati setiap penampilan dengan penuh sukacita dan sikap profesional.

Platform Digital Membantu Musisi Independen Berkembang

Santvara juga menilai perkembangan teknologi digital memberikan dampak positif bagi musisi independen. Menurut mereka, platform digital memungkinkan karya musik didistribusikan tanpa batas wilayah sekaligus membuka peluang yang lebih luas untuk menjangkau pendengar baru.

Baca Juga: 3 Pelaku Penyalahgunaan Solar Bersubsidi Dibekuk, Ribuan Liter BBM Disita

Selain layanan streaming musik, media sosial juga menjadi sarana penting bagi musisi untuk membangun komunikasi langsung dengan para pendengar.

Kehadiran platform digital dinilai mampu mempercepat proses promosi dan memperkuat hubungan antara musisi dengan audiensnya.

Meski era digital semakin mendominasi industri musik, Santvara menilai rilisan fisik masih memiliki tempat di kalangan penikmat musik.

Baca Juga: 3 Pelaku Penyalahgunaan Solar Bersubsidi Dibekuk, Ribuan Liter BBM Disita

Menurut mereka, rilisan fisik kini lebih berfungsi sebagai bentuk apresiasi bagi kolektor dan pendengar yang ingin merasakan pengalaman menikmati musik secara lebih personal.

Karena itu, keberadaan CD, kaset maupun piringan hitam tetap dianggap penting sebagai bagian dari budaya musik yang perlu dipertahankan.

Santvara melihat perkembangan skena musik Sumatera Barat dalam tren yang positif. Banyak komunitas, kolektif, dan penyelenggara acara yang terus berupaya membuka ruang bagi musisi lokal untuk tampil dan berkembang.

Baca Juga: Perkuat Karakter Humanis lewat Yasinan Bersama

Mereka menilai Sumatera Barat memiliki banyak potensi karena dihuni oleh musisi dengan karakter dan warna musik yang beragam.

Menurut Santvara, hal yang paling penting untuk menjaga pertumbuhan skena musik adalah menciptakan ruang yang sehat untuk berkarya dan membangun budaya saling mendukung antar pelaku musik.

Siapkan Album Perdana

Memasuki pertengahan 2026, Santvara mengungkapkan tengah fokus mempersiapkan album perdana mereka.

Baca Juga: Rutan Batusangkar Bedah Rumah Purnabhakti

Album tersebut disebut akan menghadirkan berbagai materi baru dengan energi yang lebih besar dibandingkan karya-karya sebelumnya.

Meski belum mengungkapkan detail mengenai tanggal perilisan maupun jumlah lagu yang akan dimuat, Santvara memastikan album tersebut menjadi langkah penting dalam melanjutkan perjalanan musik mereka.

Dengan identitas rock yang kuat, lirik yang dekat dengan realitas sosial, serta semangat independen yang terus dijaga, Santvara optimistis dapat terus berkembang dan menjadi salah satu warna menarik dalam skena musik Sumatera Barat maupun nasional. (***)

Editor : Adetio Purtama
#Santvara #band rock #band padang #kritik