Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Nama Bheroxc sendiri memiliki cerita unik. Menurut Pandri Adi (keyboardist), nama itu terinspirasi dari tempat mereka sering nongkrong, yaitu kawasan Beroknipah, Padang.
“Awalnya kami bingung cari nama. Sudah banyak ide yang muncul, sampai akhirnya terpikir gimana kalau namanya Bherok aja. Biar lebih keren, huruf K kami ganti jadi X dan tambahkan huruf C di belakang, yang berarti City,” tutur Pandri Bersama personel lainnya mengenang proses awal terbentuknya band.
Dari Pop Alternatif ke Ska yang Menyala
Di awal perjalanan, Bheroxc mengusung genre pop alternatif. Namun, perjalanan musik mereka berbelok arah ketika salah satu karya mereka yang berjudul “Seperti Meong” justru mengantarkan mereka menjadi juara di sebuah kompetisi musik di Kota Padang.
“Waktu itu lagu “Seperti Meong” ternyata lebih mengarah ke genre ska, dan Alhamdulillah kami menang. Dari situlah kami mulai fokus menggabungkan dua genre, pop alternatif dan ska,” ujar mereka.
Perubahan arah musik ini menjadi titik penting bagi Bheroxc. Mereka mulai bereksperimen dengan nuansa yang lebih riang dan enerjik, namun tetap mempertahankan sentuhan khas lokal Minangkabau.
Kolaborasi dengan Alat Musik Tradisional
Salah satu keunikan Bheroxc terletak pada keberanian mereka memasukkan unsur alat musik tradisional Minangkabau ke dalam karya.
“Kami coba-coba tambahkan instrumen seperti bansi dan talempong, dan ternyata bisa nyatu banget sama musik ska yang kami mainkan. Dari situ kami sadar, musik lokal bisa dikawinkan dengan genre modern,” kata Pandri.
Eksperimen itu menghasilkan warna musik yang segar, menggabungkan beat cepat ala ska dengan harmoni budaya lokal yang kental. Tak heran, karya-karya Bheroxc terasa punya “jiwa” khas Minang yang sulit ditemukan di band lain.
Terinspirasi Tipe-X hingga Shaggydog
Dalam berkarya, Bheroxc tidak menutup diri dari pengaruh band dan solois lain. Mereka menyebut Tipe-X, Shaggydog, dan Ras Muhammad sebagai deretan musisi yang memberi pengaruh besar.
Selain itu, tiap personel juga memiliki idola dan gaya permainan masing-masing yang berkontribusi membentuk warna musik band.
Inspirasi lagu-lagu mereka pun datang dari berbagai sumber. “Sebagian dari pengalaman pribadi, sebagian lagi dari curhatan teman-teman,” kata mereka.
Tantangan dan Proses Panjang
Seperti band lain, perjalanan Bheroxc tak selalu mulus. Mereka mengakui bahwa menjaga kekompakan antarpersonel menjadi tantangan utama.
“Tantangan pertama ya soal hubungan internal. Nggak gampang menjaga kekompakan. Kedua, produksi karya juga sering terkendala keterbatasan. Ketiga, tentu saja soal konsistensi,” jelas Pandri.
Meski begitu, semangat mereka tak pernah padam. Bahkan kini, Bheroxc resmi memiliki formasi yang dinilai paling solid, yaitu Ibhe (vokal), Pandri (keyboard), Eno (gitar 1), Ayis (drum), Abid (gitar 2), Anto (jimbe), dan Arif (bass).
Salah satu momen paling berkesan bagi mereka adalah saat meluncurkan album perdana “Pituah Patah Bacinto”. “Itu panggung yang paling berkesan. Rasanya luar biasa bisa tampil membawakan karya sendiri di hadapan penonton,” ujar Ibhe.
Digitalisasi Musik dan Harapan untuk Skena Lokal
Bagi Bheroxc, perkembangan teknologi digital menjadi peluang besar bagi musisi lokal. “Sekarang band lokal pun bisa naik sendiri tanpa label besar. Platform digital sangat membantu. Kita tinggal manfaatkan saja sebaik mungkin,” ujar Pandri.
Namun, mereka tetap menganggap rilisan fisik seperti kaset atau CD masih punya tempat tersendiri. “Sekarang mungkin lebih ke nilai sentimental, bukan soal penjualan. Itu jadi bentuk apresiasi buat pendengar yang benar-benar mendukung,” tambahnya.
Bheroxc juga menilai bahwa gigs musik di Padang dan Sumatera Barat kini sudah semakin berpihak pada musisi lokal. “Sudah banyak event besar yang melibatkan band lokal. Semoga terus berkembang dan banyak karya baru yang lahir dari anak-anak Sumbar,” harapnya.
Menatap Masa Depan
Saat ditanya soal masa depan, para personel Bheroxc kompak menjawab ingin terus konsisten berkarya. “Yang paling penting sekarang adalah punya karya yang bisa menyesuaikan tren tapi tetap punya identitas. Juga menjalin hubungan dengan media, kayak sekarang ini bareng Padang Ekspres,” kata mereka.
Mereka juga tengah mempersiapkan proyek berikutnya, yakni pembuatan video musik untuk lagu-lagu baru mereka. “Doakan saja semua bisa terealisasi. Kami ingin terus menyalurkan semangat ini dan membawa nama Padang lebih dikenal di dunia musik nasional,” tutupnya. (*)
Editor : Adetio Purtama