Adetio Purtama, Padang—
Kepada Padang Ekspres beberapa waktu lalu, Manager Orkes Taman Bunga, Albert Rahman Putra, menuturkan bahwa inisiatif awal lahirnya band ini datang dari Uda Lepok.
Saat itu, para personel yang berkumpul sejatinya sudah memiliki kelompok musik masing-masing, kebanyakan bergerak dalam ranah kontemporer dan eksperimental.
Namun, pertemuan dalam proyek ini justru melahirkan gagasan untuk mengusung format orkes sebagai ruang kesenangan sekaligus kreativitas.
“Masing-masing personel awalnya punya proyek musik sendiri. Tapi ketika berkumpul, format orkes ini jadi terasa menyenangkan. Kami bisa memadukan musik tradisi dengan sajian populer, membawakan musik-musik yang rileks seperti Orkes PMR, PHB, tapi juga menyegarkan kembali pop Minang ala Orkes Gumarang atau Kumbang Tjari,” ujar Albert.
Dari pertemuan itu, Orkes Taman Bunga tidak hanya menjadi band, melainkan juga wadah produktif bagi pertemanan mereka. Hingga akhirnya, Albert sendiri menawarkan diri menjadi manajer setelah melihat potensi besar yang dimiliki kelompok ini.
Pengaruh dan Karakter Musik
Dalam perjalanan kreatifnya, Orkes Taman Bunga banyak dipengaruhi oleh dua aliran besar. Pertama, gaya orkes moral seperti PMR, PHB, Nunung Cs, yang menghibur dengan nuansa satir. Kedua, warna musik pop Minang klasik dari Orkes Gumarang, Kumbang Tjari, hingga Oslan Husein.
“Dua pengaruh ini akhirnya melebur menjadi karakter Orkes Taman Bunga. Kalau bicara genre, kami sendiri tidak terlalu mematok. Ada yang menyebut kami orkes rakyat, pop Minang, orkes melayu, bahkan folk. Silakan pendengar saja yang menilai,” jelas Albert.
Sejak awal, band ini juga sering membawakan cover lagu-lagu populer dari PMR, PHB, hingga Bing Slamet. Namun, perlahan karya orisinal mulai lahir, di antaranya Balada Si Udin, Wisudahan, hingga single terbaru Jangs and Piaks (2024).
Jejak Panggung dan Album
Pengalaman panggung Orkes Taman Bunga cukup luas. Mereka kerap tampil di berbagai daerah di Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, hingga beberapa kali ke Jakarta.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah saat tampil di Synchronize Festival 2023. “Awalnya hanya dijadwalkan main di panggung Getar di hari pertama. Tapi ternyata kami diminta tampil tiga hari berturut-turut, termasuk satu panggung bersama PMR, Jhoni Iskandar, PHB, dan Nunung Cs. Itu mimpi yang jadi nyata,” kenang Albert.
Dalam hal produksi, Orkes Taman Bunga sudah merilis dua album, yakni Kita-kita (2016), yang bercerita tentang kehidupan mereka sebagai mahasiswa. Lalu, Bhineka Rasa (2020), yang merekam topik-topik seputar kehidupan tongkrongan setelah mereka tidak lagi berstatus mahasiswa.
Selain itu, mereka juga merilis single aransemen “Kampuang Nan Jauah di Mato” untuk film Onde Mande (Visinema, 2023), dan tengah menyiapkan album anak-anak yang akan dirilis pada momentum tepat.
Digitalisasi dan Harapan Musik Sumbar
Dalam era digital, Orkes Taman Bunga aktif mendistribusikan musiknya lewat platform digital seperti Spotify, Apple Music, Joox, dan YouTube, sembari tetap memproduksi rilisan fisik bagi para kolektor.
Albert menilai bahwa digitalisasi membuka peluang besar bagi musisi Sumatera Barat. “Hari ini musisi dari Sumbar tidak harus menunggu ke Jakarta untuk bisa dikenal luas. Internet memberi akses itu. Tapi tetap saja, kebahagiaan utama adalah manggung, karena di situ interaksi dengan penonton nyata terasa,” ucapnya.
Meski begitu, ia mengakui tantangan masih besar. Infrastruktur transportasi antar kota dinilai menyulitkan mobilitas band-band Sumatera Barat untuk tampil di luar daerah. “Bayangkan saja, ke Lampung lebih mahal dibanding ke Jakarta,” ujarnya.
Namun, Albert optimistis skena musik Sumatera Barat semakin beragam dan tumbuh positif. Ia berharap ke depan ada lebih banyak panggung, media lokal yang mendukung, serta kesadaran untuk mengapresiasi karya musisi secara layak.
“Harapan kami, musik dari Sumatera Barat bisa diterima lebih luas, baik nasional maupun internasional. Saling dukung, saling rangkul. Karena pada akhirnya, musik bukan hanya hiburan, tapi juga kebanggaan budaya,” tutup Albert. (*)
Editor : Adetio Purtama