Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Berawal dari hobi bermusik untuk melepas penat, enam anak muda ini merasa memiliki kecocokan dalam selera dan visi. Dari situlah ide membentuk band muncul. Nama RARE mereka pilih bukan tanpa alasan.
“Secara umum rare berarti langka, tapi bagi kami, maknanya lebih dari itu, kami ingin punya ciri khas yang unik dalam setiap karya,” ujar Septia Rahmawati, Manager Band kepada Padang Ekspres.
Band ini beranggotakan Khanza (vokal), Farhan Rivalino (gitar), Nabiel (gitar), Rama (keyboard), Arbie (drum), dan Naupale (bass). Mereka awalnya hanya empat orang, yakni Khanza, Arbie, Farhan, dan Naupale.
Seiring berjalannya waktu, mereka mengajak Nabiel dan Rama untuk memperkuat formasi, terutama di isian gitar dan keyboard. “Kami sama-sama punya satu tujuan, yaitu menyalurkan hobi dan menuangkan ide ke dalam bentuk karya,” tambah Septia.
Pop Rock dengan Sentuhan Langka
RARE mengusung genre Pop Rock, namun tidak ingin terjebak dalam formula umum. Mereka mengombinasikan efek shimmer pada gitar, string dari keyboard, serta ketukan drum rock mentah dengan bassline sederhana namun berisi. Vokal Khanza yang bergaung reverb menjadi penanda karakter musik mereka.
“Benang merah kami semua bertemu di Pop Rock. Tapi kami berusaha memberi sentuhan khas RARE dalam setiap aransemen,” ujarnya.
Jika didengar dari musik yang mereka mainkan, pengaruh band seperti Feast dan Perunggu terasa jelas dalam warna musik mereka. Namun masing-masing personel juga membawa inspirasi pribadi.
Arbie misalnya, banyak terinspirasi oleh Alan White (Oasis), John Bonham (Led Zeppelin), dan Bimbim (Slank). Sementara Nabiel menggemari sound shoegaze dan nu-gaze ala Deftones.
Baca Juga: Sindikat Ganjal ATM Terbongkar di Padang, Polisi Temukan 59 Kartu dari Berbagai Bank
Lagu dari Keresahan
RARE bukan band yang hanya bermain di ranah bunyi, tapi juga di ranah makna. Lirik-lirik mereka banyak lahir dari keresahan personal. Lagu “Feel Less”, misalnya, menjadi wadah bagi seluruh personel untuk menumpahkan perasaan dan tekanan hidup yang mereka alami.
“Semua lagu kami datang dari pengalaman nyata. Dari keresahan, dari hal-hal yang kami rasakan sendiri,” kata Septia. Hingga kini, RARE telah memiliki tiga lagu orisinal, dan tengah menyiapkan rilisan single “Feel Less” yang akan menjadi peluru perdana menuju mini album mereka yang direncanakan rilis akhir tahun ini.
Tantangan dan Panggung Pertama
Dalam perjalanan menuju band profesional, mereka tak luput dari tantangan. Salah satu yang paling besar adalah menyatukan ide dari enam kepala yang berbeda. “Setiap orang punya selera dan gaya masing-masing. Tapi kami belajar kompromi dan mendengarkan satu sama lain,” katanya.
Meski baru setahun berdiri, RARE sudah mencicipi sejumlah panggung di Sumatera Barat. Salah satu yang paling berkesan adalah ketika mereka tampil di tur “Gampang Dia Tour” milik musisi, Jason Ranti.
“Itu panggung nasional pertama kami. Rasanya luar biasa bisa berbagi panggung dengan musisi sekelas Jason Ranti,” kenang Septia.
Musik, Platform Digital, dan Rilisan Fisik
Bagi RARE, kemajuan teknologi adalah anugerah bagi musisi baru. Platform digital seperti Spotify, YouTube, dan media sosial menjadi ruang penting untuk memperkenalkan karya mereka. “Sekarang semuanya lebih mudah. Tinggal unggah lewat agregator, dan lagu bisa didengar di seluruh dunia,” kata Farhan.
Meski begitu, mereka juga masih menghargai rilisan fisik seperti kaset dan piringan hitam. “Itu bukan soal jualan, tapi soal nilai sentimental dan identitas. Rilisan fisik bikin hubungan musisi dan pendengar terasa lebih personal,” ujar Arbie.
Gigs Sumbar dan Skena yang Hidup
Tentang skena musik di Sumatera Barat, RARE menilai kondisinya makin menggembirakan. Banyak event dan panggung yang memberi ruang bagi band lokal untuk tampil.
“Sekarang udah banyak gigs yang berpihak ke musisi lokal. Tapi memang perlu kontinuitas dan apresiasi lebih agar skena ini terus hidup,” kata Septia.
Mereka juga menilai semangat anak muda Sumbar dalam bermusik luar biasa. “Banyak yang bikin acara sendiri, saling bantu antar komunitas. Jadi walaupun dukungan industri belum besar, tapi kreativitasnya nggak kalah dengan kota besar lain,” tambahnya.
Harapan dan Langkah ke Depan
Bicara soal masa depan, RARE berharap bisa menjadi bagian dari gelombang baru musik Sumatera Barat yang tembus ke level nasional. Mereka percaya kunci utamanya ada pada ciri khas dan kualitas karya.
“Band daerah bisa kok menembus nasional. Contohnya Lorjhu’ dari Madura yang pakai bahasa daerah dan sukses dikenal luas. Kami ingin lakukan hal yang sama dengan karakter musik RARE,” ujar Septia penuh semangat.
Ke depan, RARE siap mengeksekusi mini album dengan nuansa lebih segar dan dinamis. Mereka juga tengah mempersiapkan perilisan single Feel Less sebagai langkah awal menuju perjalanan yang lebih panjang.
“Harapan kami, skena musik Sumbar terus jadi ruang yang positif dan saling dukung. Bukan kompetisi yang menjatuhkan, tapi wadah tumbuh bersama,” tutupnya. (*)
Editor : Adetio Purtama