Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dari Proyek Solo hingga Band Penuh, Perjalanan Mustika Menemukan Identitas Musiknya

Adetio Purtama • Sabtu, 27 Desember 2025 | 10:46 WIB

Para personel band post rock asal Padang, Mustika.
Para personel band post rock asal Padang, Mustika.
Di penghujung 2024, dari obrolan santai, nongkrong panjang, dan sesi jamming tanpa beban, lahirlah sebuah band bernama Mustika. Tidak ada ambisi besar sejak awal, tidak pula rencana matang yang disusun dengan target industri. Semuanya berjalan alami, mengikuti alur pertemanan dan kesamaan rasa dalam bermusik. Namun justru dari proses yang jujur dan organik itulah, Mustika menemukan bentuk, suara, dan identitasnya.

Adetio Purtama, Padang—

Mustika bermula dari gagasan proyek solo milik Abuy, gitaris yang sejak awal ingin menuangkan keresahan dan ekspresi personalnya ke dalam musik. Dalam perjalanannya, Abuy bertemu dengan Raihan (gitaris Mustika).

Diskusi demi diskusi soal musik, referensi, hingga visi artistik membuka kesadaran bahwa ide tersebut terlalu luas jika dikerjakan sendiri. Keduanya merasa memiliki pandangan yang sejalan, terutama dalam memaknai musik sebagai medium emosi dan atmosfer.

Format solo pun akhirnya ditinggalkan. Mustika bertransformasi menjadi sebuah band dengan lima personel: Abuy (gitar), Raihan (gitar), Ghisel (vokal), Yoke (bass), dan Berli (drum).

Gitaris Mustika, Raihan Setiawan kepada Padang Ekspres menceritakan, nama Mustika dipilih bukan tanpa pertimbangan. Bagi mereka, kata ini memiliki makna yang kuat dan lekat dengan identitas lokal. Mustika kerap dimaknai sebagai sesuatu yang berharga, tersembunyi, dan tidak mudah ditemukan.

Filosofi tersebut terasa sejalan dengan musik yang mereka racik—jujur, personal, dan lahir dari proses yang tidak instan. Nama itu bukan sekadar label, melainkan representasi dari apa yang ingin mereka sampaikan lewat karya.

Secara musikal, ia menyebut, Mustika bergerak di ranah Alternative Rock dengan sentuhan Post-Rock. Pilihan genre ini bukan soal mengikuti tren, melainkan karena mereka merasa inilah medium paling jujur untuk menyalurkan emosi, atmosfer, dan pesan yang ingin dihadirkan.

Eksperimen demi eksperimen yang mereka lakukan kemudian bermuara pada karya rekaman pertama berupa EP bertajuk Empty Words.

Dalam bermusik, Mustika banyak dipengaruhi oleh band-band Asia, khususnya dari Singapura dan Jepang. Nama-nama seperti Sobs dan Subsonic Eye menjadi referensi penting dalam memahami dinamika, tekstur, dan pendekatan emosional dalam lagu.

Sementara dari Jepang, mereka mengulik karakter band-band seperti Anorak, Hardnuts, hingga Yubiori. Meski demikian, pengaruh tersebut tidak diserap secara mentah. Mustika lebih tertarik mempelajari proses kreatif dan karakter sound, lalu meramunya kembali agar sesuai dengan identitas mereka sendiri.

Hingga saat ini, Mustika telah merilis enam lagu, terdiri dari satu single berjudul Liquid Armor serta satu EP Empty Words yang memuat lima lagu: Heavenly, Mercy, Open Wounds, Empty Words, dan A Call.

Seluruh karya tersebut menggunakan bahasa Inggris. Pilihan ini diambil karena dirasa lebih personal dan memudahkan mereka mengekspresikan apa yang ingin disampaikan.

Selain itu, penggunaan bahasa Inggris juga membuka kemungkinan agar musik mereka dapat menjangkau pendengar yang lebih luas, melampaui batas geografis dan bahasa.

Raihan menambahkan, lirik-lirik Mustika banyak berangkat dari pengalaman pribadi serta hal-hal yang terjadi di sekitar mereka. Namun tak jarang pula inspirasi datang dari cerita orang lain, yang kemudian diolah menjadi narasi baru dengan sudut pandang emosional khas Mustika.

Respons terhadap EP Empty Words di luar dugaan mereka. Setelah dirilis, karya tersebut dibagikan ke teman-teman skena di Kota Padang serta dikirimkan ke sejumlah media musik. Salah satunya adalah Pop Hari Ini melalui program Irama Kotak Suara (IKS).

Melalui proses submit yang mereka jalani secara mandiri, Mustika terpilih sebagai Top IKS Juli 2025. Sebuah pencapaian yang menjadi kejutan sekaligus validasi atas proses panjang yang mereka tempuh.

Di balik capaian tersebut, Mustika tidak menutup mata terhadap tantangan. Keterbatasan ekosistem menjadi persoalan utama, mulai dari minimnya venue, exposure media, hingga akses jaringan industri yang masih terbatas.

Secara panggung, Mustika telah tampil di berbagai gigs dan festival di Kota Padang, seperti Gigs by Invasion Crews, Mamamia Chaotic Club, hingga festival kampus seperti PRV dan Effair.

Mustika saat manggung di salah satu iven di Fabriek Padang beberapa waktu lalu.
Mustika saat manggung di salah satu iven di Fabriek Padang beberapa waktu lalu.

Salah satu panggung yang paling berkesan bagi mereka adalah ketika tampil di festival yang digelar ISI Padangpanjang di GOR Prayoga, di mana Mustika menjadi band pembuka untuk Perunggu. Mereka juga sempat menjadi opening act White Chorus dalam rangkaian Electro Pop Tour di Lelucon Space.

Di era digital saat ini, Mustika menyadari bahwa platform digital menjadi medium utama bagi musisi independen untuk merilis dan memperkenalkan karya. Distribusi musik, promosi, hingga interaksi langsung dengan pendengar kini bisa dilakukan tanpa bergantung sepenuhnya pada label besar. Namun demikian, Mustika tetap memandang penting rilisan fisik.

Bagi mereka, rilisan fisik bukan sekadar merchandise, tetapi juga bentuk arsip karya yang memiliki nilai emosional. Mereka berharap rilisan fisik tetap dipertahankan agar karya musik tidak kehilangan esensinya di tengah arus digital yang serba cepat.

Baca Juga: Patrick Dorgu Bawa Manchester United Unggul 1-0 atas Newcastle di Babak Pertama

Melihat perkembangan skena di Sumatera Barat, Mustika menilai bahwa gigs dan pergerakan musik lokal terus tumbuh meski belum sepenuhnya ideal. Banyak musisi dan band baru dengan karakter unik bermunculan.

Tantangannya adalah bagaimana ekosistem tersebut dapat saling mendukung agar pergerakan tidak berhenti di komunitas atau lingkup Kota Padang semata.

Bagi Mustika, konsistensi adalah kunci. Untuk bisa menembus pasar nasional, musisi Sumatera Barat membutuhkan akses jaringan yang lebih luas, dukungan ekosistem, serta pengelolaan branding dan media digital yang tepat.

Harapan mereka sederhana namun penting: skena musik Sumbar yang lebih inklusif, suportif, dan berkelanjutan, dengan ruang yang semakin luas bagi musisi lokal untuk berkarya dan diapresiasi.

Ke depan, Mustika tengah mempersiapkan satu singel baru sebagai pengantar menuju album penuh pertama mereka. Tak hanya itu, mereka juga merencanakan kolaborasi yang diharapkan mampu memperkaya warna musikal dalam album debut tersebut. (*)

Editor : Adetio Purtama
#musik #solo #band #padang #post rock #mustika