Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Band Nu Metal, Prince of Samoa: Suarakan Pergulatan Batin, Kuasai Diri lewat Distorsi

Adetio Purtama • Sabtu, 3 Januari 2026 | 10:24 WIB

Para personel band Nu Metal asal Sumbar, Prince of Samoa.
Para personel band Nu Metal asal Sumbar, Prince of Samoa.
Di antara geliat skena musik underground Sumbar, nama Prince of Samoa muncul sebagai band yang membawa napas berbeda. Mengusung Nu Metal dengan muatan lirik kontemplatif dan agresi emosional, band ini menjadikan musik sebagai ruang pengakuan atas konflik batin, kemarahan, dan proses pendewasaan manusia.

Adetio Purtama, Padang—

Prince of Samoa resmi terbentuk pada 2024. Band ini digagas oleh Youngsu Junior sebagai rap vocal dan Aris Fardana di posisi gitar, dengan satu tujuan awal, yakni menciptakan karya musik orisinal yang memadukan rap, scream, dan distorsi gitar berat.

Pada fase awal, Prince of Samoa banyak membawakan lagu-lagu cover dari Linkin Park dan sejumlah band Nu Metal lain dalam berbagai gigs kecil. Dari proses itulah muncul kesadaran untuk tidak sekadar menjadi band tribute, tetapi membangun identitas musikal sendiri.

Dalam perjalanan kreatifnya, Daffa yang mengisi posisi drum berperan sebagai komposer utama. Bersama Aris dan Youngsu, ia mengembangkan arah musikal sekaligus penulisan lirik. Konsistensi Prince of Samoa juga tak lepas dari dukungan lingkungan kreatif Ruang Sarga yang menjadi ruang tumbuh mereka.

Komposisi awal Prince of Samoa cukup besar. Saat pertama terbentuk, band ini diisi oleh Dika (vokal), Youngsu (rap vocal), Aris (gitar), Daffa (drum), Meggi (gitar), Vito (keyboard), dan Bondan (bass). Formasi tersebut bertahan hingga penampilan panggung ketiga.

Seiring berjalannya waktu, komposisi mengalami perubahan. Rama masuk sebagai gitar kedua menggantikan Meggi, sementara posisi bass diisi oleh Irvan menggantikan Bondan. Formasi performance Prince of Samoa saat ini terdiri dari Dika (vokal), Youngsu (rap vocal), Aris (gitar), Daffa (drum), Rama (gitar), dan Irvan (bass).

Kepada Padang Ekspres, Management dan Media Representative Prince of Samoa, Ikhsan Maulana mengatakan, nama Prince of Samoa sendiri menjadi identitas yang sarat makna.

“Prince” terinspirasi dari karya Niccolò Machiavelli, Il Principe, namun ditafsirkan ulang bukan sebagai dominasi atas orang lain, melainkan kemampuan manusia untuk menguasai dirinya sendiri.

Sementara “Samoa” merujuk pada buku Coming of Age in Samoa karya Margaret Mead, yang membahas fase pendewasaan manusia sebagai ruang konflik antara nilai, emosi, dan identitas.

Dalam konteks Prince of Samoa, Ikhsan menyebut “Samoa” dimaknai sebagai ruang psikologis dan kultural tempat pergulatan batin berlangsung.

Dari dua rujukan tersebut, Prince of Samoa membangun konsep musik sebagai representasi konflik internal manusia. Distorsi berat dan tempo agresif mencerminkan kekacauan batin, sementara struktur lagu yang terkontrol menjadi simbol upaya menata diri di tengah tekanan emosional.

Prince of Samoa secara tegas mengusung genre Nu Metal. Genre ini dipilih karena dianggap paling jujur dalam menerjemahkan kemarahan terpendam, kegelisahan personal, dan perlawanan untuk bertumbuh.

Prince of Samoa saat manggung di salah satu iven beberapa waktu lalu.
Prince of Samoa saat manggung di salah satu iven beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, di Sumbar Nu Metal relatif belum banyak digarap dibandingkan hardcore atau metalcore. Ruang inilah yang kemudian dilihat Prince of Samoa sebagai celah eksplorasi, bukan semata untuk tampil berbeda, tetapi untuk menemukan medium yang paling relevan dengan keresahan generasi mereka.

Pengaruh band-band besar seperti Linkin Park memang terasa kuat, terutama dalam komposisi vokal antara scream dan rap. Namun, Prince of Samoa menegaskan bahwa pengaruh tersebut dicerna ulang dan dipadukan dengan pengalaman serta konsep mereka sendiri, bukan ditiru secara mentah.

Hingga kini, Prince of Samoa telah merilis empat single. Lagu debut Resonansi Jiwa berbicara tentang kesombongan manusia dan pentingnya kesadaran diri. Disusul Krodha yang mengangkat tema amarah sebagai luapan emosi akibat rasa sakit dan ketidakadilan.

Single ketiga, Nocturnal, mengangkat tema kemalasan sebagai salah satu dosa besar manusia yang perlahan melumpuhkan potensi diri. Sementara Asmodeus N Sarra merepresentasikan dosa nafsu dalam konsep Deadly Sins, dengan nuansa gelap dan agresi musikal yang kuat.

Lebih lanjut Ikhsan menyampaikan, dalam penciptaan lagu, sebagian besar materi Prince of Samoa berangkat dari pengalaman personal para personelnya. Namun, ada pula lagu yang terinspirasi dari cerita orang lain, fenomena sosial, hingga observasi terhadap lingkungan sekitar, yang kemudian diolah menjadi narasi universal.

Di sisi lain, perjalanan bermusik di Sumatera Barat diakui tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan ruang tampil, fragmentasi skena, hingga tuntutan hidup menjadi ujian konsistensi. Meski demikian, Prince of Samoa memilih untuk mandiri dan membangun jalannya sendiri.

Sejumlah panggung lokal dan komunitas underground telah mereka lewati. Salah satu penampilan paling berkesan terjadi di Malaria Gigs, saat membawakan cover Linkin Park “In The End”. Momen tersebut menjadi titik balik arah musikal Prince of Samoa menuju Nu Metal secara utuh.

Di era digital, Prince of Samoa memandang platform streaming dan media sosial sebagai ruang krusial bagi band independen. Namun mereka juga menyadari tantangan algoritma dan banjir rilis, sehingga strategi promosi harus dibangun secara sadar dan terencana.

Soal rilisan fisik, Prince of Samoa menilai format seperti kaset dan piringan hitam masih relevan, namun lebih sebagai objek kultural dan simbolik. Produksi fisik dipandang sebagai proyek kuratorial, bukan medium distribusi utama.

Baca Juga: Agak Laen 2 Geser Jumbo, Jadi Film Indonesia dengan Penonton Terbanyak

Ke depan, Prince of Samoa tengah menyiapkan album penuh bertajuk Deadly Sins yang akan berisi tujuh lagu, masing-masing merepresentasikan tujuh dosa besar manusia. Tiga materi lainnya saat ini tengah berada dalam tahap mixing dan mastering.

Tak berhenti di sana, band ini juga merencanakan proyek lanjutan berupa EP bertema Four Horsemen yang akan mengangkat isu pergulatan batin dalam cakupan yang lebih luas.

Bagi Prince of Samoa, musik bukan sekadar bunyi, melainkan ruang refleksi. Sebuah cara untuk berdamai dengan amarah, kegelisahan, dan proses menjadi manusia yang utuh. (*)

Editor : Adetio Purtama
#musisi #Prince of Samoa #distorsi #sumbar #band #padang #Pergulatan batin #Nu Metal