Pengumuman ini disampaikan bersamaan dengan laporan keuangan kuartal kedua Take-Two Interactive, perusahaan induk Rockstar.
Dalam pernyataannya, Rockstar menyebut penundaan dilakukan agar tim pengembang memiliki waktu tambahan untuk “menyelesaikan permainan dengan tingkat pemolesan tinggi sesuai ekspektasi pemain di seluruh dunia.”
CEO Take-Two, Strauss Zelnick, menegaskan bahwa keputusan ini tidak akan memengaruhi rencana bisnis perusahaan untuk tahun fiskal 2026.
“Tim Rockstar terus mengejar kesempurnaan,” ujarnya dikutip dari IGN Southeast Asia, Sabtu (8/11/2025).
Sebelumnya, GTA 6 dijadwalkan rilis pada musim gugur 2025, kemudian diundur ke Mei 2026, dan kini ditetapkan pada akhir tahun.
Penundaan ini menambah daftar panjang sejarah seri Grand Theft Auto yang hampir selalu mengalami perubahan jadwal sebelum peluncuran.
Dalam laporan keuangan yang sama, Take-Two juga mengonfirmasi adanya pemutusan hubungan kerja terhadap sejumlah karyawan karena “pelanggaran berat.”
Namun, isu ini menuai kontroversi karena sejumlah pihak menyebut pemecatan dilakukan terhadap pegawai yang terlibat dalam pembahasan pembentukan serikat pekerja di Inggris.
Meski diwarnai polemik, Take-Two tetap mencatat kinerja finansial kuat dengan pendapatan bersih mencapai 1,96 miliar dolar AS pada kuartal kedua tahun fiskal ini.
Penjualan NBA 2K26, Mafia: The Old Country, dan Borderlands 4 menjadi penyumbang utama.
Sementara itu, GTA V masih mencatat rekor penjualan lebih dari 220 juta unit di seluruh dunia.
Zelnick memastikan aktivitas dan pembaruan GTA Online tidak akan terganggu selama masa penundaan GTA 6.
Dengan jadwal rilis baru tersebut, Rockstar berkomitmen menghadirkan pengalaman open-world yang disebut-sebut paling ambisius dalam sejarah franchise Grand Theft Auto.(*)
Editor : Hendra Efison