BAND metalcore asal Sumatera Barat, Coldprey, terus menunjukkan konsistensinya dalam berkarya sejak resmi memulai debut pada Februari 2020. Meski terbentuk pada 2019, perjalanan mereka baru benar-benar dimulai setelah para personel sepakat untuk fokus menciptakan karya orisinal yang kini menjadi identitas band. Seperti apa ceritanya?
Adetio Purtama, Padang--
Awalnya, Coldprey hanya mengisi waktu dengan latihan rutin di studio. Namun, rasa jenuh karena hanya berlatih tanpa menghasilkan karya mendorong mereka mulai menulis lagu sendiri. Dalam prosesnya, band ini beberapa kali mengalami pergantian personel, khususnya di posisi vokalis dan bass, hingga akhirnya menemukan formasi yang bertahan hingga sekarang.
Saat ini Coldprey diperkuat oleh Ari (vokal), Randi (gitar), Galang (bass), dan Boby (drum). Nama Coldprey telah disepakati sejak awal pembentukan band.
Baca Juga: Perjalanan Band Hardcore Punk, Stage Youth: Konsisten Suarakan Isu Sosial
Menurut para personel, nama tersebut menggambarkan sosok yang "beku" atau tanpa emosi, menghadirkan kesan tenang, dingin, sulit disentuh, serta mencerminkan karakter yang rasional atau mati rasa.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam musik mereka yang sejak awal konsisten mengusung genre metalcore. Pilihan genre ini dinilai paling sesuai dengan konsep lirik yang banyak mengangkat sisi gelap kehidupan manusia.
"Kami memang sejak awal sepakat mengusung metalcore karena konsep materi yang kami angkat lebih banyak berbicara tentang kehidupan yang kelam dan mati rasa," ujar personel Coldprey.
Baca Juga: Truk Fuso Gagal Nanjak di Sitinjaulauik, Jalur Padang-Solok Diberlakukan Buka Tutup
Dalam proses kreatifnya, Coldprey mengaku banyak dipengaruhi sejumlah band metalcore, baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa di antaranya adalah Apostate, August Burns Red, Aftercoma, dan Burgerkill yang menjadi referensi dalam pengembangan karakter musik mereka.
Sejak debut, Coldprey telah merilis satu album penuh bertajuk LifeMine. Album tersebut berisi delapan lagu, yakni LifeMine, But Listen To Me, Understanding, Redemption, Temperamental, Step and Reach, Without King, dan Ruh.
Memasuki awal 2026, mereka kembali merilis single terbaru berjudul Entitas, sebagai penanda bahwa produktivitas band masih terus berjalan.
Baca Juga: UNP Edukasi Orang Tua Cegah Kekerasan Seksual dan IMS, Pada Kegiatan PPUB di Nagari Batagak
Mayoritas lirik lagu Coldprey mengangkat berbagai persoalan kehidupan yang suram, pergulatan batin manusia, hingga isu kemanusiaan seperti konflik dan genosida yang terjadi di Palestina.
Menurut mereka, seluruh isu tersebut memang menjadi bagian dari konsep besar yang ingin disampaikan melalui karya-karya Coldprey.
Selama berkarier, Coldprey telah tampil di berbagai acara musik dan gigs di Sumatera Barat. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika tampil dalam acara Chaos Unleashed di Payakumbuh.
Pada kesempatan tersebut, Coldprey mendapat kesempatan berbagi panggung dengan band death metal asal Jakarta, Grausig, yang sedang menjalani tur.
Meski demikian, mereka mengaku tantangan terbesar selama ini bukan berada di atas panggung, melainkan ketika memasuki proses penulisan dan penggarapan materi lagu.
Coldprey menilai perkembangan platform musik digital memberikan dampak yang sangat besar bagi musisi independen. Kehadiran berbagai layanan streaming memudahkan karya mereka menjangkau pendengar yang lebih luas.
Baca Juga: Australia vs Mesir: Adu Strategi Tony Popovic dan Hossam Hassan Jadi Penentu Tiket 16 Besar
Selain distribusi digital, mereka juga masih memandang rilisan fisik seperti kaset maupun piringan hitam memiliki nilai penting.
Menurut mereka, rilisan fisik bukan hanya menjadi media koleksi, tetapi juga berfungsi sebagai arsip perjalanan sebuah band sekaligus bentuk dukungan nyata dari para pendengar terhadap musisi independen.
Optimistis Skena Musik Sumbar Terus Berkembang
Coldprey melihat perkembangan skena musik di Sumatera Barat menunjukkan perubahan positif. Mereka mengapresiasi meningkatnya kualitas penyelenggaraan acara musik, baik dari konsep panggung maupun loyalitas para penyelenggara dalam mendukung band-band lokal.
Baca Juga: Fauzana dan Ajo Buset Siap Guncang Panggung Hiburan Rakyat HJK Pariaman, Sabtu Malam di GOR Rawang
Mereka juga menilai akses tampil dari panggung ke panggung serta konsistensi menghasilkan karya menjadi faktor penting bagi band yang ingin menembus pasar nasional.
Ke depan, Coldprey berencana kembali merilis sejumlah karya baru sebagai kelanjutan dari perjalanan musikal mereka.
Band tersebut berharap perkembangan skena musik independen di Sumatera Barat terus berlanjut sehingga semakin banyak musisi lokal yang mampu berkembang dan dikenal secara lebih luas di tingkat nasional. (*)
Editor : Adetio Purtama