Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengenal lebih Dekat Elsura: Band Rock Modern yang Tumbuh dari Semangat Berkarya

Adetio Purtama • Sabtu, 15 November 2025 | 11:46 WIB

Elsura, band asal Sumatera Barat, menjadi salah satu proyek musik yang tumbuh dari semangat untuk terus berkarya di tengah dinamika kehidupan.
Elsura, band asal Sumatera Barat, menjadi salah satu proyek musik yang tumbuh dari semangat untuk terus berkarya di tengah dinamika kehidupan.
ELSURA, band asal Sumatera Barat, menjadi salah satu proyek musik yang tumbuh dari semangat untuk terus berkarya di tengah dinamika kehidupan. Band ini lahir dari dua sahabat lama, Gelvi Aulia Windo dan Hendrik Mahendra, yang sebelumnya tergabung dalam grup Red Summer. Setelah pandemi melanda dan membuat band lamanya berhenti beraktivitas, keduanya memutuskan untuk kembali bermusik dalam format baru.

Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—

“Kami sebenarnya masih punya beberapa karya yang belum sempat diproses di band sebelumnya. Dari situlah muncul ide untuk bikin proyek baru. Maka lahirlah Elsura,” ujar salah seorang personel Elsura, Gelvi Aulia Windo kepada Padang Ekspres.

Nama Elsura sendiri memiliki sejarah sederhana. Awalnya, band ini hanya ingin memakai nama “Sura”, yang merupakan penyederhanaan dari kata “Surah”.

Namun karena nama itu sudah digunakan oleh pihak lain, mereka menambahkan awalan “El” di depannya. “Tidak ada makna khusus sebenarnya. Kami hanya ingin nama yang mudah diingat dan belum digunakan,” jelasnya.

Band yang kini beranggotakan Hendrik Mahendra (drum), Gelvi Aulia Windo (gitar), dan Irsan Rahmat Putra (vokal) ini membawa napas baru dalam kancah music Sumatera Barat.

Hendrik sendiri yang merekomendasikan Irsan untuk bergabung, karena melihat kecocokan karakter vokalnya dengan warna musik yang ingin mereka bangun.

Elsura mengusung genre rock modern, dengan pengaruh kuat dari band-band seperti Kula Shaker, Muse, Linkin Park, dan Blur. Namun, mereka menolak untuk terjebak dalam satu kotak genre tertentu.

“Kami ingin memberikan kebebasan penuh pada setiap personel untuk memainkan instrumen sesuai gaya dan keinginan masing-masing. Dari situ muncul identitas musik kami sendiri,” kata Gelvi.

Rock modern menjadi pilihan bukan tanpa alasan. Menurut mereka, genre ini mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan terbuka terhadap eksplorasi.

Personel Elsura.
Personel Elsura.

“Kami ingin menghadirkan energi modern rock dalam karya kami, sesuatu yang tetap keras tapi juga relevan dengan telinga generasi sekarang,” tuturnya.

Hingga kini, Elsura telah merilis tiga single yang merepresentasikan proses kreatif mereka sejauh ini. Di antaranya Tears, Shattered Dreams, dan yang terbaru Kau dan Aku.

Setiap lagu lahir dari berbagai sumber inspirasi, mulai dari pengalaman pribadi hingga topik yang dibahas bersama seluruh anggota band.

“Ada yang datang dari pengalaman, ada juga yang muncul dari obrolan bareng. Semua kami olah menjadi bentuk ekspresi musik,” katanya.

Namun, perjalanan karier Elsura tidak selalu mulus. Tantangan terbesar mereka datang dari internal, terutama karena setiap anggota juga memiliki kesibukan di luar band.

“Kami sama-sama punya pekerjaan tetap, jadi kadang waktu untuk latihan dan produksi terbatas. Tapi kami tetap komitmen untuk terus berkarya,” ungkap Gelvi.

Selain itu, kondisi industri musik di Sumatera Barat juga menjadi tantangan tersendiri. Mereka menilai wadah untuk tampil dan memperkenalkan karya masih terbatas. “Kalau di sini, peluang tampil biasanya datang dari gigs rokok atau acara indie. Tapi itu pun belum banyak,” ujar Hendrik.

Menariknya, sejak berdiri, Elsura belum sekalipun naik panggung. Mereka memilih fokus pada proses internal terlebih dahulu sebelum tampil di hadapan publik. “Kami ingin semuanya matang dulu, dari segi musik hingga konsep,” jelas Gelvi.

Meski begitu, perkembangan teknologi digital menjadi penolong besar bagi mereka. Dengan adanya platform musik daring, karya Elsura kini bisa didengarkan oleh siapa saja di seluruh dunia tanpa harus melakukan tur panjang. “Teknologi sangat membantu. Sekarang kita bisa rilis lagu dan didengarkan di mana pun,” kata Gelvi.

Meski digital menjadi andalan, Elsura mengakui bahwa masih ada pendengar yang menyukai bentuk fisik musik seperti CD atau kaset. “Masih ada orang yang menginginkan album fisik, mungkin karena nilai koleksi dan kenangan,” imbuhnya.

Mereka juga menilai bahwa skena musik di Sumatera Barat kini sudah lebih berpihak kepada musisi lokal. Banyak kegiatan gigs dan komunitas yang ikut menjaga semangat berkarya para band indie.

“Skena musik di Sumbar sudah ber peran besar. Tinggal bagaimana kita, musisinya ikut menjaga agar gigs tetap hidup,” ujarnya.

Photo
Photo

Lebih jauh, Gelvi menyarankan agar ada langkah konkret untuk memperluas jangkauan musik lokal. Salah satunya dengan membuat daftar putar khusus band indie Sumbar di platform musik digital, dan memutarkannya di kafe-kafe setiap minggu. “Itu cara sederhana tapi efektif untuk memperkenalkan musik Sumbar ke lebih banyak orang,” usulnya.

Ke depan, Elsura berencana untuk terus berkarya dengan merilis beberapa single baru, bahkan tidak menutup kemungkinan merilis album penuh.

“Kami masih punya banyak ide dan materi yang sedang digarap. Harapan kami sederhana, semoga tetap kompak dan music-musik dari Sumbar makin terdengar hingga ke penjuru dunia,” tutup Gelvi. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Elsura #band rock #rock modern #Semangat Berkarya